Perjuangan Anak Sherly Tjoanda Menyusuri Kehidupan sebagai Yatim
Kepergian suami Sherly Tjoanda membawa perubahan besar bagi keluarga mereka. Anak bungsu Sherly, yang semula menempuh pendidikan di Amerika Serikat, harus pulang dan mengorbankan masa muda demi bekerja di Indonesia.
Sherly mengungkapkan bahwa kejadian tersebut membuat putranya tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih dewasa dan bijaksana. Di usia yang baru 19 tahun, ia telah menjadi sosok penguat dalam keluarga.
Pilihan Berat Menunda Masa Muda
Putra bungsu Sherly memilih mendampingi ibunya dalam berbagai aktivitas kerja. Sebelumnya, anak tersebut menjalani sekolah di luar negeri, tetapi harus menghentikan studi demi membantu orang tua.
Sherly mengungkapkan rasa prihatin saat melihat anaknya yang seharusnya masih bersenang-senang di masa muda kini harus menghadapi tanggung jawab dewasa. “Dia harus menemani saya turun ke daerah-daerah,” ujar Sherly dalam sebuah wawancara.
Dukungan Keluarga dan Kekuatan Mental
Meski sedih, Sherly mengagumi kebijaksanaan dan kematangan putranya dalam menghadapi cobaan. Anak bungsunya kerap memberikan saran dan keputusan yang membantu keluarganya melewati masa sulit.
Kehadiran putranya di samping Sherly juga dianggap sebagai sumber rasa aman ketika beraktivitas di lapangan. Hal ini memperlihatkan ikatan emosional yang kuat antar keduanya.
Dampak Psikologis dan Peran Sherly sebagai Ibu
Sherly menyadari beban psikologis yang dialami anak-anaknya setelah kehilangan sosok ayah. Ia merasa cukup tegar menghadapi status janda, tetapi merasakan luka di hati saat memikirkan keadaan anak-anak tanpa ayah.
Ia mengatakan, “Kalau untuk saya, sudah biasa. Tapi kalau untuk anak, saya sangat kasihan.” Hal ini menunjukkan betapa pentingnya dukungan emosional dalam keluarga yang mengalami kehilangan besar.
Fakta Penting Mengenai Perubahan Hidup Anak Sherly Tjoanda
- Anak bungsu semula menempuh pendidikan di Amerika Serikat.
- Ia harus putus sekolah dan kembali ke Indonesia setelah ayahnya meninggal.
- Saat ini, berusia 19 tahun dan sudah bekerja membantu ibunya.
- Menjadi sosok yang lebih dewasa dan bijaksana dari usia sebenarnya.
- Memilih untuk mendampingi ibunya saat turun ke daerah-daerah.
Sherly Tjoanda menunjukkan ketegaran yang luar biasa dalam menghadapi perubahan hidup setelah kehilangan suami. Perjuangan anak-anaknya, khususnya putra bungsu yang mengorbankan masa muda demi keluarga, menjadi pelajaran penting tentang tanggung jawab dan kedewasaan dini. Perjalanan mereka memperlihatkan bagaimana keluarga mampu bertahan menghadapi cobaan paling berat sekalipun.
Baca selengkapnya di: www.suara.com




