Kejanggalan Penemuan Orang Hilang Disorot Coki Pardede: Absurd Banget!

Komika Coki Pardede mengungkapkan kejanggalan dalam penemuan salah satu korban yang dilaporkan hilang setelah aksi unjuk rasa di Jakarta pada akhir Agustus 2025. Coki menyoroti cerita penemuan Bima Permana Putra yang dianggapnya “absurd” karena hilang di wilayah Kwitang, Jakarta Pusat, namun ditemukan di Malang, Jawa Timur.

Dalam sebuah video yang diunggah ke akun Instagram pribadinya pada Sabtu, 20 September 2025, Coki menuturkan bahwa kronologi tersebut terasa tidak masuk akal. Menurutnya, jarak dan situasi antara lokasi hilang dan lokasi ditemukan terlalu jauh dan membingungkan, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang kebenaran cerita tersebut. “Menurut gue secara pribadi, absurd banget ada orang hilang di Kwitang, terus tiba-tiba dia ditemuin lagi entrepreneur barongsai di daerah Malang,” ujarnya.

Meski demikian, Coki mengaku lega dan turut bahagia karena Bima telah ditemukan dalam kondisi baik dan kembali berkumpul dengan keluarganya. Namun, ia secara tegas mengingatkan publik agar tidak teralihkan pada satu kasus saja. Coki mengajak masyarakat untuk fokus pada dua orang lain yang juga dilaporkan hilang pascaunjuk rasa, yakni Muhammad Farhan Hamid dan Reno Syahputradewo, yang hingga kini belum ditemukan.

“Lo sadar nggak, masih ada dua orang lagi yang emang beneran hilang, men. Ada Mas Farhan dan Mas Reno,” tegas Coki. Ia menyesalkan perdebatan yang viral di media sosial, terutama di TikTok, yang menurutnya hanya mengalihkan perhatian dari isu yang lebih penting, yaitu pencarian dua orang tersebut. Menurutnya, diskusi yang tidak produktif itu tidak ada gunanya dan justru mengaburkan fokus utama masyarakat.

Coki yang dikenal dengan gaya komedi gelapnya dan sering dicap sebagai sosok tanpa empati, merasa ironis justru dialah yang menyuarakan pentingnya perhatian pada isu penghilangan orang yang serius. “Dan yang lebih absurd lagi, kenapa yang paham ini Coki Pardede, sesosok yang katanya adalah orang paling nggak punya empati di Indonesia ini,” ungkapnya.

Fenomena hilangnya beberapa mahasiswa dan aktivis setelah demonstrasi besar-besaran yang berlangsung di Jakarta kini menjadi sorotan. Menurut KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), kasus ini diduga merupakan penghilangan paksa. Sejauh ini, hanya Bima Permana Putra yang telah ditemukan, sementara keberadaan Muhammad Farhan Hamid dan Reno Syahputradewo masih misterius dan menjadi perhatian banyak pihak.

Dalam upaya memberikan pemahaman yang lebih baik kepada publik, Coki menyerukan agar masyarakat tidak terlalu larut dalam perdebatan yang tidak berujung dan mempertimbangkan untuk mengedepankan empati dan tindakan nyata guna membantu pencarian dua orang yang masih hilang tersebut. Pendekatan yang lebih fokus, menurutnya, jauh lebih bermanfaat demi keadilan dan kepastian bagi keluarga yang terdampak.

Kasus ini juga mengingatkan pentingnya transparansi dan keterbukaan informasi dari pihak berwenang dalam menangani laporan orang hilang. Keterlibatan berbagai elemen masyarakat dan dukungan media sangat dibutuhkan agar isu ini tidak berlalu begitu saja. Keterlibatan tokoh publik seperti Coki Pardede menjadi penting untuk mengangkat kembali perhatian publik dan menjaga konsistensi dalam proses pencarian korban.

Dengan banyaknya perhatian yang tergeser ke kasus yang sudah terpecahkan, Coki mengajak semua pihak untuk memprioritaskan pencarian Farhan dan Reno agar status mereka dapat segera diketahui. Hal ini sekaligus sebagai upaya menjaga kemanusiaan dan menghindari ketidakadilan yang mungkin terjadi jika kasus mereka diabaikan.

Sebagaimana dijelaskan oleh Coki Pardede, fenomena ini menunjukkan bagaimana dinamika sosial dan media dapat membentuk persepsi publik sehingga fokus utama sering kali tergeser ke hal-hal yang dianggap lebih sensasional ketimbang pemberitaan yang benar-benar penting. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi semua pihak yang berkepentingan dalam penanganan kasus orang hilang di Indonesia hari ini.

Exit mobile version