AKB48, grup idola ternama Jepang, baru-baru ini menggelar sebuah kontes penulisan lagu yang mempertemukan komposer legendaris Yasushi Akimoto dengan versi kecerdasan buatannya, AI Akimoto. Dalam kompetisi tersebut, AI ternyata berhasil mengalahkan sang maestro dalam hal pemilihan lagu favorit penggemar, sebuah pencapaian yang menandai tonggak penting dalam penggunaan teknologi AI di industri musik.
Pada perayaan ulang tahun ke-20 AKB48, Yasushi Akimoto dan AI yang dikembangkan untuk meniru gaya penulisannya masing-masing menciptakan sebuah lagu baru. Penggemar kemudian diminta untuk memberikan suara atas lagu favorit mereka tanpa mengetahui siapa pencipta masing-masing lagu. Lagu yang diciptakan AI, berjudul Omoide Scroll, unggul dengan selisih lebih dari 3.000 suara. Total suara yang masuk adalah 24.760, dimana AI meraih 14.225 suara dan Akimoto memperoleh 10.535 suara. Hasil ini diumumkan secara resmi melalui siaran televisi Jepang, membuat Akimoto terkejut dan menyatakan, “Apa? Bercanda!”.
Yasushi Akimoto adalah sosok kunci dalam dunia musik pop Jepang dengan rekam jejak karya yang sudah terjual lebih dari 100 juta kopi. Ia dikenal luas sebagai pencipta AKB48 serta berbagai spin-off yang mendominasi industri hiburan Jepang. Kontes ini merupakan ujian terhadap kemampuan AI Google Gemini, yang dilatih secara khusus untuk meniru gaya Akimoto mulai dari cara menulis esai hingga teknik penulisan liriknya. AI tidak hanya menciptakan lirik, tetapi juga memilih 43 anggota AKB48 yang akan menyanyikan lagu tersebut sekaligus merancang koreografinya.
Sementara Akimoto menulis lagu ciptaannya secara manual, kedua karya tersebut kemudian dipresentasikan ke publik tanpa pengungkapan siapa yang menjadi penulisnya. Langkah ini dilakukan untuk memberikan penilaian yang objektif dari sisi kreativitas lagu, bukan dari reputasi pembuatnya. Lagu Omoide Scroll yang dibuat AI kini resmi dirilis sebagai single ke-67 AKB48 dan tersedia di berbagai layanan streaming. Sedangkan lagu ciptaan Akimoto yang berjudul Cécile telah dihapus dari YouTube.
Kontes ini menarik perhatian besar dari industri musik Jepang. Pengaruhnya akan diuji lewat tangga lagu Oricon, yang mencatat bahwa 53 single terakhir AKB48 selalu menduduki posisi nomor satu. Jika lagu AI gagal mempertahankan rekor tersebut, hal ini bisa diartikan sebagai bentuk penolakan publik terhadap penerapan teknologi kecerdasan buatan dalam proses kreatif musik.
Di sisi lain, kekalahan Akimoto disikapi dengan sportif. Dalam siaran langsung ia mengaku kecewa, “Sayang sekali, saya menulisnya dengan sekuat tenaga.” Namun, ia juga menunjukkan penghargaan terhadap kemampuan teknologi yang mampu menambang data dan menemukan “faktor persekutuan maksimum” dalam penulisan lagu. Hiburan dan dukungan juga datang dari musisi jazz sekaligus mantan anggota AKB48, Hiromi Uehara dan Sashihara Rino, yang bahkan menyarankan adanya pertandingan ulang, yang disambut Akimoto dengan tawa.
Peristiwa ini memberikan gambaran jelas tentang betapa pesatnya pengaruh AI dalam industri kreatif, khususnya musik pop. Penggunaan teknologi AI bukan saja sebagai alat bantu, tetapi kini mampu bersaing bahkan mengungguli pencipta manusia dalam hal kreativitas dan daya tarik penggemar. Ke depan, respons pasar terhadap lagu AI ini akan sangat menentukan posisi teknologi dalam dunia hiburan dan musik di Jepang maupun secara global.
Dengan pemanfaatan AI yang semakin canggih, kalangan kreator dan industri musik perlu memikirkan strategi yang seimbang antara inovasi teknologi dan sentuhan manusia dalam proses penciptaan karya. Kontes penulisan lagu AKB48 ini menjadi salah satu eksperimen penting yang dapat membuka jalan bagi kolaborasi baru antara manusia dan mesin di ranah seni dan hiburan.





