Pidato RM BTS di APEC 2025 Dikritik Pedas Netizen, Dinilai Terlalu Arogan

RM, leader grup K-Pop BTS, baru-baru ini menjadi sorotan setelah memberikan pidato dalam sesi budaya bertajuk "Cultural and Creative Industries in the APEC Region and the Soft Power of K-Culture" di APEC CEO Summit 2025 yang berlangsung di Gyeongju, Korea Selatan, 31 Oktober hingga 1 November 2025. Namun, pidato RM tersebut menuai kritik keras dari netizen di media sosial yang menilai isi pidato itu terlalu arogan dan kurang menghargai kontribusi artis K-Pop pendahulu.

Dalam pidatonya, RM meminta dukungan luas untuk para konten kreator di seluruh dunia, khususnya yang bergerak di bidang budaya dan kreativitas. Namun, kutipan-kutipan dari pidato sang idol ini dianggap banyak netizen seolah menyombongkan peran BTS sebagai pelopor pengenalan musik K-Pop ke dunia. Padahal, K-Pop sudah mulai mendapat pengakuan internasional jauh sebelum BTS debut pada 2013 melalui musisi senior seperti BoA, Psy, TVXQ, dan Wonder Girls.

Seorang pengguna media sosial dengan akun @mint*ra menyatakan, "RM berbicara seolah-olah seperti tidak ada yang tahu Korea Selatan saat mereka debut. Dia tidak menghormati artis Korea yang memperkenalkan dunia pada K-Pop seperti Wonder Girls dan Psy." Komentar serupa juga disampaikan oleh @dublinkk yang menyebut, "Bukankah dia orang yang selalu mendiskreditkan para seniman Asia lainnya, dan dengan arogan mengatakan hanya BTS yang membuka jalan untuk artis K-Pop di Asia?"

Kekecewaan netizen juga merembet ke masalah yang sedang menimpa agensi BTS, Hybe. Bos besar Hybe, Bang Si Hyuk, tengah terlibat skandal terkait penipuan saham yang menarik perhatian publik luas. Beberapa netizen menggunakan momentum ini untuk mengkritik RM dan agensinya.

Akun @***kvoila menulis, "Anda tidak menghormati grup idol dan musisi lainnya dengan mengklaim BTS yang membuka jalan, ini merupakan kebohongan. Sementara agensimu mengeksploitasi isu sosial, kesehatan mental, dan hubungan parasosial untuk mempromosikan grup kalian. Kamu dan agensimu tidak berhak untuk berbicara.” Kritik pedas ini memperlihatkan ketegangan yang muncul antara penggemar dan pihak lain yang merasa tidak sependapat dengan cara RM memandang perkembangan K-Pop.

Tidak hanya itu, di platform X (sebelumnya Twitter) muncul tudingan yang jauh lebih ekstrem terhadap RM. Sebuah akun anonim dengan username @_***chgtfo menuduh RM memiliki sikap narsistik, rasis, misoginis, dan berbagai sifat negatif lainnya. Tuduhan ini belum dapat dikonfirmasi kebenarannya, tetapi menambah kontroversi yang melingkupi pidato RM.

Tuntutan untuk transparansi dan penghormatan terhadap kontribusi musisi senior K-Pop menjadi poin utama dalam kritik tersebut. Sebagai seorang publik figur yang berbicara di forum internasional besar seperti APEC, netizen berharap RM dapat menyampaikan pesan yang lebih inklusif dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Pidato RM di APEC 2025 merupakan bagian dari upaya memperkuat posisi K-Pop dan budaya Korea Selatan dalam kancah global. Namun, reaksi yang muncul menunjukkan bahwa masyarakat dan penggemar memiliki harapan agar representasi tersebut tetap menghormati sejarah dan kontribusi beragam pelaku industri hiburan Korea.

Sementara BTS terus mempertahankan popularitasnya secara global, isu sensitif seperti pengakuan terhadap pendahulu dan kesan arogan dalam komunikasi publik perlu mendapat perhatian agar citra dan perjuangan mereka lebih positif di mata publik internasional. Pidato RM di forum ekonomi dan budaya dunia ini sekaligus mencerminkan tantangan bagaimana seorang artis dapat menjadi juru bicara budaya sekaligus menjaga hubungan baik dengan komunitas musik yang lebih luas.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com
Exit mobile version