Review Film Wicked: For Good, Penutup Manis dengan Dinamika yang Kadang Kurang Bumbu

Wicked: For Good datang sebagai penutup dari kisah yang telah memikat banyak penonton sejak Part One. Film ini menghadirkan pengalaman yang indah dengan perpaduan drama dan sihir yang mengusik emosi. Namun, ada beberapa aspek yang terasa kurang maksimal sehingga kesan keseluruhannya tidak sekuat bagian pertama.

Penampilan Cynthia Erivo dan Ariana Grande menjadi kekuatan utama film ini. Chemistry keduanya sangat kuat dan mampu membawa hubungan Elphaba dan Glinda ke level emosional yang menyentuh. Ariana Grande berhasil menunjukkan kemampuan aktingnya yang lebih dalam dan menawarkan dimensi emosional yang tak terduga. Sebaliknya, Cynthia tetap menjadi pusat moral dan emosional cerita dengan performa yang anggun dan penuh kompleksitas.

Para pemeran pendukung seperti Jonathan Bailey, Ethan Slater, dan Jeff Goldblum mendapatkan porsi yang lebih manusiawi. Goldblum menghadirkan sosok penyihir eksentrik yang khas, sementara Bailey dan Slater mengisi peran dengan baik. Namun, Michelle Yeoh terasa kurang menonjol dan performanya dianggap lemah dibanding yang lain.

Film ini juga menonjolkan konflik moral yang lebih dalam, terutama pada karakter Elphaba. Perjuangannya membela para Animals dan kemarahannya terhadap ketidakadilan menambah bobot cerita yang emosional. Glinda pun mengalami perkembangan karakter yang signifikan, berubah dari sosok pasrah menjadi wanita mandiri yang berani mengambil keputusan penting. Beberapa momen penting, seperti saat Glinda menyerang Madame Morrible dan menyamar untuk menemui Elphaba, menjadi titik klimaks yang mengesankan penonton.

Namun, ada kekurangan dalam penutupan cerita yang membuat beberapa momen terasa kurang menggigit. Pengorbanan Elphaba yang sempat terasa tragis dan kuat, berubah kehilangan bobotnya karena twist bahwa ia masih hidup. Keputusan naratif ini membuat klimaks emosional yang diharapkan menjadi kurang memuaskan dan terasa seperti kesempatan yang terlewat.

Dari sisi teknis, Wicked: For Good menghadirkan visual yang memukau dan kostum yang mengesankan. Sinematografi menunjukkan kematangan yang lebih baik dibanding film sebelumnya. Meski demikian, masalah ritme muncul sebagai kendala. Film kadang terasa terburu-buru dan di lain waktu melambat secara tidak konsisten, sehingga pengalaman menonton menjadi kurang lancar. Beberapa adegan penting dipotong terlalu singkat, sementara momen yang kurang esensial diperpanjang berlebihan.

Teknologi CGI pun menunjukkan hasil yang campuran. Ada bagian yang mulus dan memanjakan mata, tetapi beberapa adegan tampak seperti efek pengolah ulang permainan video lama. Hal ini cukup kontras dengan dunia Oz yang biasanya dikenal kaya warna dan cerah, sehingga beberapa adegan tampak agak kusam.

Secara keseluruhan, Wicked: For Good tetap memberikan penutup yang cantik dan menyentuh hati. Lagu-lagu yang dibawakan mampu mengangkat suasana sedangkan visualnya mengajak penonton sejenak tinggal dalam dunia Oz yang penuh keajaiban. Meskipun tidak mampu mengulang keajaiban seperti Part One, film ini masih mempertahankan pesonanya dan memberi pengalaman yang memuaskan bagi penggemar.

Berikut ini sejumlah poin penting dari Wicked: For Good yang perlu diketahui:

1. Chemistry utama diperkuat oleh Cynthia Erivo dan Ariana Grande yang emosional dan mengesankan.
2. Konflik moral dan politik dalam cerita diperdalam dengan baik, memberi bobot lebih pada sisi drama.
3. Perkembangan karakter Glinda menjadi lebih kuat dan independen.
4. Pengorbanan Elphaba kehilangan dampak emosional karena twist akhir cerita.
5. Visual dan produksi tampil mewah, namun ritme editing tidak konsisten.
6. CGI memiliki kualitas variatif, kadang memukau, kadang mengecewakan.
7. Performansi pemeran pendukung bervariasi, dengan beberapa yang kurang maksimal.
8. Penutupan cerita manis tapi terasa kurang bumbu untuk klimaks yang diharapkan.

Wicked: For Good memang bukan karya sempurna, tapi masih layak mendapat apresiasi sebagai penutup saga yang penuh nuansa dan warna. Bagi penonton yang menikmati dunia Oz dan karakter yang kuat, film ini tetap menghadirkan pengalaman yang mendalam dan menyenangkan. Penggemar musical fantasy akan menemukan cukup alasan untuk tetap jatuh cinta pada kisah Elphaba dan Glinda, meski film ini tak sepenuhnya memenuhi ekspektasi tinggi.

Baca selengkapnya di: www.suara.com
Exit mobile version