Film Pangku berhasil meraih empat penghargaan bergengsi di ajang Busan International Film Festival (BIFF) 2025. Prestasi ini menjadi awal yang gemilang bagi debut Reza Rahadian sebagai sutradara, setelah sebelumnya dikenal luas sebagai aktor ternama di Indonesia.
Keempat penghargaan yang diperoleh film Pangku meliputi Face of the Future Award, FIPRESCI Award, KB Vision Audience Award, serta Bishkek International Film Festival – Central Asia Cinema Award. Penghargaan tersebut menunjukkan apresiasi tinggi dari berbagai kalangan dan mengukuhkan posisi film ini di kancah perfilman internasional.
Dalam kesempatan pidato penerimaan penghargaan yang dibagikan melalui akun Instagram resmi @filmpangku pada Kamis, 25 September 2025, Reza Rahadian menyampaikan dedikasinya. Ia mendedikasikan semua penghargaan ini untuk para ibu di seluruh dunia yang berjuang demi kebahagiaan anak-anak mereka, khususnya para ibu tunggal yang menghadapi banyak tantangan sendiri. Reza berharap film ini dapat menyentuh hati dan memberikan penghargaan atas peran ibu dalam keluarga.
Sementara itu, aktor Fedi Nuril yang juga bermain dalam film Pangku turut menyampaikan rasa syukurnya melalui akun X (sebelumnya Twitter). Ia dengan nada bercanda menyatakan bahwa usaha menggunakan eyeliner saat menghadiri BIFF ternyata tidak sia-sia. Penampilan Fedi yang mengenakan eyeliner kemudian menjadi perbincangan hangat di media sosial, meski sempat menerima berbagai komentar miring. Namun, Fedi menanggapi kritik tersebut dengan santai dan bahkan membalas beberapa komentar netizen dengan sikap yang ramah.
Fedi Nuril sebelumnya dikenal luas sebagai pemeran di film-film populer Indonesia, dan keberaniannya memunculkan penampilan tak biasa di festival ini semakin menambah warna pada keberhasilan film Pangku.
Sinopsis Film Pangku
Film Pangku mengangkat kisah yang berlatar belakang fenomena “kopi pangku” di kawasan Pantura. Cerita berfokus pada Sartika, seorang ibu muda yang sedang hamil dan harus membesarkan anak laki-lakinya seorang diri. Sartika menghadapi berbagai kesulitan untuk menghidupi keluarganya.
Di tengah perjalanan hidupnya, Sartika bertemu dengan Bu Maya, seorang wanita yang memiliki kedai kopi di Pantura. Hubungan mereka mulai terjalin ketika Bu Maya meminta Sartika untuk bekerja sebagai pelayan di kedai tersebut. Pergolakan batin Sartika pun muncul ketika ia mulai menimbang pilihan dan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu sekaligus pekerja.
Film ini tidak hanya menampilkan kisah drama keluarga yang intim, tetapi juga membawa isu sosial yang relevan mengenai perjuangan ibu tunggal dan peran perempuan dalam masyarakat. Perpaduan cerita yang kuat, akting memukau, dan pengambilan gambar yang apik menjadi modal utama film ini untuk meraih penghargaan di festival internasional.
Penghargaan yang didapat oleh film Pangku tidak hanya mengangkat nama sineas Indonesia di panggung dunia, namun juga membawa pesan kuat tentang penghargaan terhadap ibu dan keluarga. Keberhasilan ini juga menandai babak baru karier Reza Rahadian sebagai sutradara sekaligus membuktikan bahwa sinema Indonesia mampu bersaing secara global.
Dengan dukungan kritik dan apresiasi dari penonton internasional, film Pangku berpotensi mendapatkan perhatian lebih luas di masa mendatang. Festival BIFF yang diikuti oleh ratusan film dari berbagai negara menjadi ajang yang tepat untuk mengangkat karya-karya berkualitas seperti Pangku ke level dunia.
Film ini juga fokus pada realitas sosial dengan tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga mampu menggerakkan hati penonton dari berbagai kalangan. Keberanian Reza Rahadian sebagai sutradara dan para pemainnya seperti Fedi Nuril, Claresta Taufan, dan Christine Hakim memberikan warna tersendiri dalam perjalanan film ini.
Kesuksesan film Pangku di BIFF 2025 diharapkan menjadi inspirasi bagi sineas muda Indonesia untuk terus berkarya dan menembus pasar internasional dengan karya-karya yang orisinal dan menyentuh. Dukungan masyarakat dan kritikus pun menjadi energi positif untuk perkembangan perfilman nasional.





