Anggota DPR RI Frederik Kalalembang mengecam keras lawakan yang disampaikan oleh komika Pandji Pragiwaksono terkait budaya Toraja, khususnya upacara pemakaman adat Rambu Solo. Frederik menyayangkan candaan tersebut karena dianggap tidak menghargai adat dan melukai perasaan masyarakat Toraja.
Dalam video yang beredar luas, Pandji menyampaikan materi stand up comedy bahwa banyak warga Toraja yang jatuh miskin akibat memaksakan diri menggelar pesta pemakaman yang mahal. Ia juga menambahkan bahwa ada jenazah yang dibiarkan di ruang tamu karena keluarga tidak mampu membiayai pemakaman secara layak. Pernyataan Pandji ini mendapat reaksi keras dari Frederik, yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Keluarga Toraja Nusantara (IkaTNus).
Frederik menuturkan, “Kalau benar video tersebut, sangat disayangkan, karena bisa merembet ke mana-mana. Apalagi dijadikan guyonan atau olok-olokan.” Ia bahkan berniat memanggil Pandji untuk memberikan klarifikasi agar publik tidak salah menafsirkan materi lawakan tersebut, terutama bagi yang kurang paham tentang budaya Toraja.
Rambu Solo sendiri merupakan upacara adat pemakaman Toraja yang memiliki makna dalam sebagai penghormatan terakhir kepada leluhur. Upacara ini bukan sekadar pesta kemewahan, melainkan simbol cinta kasih dan penghormatan dari anak cucu kepada yang telah meninggal. Frederik menegaskan, “Tidak ada orang Toraja menjadi miskin karena menghargai leluhurnya dan memegang teguh adat. Itu bukan soal kemewahan, tapi tanda cinta kasih tentang penghormatan dari anak dan cucunya yang telah berhasil selama ini.”
Menurut Frederik, budaya Toraja harus dipandang secara mendalam, karena merupakan warisan dengan nilai kemanusiaan yang luhur dan menjaga hubungan antara yang hidup dan yang telah pergi. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar para komika dan pelaku seni di Indonesia menggunakan kebijaksanaan dalam menyampaikan materi mereka, terutama ketika mengangkat isu budaya dan adat istiadat yang dianggap sakral oleh suatu komunitas.
Sampai saat ini, Pandji Pragiwaksono belum memberikan tanggapan resmi terkait kecaman yang diterimanya. Namun, sikap Frederik mewakili harapan banyak pihak agar penghormatan terhadap budaya lokal tetap terjaga dan tidak menjadi bahan olokan yang dapat menimbulkan misunderstanding di masyarakat luas.
Tanggapan publik terhadap kasus ini juga memperlihatkan sensitivitas masyarakat dalam menjaga identitas dan tradisi budaya asli Indonesia. Budaya Toraja, seperti halnya budaya lain di tanah air, sarat dengan makna filosofis yang dalam dan harus diperlakukan dengan hormat.
Frederik menegaskan, “Bagi kami, menghormati leluhur bukan beban, tapi kehormatan. Mari kita saling memahami, karena di balik adat, selalu ada nilai kemanusiaan yang luhur.” Pernyataan ini menunjukkan pentingnya dialog dan edukasi yang tepat dalam menyikapi isu budaya di ruang publik agar terhindar dari kesalahpahaman dan penggambaran yang kurang akurat.
Sebagai bagian dari masyarakat yang majemuk, penghormatan terhadap keberagaman sekaligus pelestarian budaya menjadi tugas bersama seluruh elemen bangsa. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya menjaga sensitifitas budaya dalam membentuk narasi publik, terutama ketika menyangkut adat istiadat yang menjadi landasan identitas suatu komunitas.
Baca selengkapnya di: www.medcom.id