Ratusan selebriti Hollywood baru-baru ini bersatu untuk meluncurkan kembali Committee for the First Amendment, sebuah kelompok yang bertujuan memperjuangkan kebebasan berbicara dan berekspresi di Amerika Serikat. Gerakan ini menandai kembalinya solidaritas para seniman terhadap ancaman pembungkaman yang dirasakan di tengah meningkatnya tekanan terhadap kebebasan sipil di negeri Paman Sam.
Committee for the First Amendment pertama kali didirikan pada era pasca-Perang Dunia II, tepatnya pada masa McCarthy di tahun 1940-an hingga 1950-an. Kala itu, pemerintah Amerika Serikat menuding sejumlah seniman sebagai simpatisan komunisme dan kemudian melakukan penindasan politik kepada mereka. Henry Fonda, aktor legendaris dan ayah dari Jane Fonda, termasuk salah satu pendiri organisasi ini. Kini, putrinya yang berusia 87 tahun, Jane Fonda, memimpin kelahiran kembali komite tersebut dengan dukungan lebih dari 550 anggota dari berbagai kalangan hiburan dan seni.
Peluncuran kembali komite tersebut diumumkan melalui akun Instagram resmi @1acommittee pada Rabu (1/10). Dalam pernyataan yang disampaikan, mereka menegaskan bahwa organisasi ini bukan sekadar kelompok formal, melainkan sebuah gerakan kolektif untuk membela hak-hak konstitusional warga Amerika, terutama kebebasan berbicara yang kini menghadapi tekanan signifikan dari berbagai kekuatan politik.
Era McCarthy menjadi kisah kelam di mana banyak warga, mulai dari pejabat, akademisi, hingga seniman, ditargetkan dan diintimidasi karena pandangan politik mereka. “Mereka dimasukkan ke dalam daftar hitam, dilecehkan, dan bahkan dipenjara,” tulis pernyataan tersebut. Jane Fonda sendiri menyatakan bahwa masa kini terasa paling menakutkan bagi dirinya, walaupun ia telah mengalami berbagai peristiwa bersejarah dan perlawanan seumur hidupnya.
Komite yang dihidupkan kembali ini diisi oleh sejumlah figur publik ternama dalam industri hiburan seperti sutradara Spike Lee, Barry Jenkins, dan J.J. Abrams; musisi Barbra Streisand, John Legend, dan Billie Eilish; serta aktor Anne Hathaway, Mark Ruffalo, dan Kerry Washington. Mereka sepakat bahwa melindungi kebebasan berekspresi bukanlah isu partisan melainkan sebuah perjuangan fundamental bagi demokrasi.
Salah satu pemicu pembentukan kembali komite ini adalah insiden penangguhan sementara program Jimmy Kimmel Live! pada bulan September. ABC menghentikan produksi acara tersebut setelah tekanan dari Federal Communications Commission (FCC) yang berpeluang mencabut lisensinya, menyusul komentar kontroversial Kimmel mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh Charlie Kirk. Setelah mendapat protes keras dari serikat pekerja SAG-AFTRA, American Civil Liberties Union (ACLU), dan para artis, ABC akhirnya memutuskan untuk melanjutkan penayangan program tersebut dalam waktu lima hari.
Dalam surat terbuka yang ditulis Jane Fonda, ia mengekspresikan pentingnya solidaritas sebagai cara untuk melawan rasa takut dan penindasan: “Satu-satunya hal yang pernah berhasil—berkali-kali—adalah solidaritas: mengikat bersama, menemukan keberanian dalam jumlah yang terlalu besar untuk diabaikan, dan membela satu sama lain.” Fonda menegaskan bahwa tujuan gerakan ini bukan hanya membentuk organisasi besar, melainkan menyalakan api pergerakan yang kuat demi menjaga kebebasan berekspresi di tengah ancaman pembungkaman.
Gerakan ini mendapat perhatian luas karena melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh di industri hiburan yang sudah lama berjuang untuk hak asasi manusia dan kebebasan sipil. Dengan membangkitkan semangat dari masa lalu sekaligus menyatukan kekuatan publik figur masa kini, Committee for the First Amendment berusaha memastikan suara para seniman dan masyarakat tidak hilang ditelan oleh tekanan politik maupun sensor.
Dukungan dari lebih dari 550 artis ini diharapkan dapat menjadi pengingat kuat bagi publik dan pemerintah bahwa kebebasan berbicara harus dijaga sebagai fondasi bagi kehidupan demokrasi yang sehat. Solidaritas dalam mempertahankan hak-hak konstitusional juga menjadi pesan utama yang mereka sampaikan melalui komite ini, sebagai penyambung asa bagi generasi mendatang dalam menghadapi tantangan zaman yang baru.
Source: www.medcom.id
