Zelda Williams, putri dari almarhum aktor legendaris Robin Williams, melayangkan permintaan tegas kepada publik agar menghentikan pengiriman video hasil kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan sosok ayahnya. Melalui unggahan di Instagram Stories pada Selasa (8/10), Zelda secara langsung menyatakan rasa keberatannya terhadap tren pemanfaatan teknologi AI untuk “menghidupkan kembali” mendiang ayahnya.
Dalam pernyataannya, Zelda dengan tegas menulis, “Tolong, berhenti kirimkan video AI tentang Ayah. Jangan pikir aku ingin melihatnya atau bisa memahaminya — aku tidak dan tidak akan pernah.” Ia menegaskan jika pesan tersebut bukan hanya mewakili perasaan pribadinya, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan untuk almarhum dan seluruh keluarga. “Kalau niatmu hanya ingin men-troll, aku sudah pernah menghadapi yang lebih buruk. Tapi kalau kamu punya sedikit rasa hormat, berhentilah melakukan ini – untuk dia, untukku, untuk semua orang,” tambahnya.
Penggunaan AI Dinilai Mengganggu dan Tidak Menghormati Warisan
Zelda, yang kini berkarier sebagai sutradara film, menyebut praktik menghidupkan kembali figur publik yang sudah meninggal dengan teknologi AI sebagai sesuatu yang “mengganggu” dan tidak menghargai warisan mereka. Ia menegaskan bahwa mendiang ayahnya, yang dikenal sebagai aktor berbakat dan pemenang Oscar, tidak akan pernah menyetujui penggunaan seperti ini. Robin Williams wafat pada 2014 pada usia 63 tahun dengan latar belakang perjuangan melawan depresi yang berat.
Kontroversi Penggunaan AI Menghidupkan Sosok Mendiang
Ini bukan kali pertama Zelda menentang penggunaan AI untuk meniru atau menampilkan ayahnya. Tahun lalu, dia sempat mengkritik praktik penggunaan suara AI yang meniru Robin Williams sebagai hal yang “sangat mengganggu secara pribadi”. Zelda juga mengingatkan masyarakat tentang dampak negatif tren ini terhadap dunia seni dan budaya warisan yang seharusnya dijaga dengan hormat.
Dalam postingan terbarunya, Zelda mengeluarkan kritik keras terhadap tren media sosial yang memanfaatkan AI untuk “menghidupkan kembali” orang yang telah meninggal. Ia mengatakan, “Melihat warisan orang sungguhan diperas hanya karena ‘mirip suara dan wajahnya’, lalu dijadikan konten TikTok menjijikkan, itu benar-benar keterlaluan.” Zelda menilai tindakan tersebut bukanlah seni, melainkan sebuah eksploitasi yang semata-mata didorong oleh popularitas dan pencarian perhatian digital.
Kritik Terhadap Pandangan AI sebagai Masa Depan
Lebih lanjut, Zelda memberikan sindiran terhadap anggapan yang menganggap AI sebagai masa depan dalam industri hiburan. “AI bukan masa depan, ia cuma mendaur ulang masa lalu," tulisnya. "Kita sedang menelan ulang kotoran digital yang sama, sementara orang-orang di puncak terus tertawa dan mengeruk keuntungan.” Pernyataan ini menggarisbawahi kekhawatirannya bahwa teknologi AI sering kali dimanfaatkan oleh segelintir orang dengan tujuan komersial tanpa memperhatikan dampak budaya dan emosional bagi keluarga atau penggemar.
Konteks Lebih Luas Tren “Aktor AI” dan Respons Industri
Kemarahan Zelda muncul di tengah perdebatan yang lebih luas tentang kehadiran “aktor AI” di industri hiburan. Contohnya adalah karakter digital seperti Tilly Norwood, ciptaan aktris Belanda Eline Van der Velden yang disebut-sebut sebagai “Scarlett Johansson berikutnya”. Namun, serikat aktor terbesar di Amerika Serikat, SAG-Aftra, mengecam tren ini karena dianggap menghilangkan esensi kemanusiaan dalam seni peran.
Penggunaan AI yang semakin meluas dalam produksi konten, khususnya konten yang meniru identitas orang nyata, menjadi sumber perdebatan tentang etika dan penghormatan terhadap figur publik. Zelda Williams menjadi salah satu suara paling vokal yang menolak penggunaan teknologi ini tanpa persetujuan dan penghormatan yang layak.
Sebagai putri dari Robin Williams, Zelda terus berupaya mengingatkan khalayak agar lebih berhati-hati dan sensitif dalam memanfaatkan teknologi agar tidak melanggar batas kesopanan dan menghormati warisan para seniman yang telah meninggal dunia.
Source: mediaindonesia.com
