Tamara Tyasmara Ketakutan Syuting Adegan Tenggelam, Ingat Momen Nahas Anak

Artis Tamara Tyasmara mengungkapkan pengalaman menegangkan saat harus menjalani adegan tenggelam di sinetron terbarunya, Rindu Tak Berujung. Adegan yang dilakukan di kolam renang pada malam hari ini menjadi tantangan besar bagi aktris 30 tahun tersebut, mengingat ketakutannya yang mendalam terhadap air, khususnya kolam renang.

Ketakutan Tamara tidak semata karena takut air biasa, melainkan berkaitan dengan trauma besar yang dialaminya. Pada Januari 2024, putra semata wayangnya, Raden Andante Khalif Pramudityo yang akrab disapa Dante, meninggal dunia setelah ditenggelamkan oleh pacarnya di sebuah kolam renang di kawasan Jakarta Timur. Peristiwa tragis tersebut meninggalkan luka mendalam dan membuat Tamara waspada bahkan ketika harus berada dekat dengan air.

“Saat pertama kali baca skenario, aku kira adegan itu akan menggunakan CGI, tapi ternyata aku harus benar-benar masuk ke air,” ujar Tamara saat ditemui di Bekasi, Jawa Barat. Pengambilan adegan dilakukan larut malam, sekitar pukul 11 malam hingga hampir tengah malam, yang semakin menambah ketakutannya. Ia menyebutkan bahwa dirinya merasa panik karena harus masuk ke air dengan mengenakan gaun pengantin yang berat dan mengembang, membatasi gerakannya sehingga menimbulkan sensasi seperti tenggelam sungguhan.

Ketakutan dan trauma itu tak menghalangi profesionalisme Tamara. Ia fokus menjalani adegan demi menghasilkan penampilan terbaik. Dukungan dari kru produksi menjadi penopang utama saat syuting berlangsung. Sekitar 20 orang kru terlibat menenangkan dan menjamin keselamatan Tamara. Bahkan, tiga kru masuk ke dalam kolam bersama Tamara untuk memberikan rasa aman secara langsung.

“Itu benar-benar membantu aku tenang. Ada tiga orang di dalam kolam yang menemani selama adegan,” ungkap Tamara. Meski sempat panik hebat, Tamara akhirnya berhasil menyelesaikan adegan tersebut dengan baik. Ia menyebut pengalaman ini sebagai salah satu momen paling menantang dalam kariernya.

Adegan tenggelam yang secara teknis mungkin dianggap biasa oleh banyak orang menjadi ujian berat karena latar belakang emosional yang dialami Tamara. Sebagai seorang ibu yang kehilangan anak akibat tragedi serupa, keberanian Tamara menjalani adegan tersebut menunjukkan upaya melawan trauma yang masih membekas dalam dirinya.

Pengalaman ini sekaligus mengingatkan bahwa di balik layar dunia hiburan, para artis kerap menghadapi tantangan pribadi yang tidak ringan, terutama saat harus menjalani profesi mereka yang penuh risiko emosional. Tamara menjadi contoh nyata bagaimana seorang artis harus mengelola trauma terdalam dan tetap mengedepankan profesionalisme demi karya seni.

Selain itu, dukungan yang kuat dari tim produksi juga menegaskan pentingnya keamanan dan perhatian khusus saat melakukan adegan yang berisiko, terutama yang melibatkan air dan situasi berbahaya lainnya. Langkah tersebut tidak hanya membantu pemeran utama merasa aman tetapi juga memastikan kelancaran proses produksi.

Dalam perjalanan kariernya, Tamara Tyasmara tidak hanya berperan sebagai aktris, melainkan juga sebagai ibu yang berjuang menghadapi kehilangan dan ketakutan. Kesungguhan hatinya untuk menyelesaikan adegan sulit ini menjadi bukti ketabahan seorang seniman yang tetap profesional meski dihantui masa lalu pahit.

Pengalaman ini diharapkan dapat membuka perhatian publik terhadap pentingnya dukungan mental bagi pelaku seni yang menghadapi situasi serupa dan mengingatkan tentang sisi kemanusiaan di balik proses pembuatan karya layar kaca.

Exit mobile version