Efek luka pada karakter zombie dalam film thriller survival Indonesia, Abadi Nan Jaya, menampilkan kreativitas luar biasa yang terinspirasi dari tanaman kantong semar. Penata rias efek khusus, Astrid Sambudiono, menjelaskan bahwa konsep luka pada zombie dikembangkan dengan konsep bolong-bolong dan urat-urat menonjol yang meniru bentuk dan tekstur tanaman tersebut.
Astrid mengatakan, "Zombie di film ini terinspirasi dari tanaman kantong semar. Detail urat-uratnya kami ambil referensi dari kantong semar," saat konferensi pers usai pemutaran film pada Jumat, 24 Oktober. Inspirasi ini membedakan tampilan luka zombie Abadi Nan Jaya dibandingkan dengan film zombie lain yang cenderung memakai pendekatan efek luka standar. Desain luka tersebut memberikan kesan visual unik dan lebih menakutkan, sekaligus terasa alami dan menyeramkan.
Proses Rias dan Pengaplikasian Efek Luka
Pembuatan rias luka pada setiap zombie membutuhkan ketelitian tinggi dan waktu yang cukup lama, yakni antara satu sampai empat jam per individu. Tim penata rias hanya terdiri dari 20 orang, sementara jumlah figuran zombie yang dikerahkan mencapai 200 pemain. Demi efisiensi kerja sekaligus menjaga kualitas visual sutradara, rias dibagi menjadi tiga kategori:
- Zombie utama — menggunakan silikon untuk menciptakan detail luka dan urat yang tajam, karena karakter ini sering tampil jelas di kamera.
- Zombie pendukung — memakai prosthetic transfer, biasanya hanya bagian atas tubuh yang terlihat kamera.
- Zombie tambahan — memakai tattoo transfer, karena berada di latar belakang dan tampil hanya sekilas.
Strategi tersebut memungkinkan tim rias mengelola ribuan efek luka tanpa mengorbankan realisme dan kesan dramatis.
Pengaruh Kantong Semar dalam Desain Luka
Kantong semar adalah tumbuhan karnivora khas yang bentuk dan tekstur daunnya unik, memiliki kantong atau rongga dengan pola urat yang menonjol. Inspirasi ini terlihat pada desain luka zombie yang bolong-bolong dan urat-urat membonjol seperti permukaan kantong semar, sehingga menciptakan kesan luka yang berbeda dari kecenderungan efek visual sangar yang biasa digunakan di film lestari mayat hidup.
Efek ini menambah dimensi baru dalam genre zombie lokal, sekaligus mengangkat kreativitas sumber daya alam sebagai sumber referensi karya seni efek visual. Kombinasi konsep biologis tanaman dengan penataan visual modern menjadi pembeda utama cerita Horor dan ketegangan di Abadi Nan Jaya.
Tantangan Teknik dan Koordinasi Produksi
Selain aspek artistik, produksi Abadi Nan Jaya menggunakan pendekatan teknis yang kompleks. Art Director Antonius Boedy mengonfirmasi bahwa kerja tim figuran zombie sangat padat dengan hingga 200 pemain, membutuhkan pengambilan gambar yang cermat dan alokasi waktu panjang.
Adegan-adegan berisiko termasuk tabrakan mobil dan pembakaran karakter berlangsung dengan koordinasi detil. Stunt coordinator Saifuddin Mubdy menyebut tantangan besar dalam pengambilan gambar mobil bertabrakan dengan durasi adegan hanya 10 detik. Lima kamera dari berbagai sudut digunakan untuk merekam adegan secara simultan, termasuk di dalam mobil dan area kecelakaan.
Untuk adegan pembakaran tiga stuntman secara simultan, prosedur keselamatan mutlak diterapkan. Stuntman dilengkapi dengan fire suit anti api, tubuh dilapisi cool gel dan fire gel, serta tersedia matras dan fire blanket sebagai pengaman tambahan. "Jarak titik jatuh adalah batas aman agar api dapat padam," jelas Saifuddin.
Film Abadi Nan Jaya dan Peran Inspirasi Alam
Sutradara Kimo Stamboel mengapresiasi keberanian dan dedikasi kru produksi, khususnya dalam menghadirkan efek visual realistis yang membuat film ini menonjol di genre horor lokal. Abadi Nan Jaya mengisahkan keluarga disfungsional yang bertahan hidup dalam serangan mayat hidup wabah.
Film yang dibintangi Mikha Tambayong, Marthino Lio, Eva Celia, Dimas Anggara, dan Donny Damara ini telah tayang sejak 23 Oktober 2024 di platform Netflix Indonesia. Salah satu kekuatan film ini terletak pada detail riasan efek luka zombie yang bukan hanya menakutkan secara estetika tapi juga mengadopsi unsur alam seperti tanaman kantong semar, memberikan warna baru bagi sinema horor Indonesia.
Source: mediaindonesia.com





