Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober menjadi momen penting dalam sejarah nasional Indonesia, menandai lahirnya tekad persatuan bangsa melalui Kongres Pemuda II pada 1928. Di balik peristiwa monumental ini, terdapat dua sosok pahlawan yang turut berperan besar, bukan hanya sebagai pejuang kemerdekaan, tetapi juga sebagai seniman berbakat, yaitu Mohammad Yamin dan Wage Rudolf Soepratman.
Mohammad Yamin: Pionir Sastra dan Penggagas Persatuan
Mohammad Yamin lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat pada 23 Agustus 1903. Selain dikenal sebagai pahlawan nasional, ia adalah seorang sastrawan dan pemikir yang aktif berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Menurut data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Yamin menuntut ilmu di berbagai sekolah terkemuka seperti HIS Palembang, AMS Yogyakarta, dan melanjutkan ke Rechtshoogeschool te Batavia, kini Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dan lulus sebagai sarjana hukum pada 1932.
Aktivitasnya dalam organisasi pergerakan seperti Jong Sumatranen Bond dan Indonesia Muda membuktikan komitmennya terhadap kemerdekaan. Sebagai seorang sastrawan, Yamin menulis berbagai karya penting, di antaranya adalah puisi "Indonesia, Tumpah Darahku" yang menjadi simbol kebangkitan semangat nasionalisme. Perannya sebagai Sekretaris Panitia Kongres Pemuda II membawa dia ke garis depan perumusan naskah Sumpah Pemuda, yang menegaskan tekad satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.
Pidato Yamin bertajuk "Persatuan Bukan Perbedaan" di Kongres menjadi orasi yang menggugah guna menyatukan para pemuda melawan penjajahan, sehingga gagasan persatuan bangsa yang dia usung menjadi fondasi besar dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Wage Rudolf Soepratman: Pencipta Lagu Kebangsaan Indonesia
Sementara itu, Wage Rudolf Soepratman yang lahir pada 9 Maret 1903 di Meester Cornelis (kini Jatinegara, Jakarta), dikenal sebagai pencipta lagu "Indonesia Raya", yang sangat kuat mengakar sebagai simbol nasionalisme dan semangat kebangsaan. Berdasar keterangan dari cucunya, B. Budi Harry, dan laporan MetroTVNews, Soepratman memperkenalkan lagu kebangsaan ini secara instrumental pada puncak Kongres Pemuda II di tanggal 28 Oktober 1928.
Untuk menghindari pengawasan ketat pemerintah kolonial Belanda, Soepratman membawakan lagu itu dengan alat musik biola tanpa lirik yang saat itu dianggap sangat berisiko karena mengandung semangat kemerdekaan. Meskipun sederhana, penampilan tersebut berhasil membakar semangat persatuan para pemuda dari berbagai daerah. Nada-nada yang dimainkan Soepratman menjadi penyemangat dan penguat janji Sumpah Pemuda.
Sayangnya, Soepratman wafat pada 17 Agustus 1938, belum sempat menyaksikan kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Pasca kemerdekaan, lagu “Indonesia Raya” resmi diangkat menjadi lagu kebangsaan Republik Indonesia dan diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1958.
Dua Warisan Besar dari Dunia Seni dan Perjuangan
Kehadiran Mohammad Yamin dan WR Soepratman dalam Kongres Pemuda II bukan hanya sekadar hadir sebagai tokoh pergerakan, tetapi juga sebagai representasi seniman yang melalui karya dan kreativitasnya mengilhami dan mempersatukan bangsa. Yamin membawa semangat lewat karya sastera dan pidato-pidatonya, sementara Soepratman menyuntikkan jiwa semangat kemerdekaan melalui lagu kebangsaan yang menggema hingga saat ini.
Keduanya melambangkan perpaduan antara seni dan perjuangan kemerdekaan, mengingatkan generasi penerus untuk terus menghargai kreativitas dalam membangun persatuan dan identitas bangsa.
Sebagai bentuk penghormatan pada jasa mereka, berbagai kegiatan dan festival bertema kepahlawanan dan kebangsaan sering digelar, salah satunya adalah Jong Indonesia Festival yang diselenggarakan oleh Metro TV untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda yang bertujuan menginspirasi generasi muda.
Peringatan ini menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk mengenang kembali betapa besar kontribusi para pendahulu, yang bukan hanya bertempur di medan fisik tapi juga mengukir semangat persatuan lewat karya sastra dan musik. Pesan persatuan yang mereka bawa tetap relevan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di era modern ini.
Source: www.medcom.id
