Tak Mau Seperti Ibu, Angelina Jolie Tak Menyesal Angkat Ovarium

Aktris Hollywood Angelina Jolie mengungkapkan bahwa ia sama sekali tidak menyesali keputusan besar yang diambilnya untuk menjalani operasi pengangkatan ovarium sekaligus mastektomi ganda. Langkah ini dilakukan sebagai upaya pencegahan kanker, terutama setelah ia mengetahui keberadaan gen BRCA langka dalam tubuhnya yang meningkatkan risiko kanker payudara dan ovarium.

Dalam sebuah wawancara terbaru dengan majalah Hello, Angelina menjelaskan bahwa ia melakukan mastektomi ganda sekitar satu dekade lalu sebagai upaya preventif. “Saya memiliki gen BRCA, jadi saya memilih untuk menjalani mastektomi ganda satu dekade yang lalu,” ujarnya, dilansir dari Page Six pada Sabtu, 11 Oktober 2025. Keputusan ini juga didasarkan pada pengalaman pribadinya menghadapi kematian ibu dan neneknya akibat kanker.

Angelina Jolie mengungkap bahwa ibunya, Marcheline Bertrand, meninggal pada usia 56 tahun setelah berjuang melawan kanker payudara sekaligus kanker ovarium. Kehilangan sang ibu dan nenek pada usia yang relatif muda membuat Angelina semakin mantap mengambil langkah drastis untuk menjaga kesehatannya. Ia menyatakan, “Saya memilih menjalani operasi itu karena saya kehilangan ibu dan nenek saya pada usia yang sangat muda. Kemudian saya juga menjalani pengangkatan ovarium, karena kanker ovarium itulah yang merenggut nyawa ibu saya.”

Langkah Angelina ini menjadi contoh penting mengenai bagaimana seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker dan membawa gen risiko tinggi mengambil tindakan pencegahan medis yang serius. Gen BRCA sendiri dikenal sebagai faktor genetik yang dapat memicu mutasi pada sel-sel tubuh sehingga memicu kanker, terutama kanker payudara dan ovarium. Pemeriksaan genetik untuk mengidentifikasi mutasi BRCA kini banyak dilakukan bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga kanker sebagai langkah awal melakukan pencegahan.

Mastektomi ganda adalah prosedur pengangkatan kedua payudara untuk mengurangi risiko munculnya kanker. Prosedur ini cukup berat dan memiliki efek samping tersendiri, akan tetapi sebagai tindakan pencegahan bagi wanita yang berisiko tinggi, manfaatnya dinilai sangat besar. Begitu pula dengan pengangkatan ovarium yang dilakukan Angelina sebagai bentuk perlindungan terhadap risiko kanker ovarium, yang juga dapat mengancam nyawa seperti yang dialami ibunya.

Angelina Jolie pernah menyatakan bahwa keputusannya untuk menjalani operasi ini bukan sesuatu yang harus diikuti semua orang, melainkan sebuah pilihan pribadi atas dasar pemahaman dan pengalaman yang ia miliki. Ia menegaskan pentingnya setiap individu mendapatkan informasi lengkap dan mempertimbangkan opsi masing-masing. Dalam wawancaranya, ia menyatakan, “Itu pilihan saya. Saya tidak bilang semua orang harus melakukannya seperti itu, tetapi menurut saya penting untuk punya pilihan. Dan saya tidak menyesalinya operasi tersebut.”

Keberanian Angelina Jolie untuk terbuka mengenai kondisi genetika dan tindakan medis yang diambilnya juga memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan kesadaran publik terhadap kanker serta pentingnya deteksi dini dan langkah pencegahan. Ia menjadi inspirasi bagi banyak wanita agar lebih berani memeriksakan diri dan tidak takut melakukan tindakan medis preventif demi kesehatan jangka panjang.

Berdasarkan data dari American Cancer Society, wanita dengan mutasi gen BRCA memiliki risiko kanker payudara sekitar 45-65 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan wanita pada umumnya yang hanya memiliki risiko sekitar 12 persen. Begitu pula risiko kanker ovarium bisa mencapai 39 persen, sehingga pengangkatan ovarium secara preventif menjadi metode yang sangat efektif untuk menekan kemungkinan munculnya kanker tersebut.

Angelina Jolie kini berusia 50 tahun dan merasa puas dengan keputusan yang pernah diambilnya. Dukungan dan kesadaran mengenai pencegahan kanker yang dipublikasikan olehnya diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat global terhadap pentingnya mengenali risiko genetik dan berani mengambil langkah pencegahan sebelum kanker berkembang menjadi kondisi yang lebih mengancam.

Pentingnya edukasi genetik dan akses pada pemeriksaan gen BRCA kini semakin meningkat sebagai bagian dari upaya pengendalian kanker secara global. Kasus Angelina Jolie bisa menjadi prinsip penting bagi semua kalangan, terutama perempuan yang memiliki riwayat keluarga kanker payudara dan ovarium, agar dapat mengambil langkah bijak untuk melindungi kesehatannya lebih awal.

Source: www.beritasatu.com

Exit mobile version