Meghan Markle, Duchess of Sussex, menghadiri Paris Fashion Week sebagai tamu di peragaan busana Balenciaga pada Sabtu, 4 Oktober 2025. Namun, kehadirannya di acara bergengsi tersebut memicu gelombang kritik dari publik dan netizen yang menilai sikapnya bertentangan dengan klaim dirinya sebagai pembela hak anak-anak. Kontroversi ini muncul karena Balenciaga sebelumnya sempat menerima kecaman global akibat kampanye iklan yang dinilai mengekspos dan memanfaatkan anak-anak secara tidak etis.
Dalam penampilannya, Meghan memilih busana tunik putih lengan panjang lengkap dengan jubah dan celana panjang senada yang memberikan kesan anggun dan elegan. Momen ini menjadi debutnya di Paris Fashion Week sejak meninggalkan keluarga kerajaan. Namun, alih-alih mendapat pujian, sang Duchess justru menjadi sorotan negatif setelah diketahui hadir pada peragaan busana rumah mode yang tengah tersandung isu serius.
Kasus yang membelit Balenciaga bermula pada 2022 ketika dua kampanye iklan mereka menuai kecaman keras. Salah satunya menampilkan anak-anak menggandeng boneka beruang yang memakai kostum bergaya bondage, sebuah tema yang dikecam sebagai pornografi anak dan pelecehan. Keterlibatan anak-anak dalam iklan tersebut menimbulkan reaksi negatif luas dari berbagai kalangan, termasuk aktivis sosial dan masyarakat umum.
Kehadiran Meghan Markle di acara yang sama dianggap netizen sebagai tindakan inkonsisten. Banyak yang menuding sang Duchess munafik karena selama ini ia kerap menyuarakan pentingnya melindungi dan memperjuangkan kesejahteraan anak-anak. Beberapa komentar keras netizen di platform Instagram antara lain menyebut ia mendukung kampanye “menjijikkan” yang melibatkan anak-anak dan mempertanyakan bagaimana seorang ibu bisa membiarkan dirinya tampil di acara tersebut.
Berikut beberapa kritik yang disampaikan netizen:
1. “Duchess yang munafik, seorang wanita yang mengaku membela kepentingan anak-anak justru pergi ke peragaan busana yang menjalankan kampanye menjijikkan melibatkan anak-anak.”
2. “Balenciaga dengan pornografi anak, pelecehan, dan pedofilia mereka, memperlihatkan betapa Meghan hanya peduli pada dirinya sendiri dan siapa pun yang memberinya sorotan.”
3. “Bagus sekali @meghan datang ke acara sebuah merek yang menseksualisasi anak-anak.”
Menanggapi kontroversi ini, seorang juru bicara Meghan menyatakan bahwa kehadiran sang Duchess tidak lebih dari bentuk dukungan terhadap sahabatnya, Pierpaolo Piccioli, yang resmi menjabat sebagai direktur kreatif Balenciaga sejak Juli 2025. Hal ini menurut mereka menjadi alasan utama Meghan menghadiri fashion show tersebut tanpa maksud lain.
Balenciaga sejak kontroversi iklan tersebut terus berusaha memperbaiki citra mereknya. Namun, dampak negatif yang masih menghinggapi rumah mode ini sangat kuat sehingga setiap sosok yang berafiliasi dengan mereka kerap menuai reaksi beragam. Keputusan Meghan yang memilih hadir dalam acara Balenciaga dinilai oleh beberapa pengamat sebagai langkah yang riskan mengingat sensitivitas isu perlindungan anak di tengah masyarakat global.
Paris Fashion Week sendiri merupakan salah satu ajang mode paling prestisius di dunia, tempat rumah-rumah mode terkenal meluncurkan koleksi terbaru mereka. Kehadiran figur publik seperti Meghan Markle selalu menarik perhatian tinggi, baik dari kalangan media, penggemar, maupun kritikus. Namun, dalam kasus kali ini, pilihan Meghan untuk berada di peragaan busana Balenciaga justru mengundang kontradiksi yang menggelinding ke ranah media sosial dan pemberitaan internasional.
Isu etika dan tanggung jawab sosial dalam industri fesyen menjadi topik yang makin mendapat sorotan, termasuk bagaimana seorang selebritas berpengaruh seperti Meghan bisa berperan dalam mendukung atau mengkritik sebuah merek. Kejadian ini menambah dinamika baru terkait hubungan antara figur publik, mode, dan persepsi publik terhadap nilai-nilai yang mereka usung.
Dengan latar belakang kontroversi yang membelit Balenciaga dan kritik pedas terhadap Meghan Markle, peristiwa ini menggambarkan kompleksitas dalam dunia hiburan dan mode yang tidak hanya berkaitan dengan gaya, tetapi juga persoalan moral dan tanggung jawab sosial yang semakin dipertanyakan oleh publik luas.
Source: www.beritasatu.com





