Rilis Buku Solitaire, Pamungkas Ungkap Insiden Gesek Ponsel Penggemar ke Alat Vital

Pamungkas, penyanyi sekaligus penulis lagu ternama, baru saja merilis buku berjudul Solitaire yang merangkum perjalanan kariernya sejak 2017. Dalam buku tersebut, ia secara terbuka membahas insiden kontroversial yang viral pada 2022, yaitu momen ketika dirinya menggesekkan ponsel penggemar ke bagian alat vital saat konser. Peristiwa ini bukan hanya menjadi sorotan publik, tetapi juga menjadi titik balik penting dalam perjalanan pribadi dan profesional Pamungkas.

The Phone Incident: Titik Balik Bermakna

Insiden yang disebut Pamungkas sebagai “The Phone Incident” itu terjadi pada 8 Oktober 2022 di Bengkel Night Park, SCBD, Jakarta. Saat itu, aksi fan service yang awalnya dianggap ringan berubah menjadi perbincangan luas setelah video kejadian tersebar di media sosial. Dalam residensi musik Solitaire di Krapela, Jakarta, 18 September 2025 lalu, Pamungkas mengaku bahwa peristiwa tersebut adalah “alarm besar” dalam hidupnya.

“Dari sudut pandang gue, itu jadi momen penting. Gue menulisnya dan menyebutnya sebagai The Phone Incident,” ujar Pamungkas secara jujur. Ia mengungkapkan bahwa reaksi keras dari orang-orang terdekatnya menjadi pelajaran utama. “Ternyata kita butuh diomelin. Orang-orang yang cinta dan kebetulan care, mereka yang paling pertama bilang, ‘lu dongo sih, ngapain lu kayak gitu.’ Gue tahu, gue butuh itu,” tambahnya.

Pamungkas juga mengungkapkan bahwa tekanan mental yang sudah bertumpuk selama bertahun-tahun membuatnya kehilangan kendali diri. “I’m losing the control, self-control, self-respect, name it, losing it. Itu seperti tumpukan pressure yang meledak dalam sepersekian detik,” jelasnya. Kesadaran ini lantas membawanya untuk merenungkan kembali sikap dan tindakan yang selama ini diambil.

Dampak Insiden terhadap Kesehatan Mental dan Karier Musik

Pasca-insiden, Pamungkas sempat berada dalam fase yang sangat rentan. Ia bahkan takut kehilangan hasrat dan keinginan untuk bermusik. Beban ini juga berimbas pada kesehatannya secara fisik. Dalam perjalanan tur Birdy Tour, Pamungkas mengaku secara jujur bahwa secara mental dirinya tidak siap menghadapi tekanan tersebut dan bahkan didiagnosis mengalami GERD, penyakit yang muncul karena stres.

“Pertama kali dalam hidup gue kena GERD. Dokter bilang itu karena banyak pikiran,” ungkapnya. Pada titik ini, Pamungkas mencoba untuk melakukan rekonsiliasi dengan musik melalui proses kreatif yang menghasilkan album Hardcore Romance. Album ini menjadi representasi perjalanan dirinya untuk ‘jatuh cinta lagi’ dengan musik.

Dalam album tersebut, ia benar-benar menikmati proses pembuatan lagu dan merasa bahagia. “Ini bukan hanya kebahagiaan biasa, tapi kebahagiaan yang berbeda. Gue benar-benar menikmati setiap detiknya dan itu membuat gue jatuh cinta lagi dengan musik,” ungkap Pamungkas dengan penuh semangat.

Monumental Checkpoint: Refleksi dan Perbaikan Diri

Kini, Pamungkas menyebut insiden tersebut sebagai monumental checkpoint, peristiwa penting yang memaksanya untuk melakukan refleksi mendalam dan memastikan dirinya tetap berada di jalur yang benar sebagai seorang musisi. Ia menyadari bahwa tanpa insiden itu, mungkin dirinya akan menjadi lebih destruktif.

“Kalau nggak ada itu, mungkin gue akan lebih destruktif. Sekarang gue mengerti kenapa insiden itu harus terjadi,” tutupnya dengan penuh pemahaman.

Kisah perjalanan Pamungkas menunjukkan bahwa kegagalan dan kesalahan dapat menjadi momentum untuk introspeksi dan transformasi positif. Melalui pengakuan jujur dan refleksi mendalam dalam buku Solitaire, ia tidak hanya berbagi pengalaman pribadi, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menghadapi dan belajar dari tekanan mental dalam dunia karier seni yang tidak selalu mudah.

Artikel ini menyoroti pentingnya keseimbangan antara ekspektasi publik dan tekanan pribadi seorang seniman, serta bagaimana keterbukaan dalam mengakui kesalahan dapat membantu memulihkan integritas dan semangat berkarya.

Berita Terkait

Back to top button