Lirik dan Makna Lagu Bunga Maaf – The Lantis: Saat Maaf Datang Terlambat

Lagu "Bunga Maaf" yang dibawakan oleh band retro pop The Lantis telah menjadi salah satu lagu yang paling banyak diputar sepanjang tahun di berbagai platform digital. Keberhasilan ini tidak hanya didorong oleh irama yang khas, tetapi juga lirik yang mengandung makna mendalam tentang penyesalan dan kesedihan atas kehilangan yang tak dapat diperbaiki. Lagu ini sudah diputar lebih dari 212 juta kali di Spotify dan visualizer resminya di YouTube telah ditonton lebih dari 75 juta kali, menandakan besarnya daya tarik lagu ini bagi pendengar.

Latar Belakang Lagu dan Band The Lantis

The Lantis merupakan kelompok musik yang terdiri dari Giri Virandi (bass dan vokal), Ravi Rinaldy (gitar dan vokal), serta Muhammad Rifki Dzaky Fauzan (gitar). Mereka aktif sejak tahun 2020 dan sudah berhasil mencatat berbagai prestasi melalui karya-karya mereka. “Bunga Maaf” adalah salah satu karya yang menonjol karena berhasil mengombinasikan nuansa retro dengan tema emosional yang relatable bagi banyak orang.

Lagu ini bercerita tentang seseorang yang menyadari kesalahan dan merasa menyesal, namun penyesalan tersebut datang terlalu lambat setelah hubungan yang sangat berarti sudah berakhir. Tema ini sangat kuat dan mampu menggugah perasaan pendengar sehingga lagu ini sering menjadi latar suara di berbagai konten media sosial.

Makna Lirik “Bunga Maaf”

Lirik lagu “Bunga Maaf” mengekspresikan kerentanan dan rasa kehilangan yang mendalam. Penggalan awal lagu menanyakan keberadaan luka yang masih tersisa dari hubungan yang telah usai: “Hai, masihkah luka itu ada di sana? Yang kutinggalkan saat kita masih bersama.” Hal ini menunjukkan kesadaran bahwa meski hubungan sudah berakhir, bekas luka emosional tetap terasa.

Selanjutnya, lirik menggambarkan perubahan waktu yang membawa perbedaan besar dalam hidup tanpa kehadiran orang yang dicintai: “Kini waktu terasa berbeda tanpa hadirmu.” Ada pengakuan bahwa dulu ada keras hati yang akhirnya menimbulkan kesedihan, menandakan bahwa konflik dan kesalahan dalam hubungan tersebut sangat mempengaruhi hasil akhirnya.

Bagian chorus menyiratkan keinginan untuk memperbaiki semuanya jika waktu bisa diulang:

  • “Andai angin mengulang sebuah masa yang t’lah usang.”
  • “’Kan kutelan isi bumi hanya untukmu.”
  • “Terima bunga maafku, layu termakan egoku.”

Kalimat “Terima bunga maafku” melambangkan upaya meminta maaf dan penyesalan yang tulus, sementara “layu termakan egoku” menunjukkan bahwa kesombongan dan ego pribadi adalah sebab utama keretakan hubungan tersebut.

Pada bait berikutnya, ada kesan harapan yang samar, bertanya apakah mungkin ada rasa rindu di balik kebencian yang muncul: “Oh, mungkinkah ada rindu di balik benci itu?” Namun, rindu ini perlahan pudar ketika kebersamaan sudah tidak lagi dibutuhkan.

Analisis Keseluruhan Lagu

“Bunga Maaf” menghadirkan cerita universal yang bisa dirasakan sebagian besar pendengar, terlebih mereka yang pernah merasakan kehilangan akibat kesalahan sendiri. Lagu ini mengingatkan bahwa waktu tidak bisa diputar kembali, dan maaf yang datang terlambat seringkali tidak mampu memperbaiki hubungan yang telah hancur.

Musik dari The Lantis yang mengusung genre retro pop memberikan warna yang khas, menggabungkan unsur nostalgia dengan sentuhan modern sehingga membuat lagu ini terdengar segar sekaligus emosional.

Data dan Popularitas

Popularitas “Bunga Maaf” yang luar biasa terlihat dari angka putarannya di platform digital serta posisi The Lantis di jajaran musisi yang lagunya paling banyak diputar sepanjang tahun. Ini menunjukkan bagaimana lirik bermakna yang kuat dipadu dengan musik yang menarik mampu membentuk resonansi emosional yang luas di kalangan pendengar.

Secara keseluruhan, "Bunga Maaf" bukan hanya sekadar lagu pop biasa. Ia menyampaikan cerita tentang penyesalan yang terlambat dan mengingatkan pendengar akan pentingnya menjaga hubungan dan merawat hati, sebelum waktu dan ego memisahkan semuanya. Hal ini membuat lagu tersebut relevan dan terus diminati oleh berbagai kalangan usia hingga saat ini.

Source: www.medcom.id

Berita Terkait

Back to top button