Aktor laga Indonesia, Joe Taslim, mengungkapkan bahwa koreografi pertarungan dalam film terbarunya, The Furious, merupakan yang paling kompleks dan rumit pernah ia jalani dalam kariernya. Film ini, yang disutradarai oleh Kenji Tanigaki, dikenal sebagai pengarah aksi berpengalaman terutama dalam adaptasi komik dan animasi Jepang populer seperti Rurouni Kenshin.
Menurut Joe Taslim, gaya koreografi dalam The Furious berbeda dari film-film Hollywood maupun Indonesia yang pernah ia jalani. “Kalau Kenji itu kompleks dalam artian, banyak manuver,” ujarnya saat diwawancara pada Kamis (18/9). Ia menjelaskan bahwa pendekatan Kenji mengedepankan gerakan kaki yang cepat dan bermanuver, yang membuat setiap adegan aksi terasa dinamis dan penuh tantangan.
Joe kemudian membandingkan gaya koreografi The Furious dengan film-film lain yang dibintanginya. Sutradara Gareth Evans dalam The Raid mengusung pendekatan realistis dengan pertarungan yang grounded atau membumi, sedangkan Timo Tjahjanto menggunakan gaya yang lebih stylish dan komikal. Sebaliknya, Kenji Tanigaki membawa pengaruh gaya Hongkong yang berciri khas, mengadaptasi teknik yang mengharuskan aktor melakukan langsung hampir seluruh aksi pertarungan tanpa menggunakan stuntman, seperti yang sering terlihat pada film-film Jackie Chan.
Film The Furious juga menampilkan deretan aktor laga dari Asia, termasuk Joe Taslim dari Indonesia, Jeeja Yanin dari Thailand yang dikenal lewat film Chocolate, serta aktor lainnya seperti Yang Enyu, Brian Le, Joey Iwanaga, dan Yayan Ruhian. Kehadiran mereka menambah keotentikan dan kekayaan aksi laga yang disajikan.
Selain aspek pertarungan, Joe Taslim menyebut bahwa The Furious mengangkat tema sosial yang cukup berat, yaitu sisi kelam aktivitas perdagangan manusia yang turut melibatkan anak-anak sebagai korban. Dengan tema ini, film tersebut berusaha menyampaikan pesan moral sekaligus menampilkan aksi laga yang intens dan penuh energi.
Joe Taslim juga menegaskan bahwa dalam proses produksi, para aktor dituntut untuk bekerja keras, baik dalam latihan maupun pengambilan gambar. Ia menyatakan, “Jadi tim menuntut aktor untuk kerja keras. Latihannya kerja keras, syuting juga kerja keras, jadi kita harus melakukan semuanya. Aku juga jadi lebih senang karena kreativitas sama, rasa puasnya lebih banyak.” Pernyataan ini menunjukkan dedikasi yang besar dari tim produksi dan para pemeran dalam mewujudkan kualitas film.
Secara keseluruhan, The Furious diprediksi akan menjadi tontonan menarik bagi para penggemar film laga yang mengapresiasi koreografi pertarungan kompleks dan teknik akting langsung tanpa banyak menggunakan efek CGI atau stuntman. Dengan penggabungan budaya dan teknik dari berbagai wilayah Asia, film ini menghadirkan sesuatu yang segar dan berbeda di era perfilman laga saat ini.
Dalam konteks industri film Indonesia, keterlibatan Joe Taslim dalam proyek berskala internasional ini juga memberikan nilai tambah dan membuktikan kualitas aktor Indonesia di mata dunia. Penampilan dan kerja keras Joe menunjukkan bahwa aktor lokal mampu bersaing dan tampil dengan standar global, terutama di genre aksi yang memerlukan kemampuan fisik dan koreografi tinggi.
Film The Furious dapat menjadi inspirasi bagi sineas dan aktor di Indonesia serta Asia dalam mengembangkan film laga yang tidak hanya mengandalkan aksi semata, tetapi juga storytelling yang kuat dan koreografi yang detail dan inovatif. Hal ini membuka peluang lebih luas untuk produksi film berkualitas dengan nilai ekspor tinggi yang dapat dikenal secara internasional.
