Advertisement

Putaran Bumi Melambat, Dampaknya bagi Kehidupan dan Lingkungan Terungkap

Penelitian terbaru mengungkap Bumi pernah mengalami rotasi yang jauh lebih cepat dibanding saat ini. Ilmuwan menemukan pada suatu masa, satu hari di Bumi hanya berlangsung sekitar 19 jam, bukan 24 jam seperti yang biasa dikenal sekarang. Fenomena ini diidentifikasi berdampak langsung pada evolusi dan kemunculan kehidupan baru di planet ini.

Penelitian dipimpin oleh Ross Mitchell, seorang geofisikawan dari Institute of Geology and Geophysics, Chinese Academy of Sciences. Tim peneliti menganalisis puluhan catatan geologis dari batuan sedimen yang mencerminkan perubahan rotasi Bumi dalam kurun waktu sangat panjang. Penelitian menunjukkan bahwa rotasi Bumi tidak melambat secara stabil, melainkan mengalami fluktuasi dengan periode “datar” yang cukup lama dilanjutkan perlambatan mendadak.

Dampak Rotasi Bumi Terhadap Ekosistem Awal

Selama periode sekitar satu miliar tahun, panjang hari di Bumi tetap di kisaran 19 jam akibat keseimbangan antara efek pasang surut lautan, atmosfer, dan tarikan gravitasi Bulan. Pada saat itu, fenomena resonansi tercipta ketika dorongan pasang surut atmosfer hampir sepenuhnya menyeimbangkan pengereman oleh Bulan. Kondisi ini menyebabkan rotasi Bumi relatif terkunci dalam periode tertentu.

Dalam rentang waktu tersebut, produksi oksigen di Bumi didominasi oleh mikroba fotosintesis yang hidup di laut dangkal. Hasil eksperimen menunjukkan hari yang singkat justru memicu mikroba menyerap lebih banyak oksigen dibandingkan yang mereka lepaskan ke lingkungan. Kondisi hari yang kurang dari dua puluh jam membatasi aktivitas fotosintesis sehingga jumlah oksigen di atmosfer juga stagnan. Data ini menjelaskan mengapa level oksigen Bumi kala itu cenderung tetap dan relatif rendah.

Perubahan Panjang Hari dan Lahirnya Organisme Kompleks

Ketika akhirnya Bumi keluar dari kondisi resonansi dan perlahan mendekati panjang hari 24 jam, intensitas fotosintesis meningkat. Penambahan durasi siang memicu pelepasan oksigen yang lebih banyak ke atmosfer. Ketersediaan oksigen yang lebih tinggi menciptakan peluang bagi kehidupan kompleks untuk berevolusi. Proses ini membuka jalan bagi kemunculan makhluk multiseluler.

Menurut para ahli, perubahan panjang hari memiliki peran vital dalam evolusi. Durasi siang yang ideal sangat menentukan seberapa efisien mikroba melakukan fotosintesis dan melepaskan oksigen ke lingkungan. Hal ini menjadi kunci utama dalam sejarah awal kehidupan di muka Bumi.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kecepatan Rotasi Bumi

Kecepatan rotasi Bumi dipengaruhi berbagai faktor alami:

  1. Tarikan gravitasi Bulan yang menyebabkan efek pasang surut dan perlambatan rotasi.
  2. Kontribusi atmosfer dan lautan yang mendorong percepatan atau perlambatan.
  3. Aktivitas di inti Bumi, terutama aliran logam cair, yang turut mengubah kecepatan putaran.
  4. Interaksi di antara inti dan mantel Bumi, termasuk fenomena geomagnetic jerks atau gangguan mendadak medan magnet.

Ilmuwan mencatat, perubahan panjang hari di masa kini masih terjadi, walaupun hanya dalam satuan milidetik. Pengamatan melalui jam atom sangat presisi mampu merekam fluktuasi harian yang disebabkan oleh dinamika atmosfer, interaksi lautan, serta pergerakan di inti Bumi.

Penemuan Ilmiah: Wawasan Baru Tentang Dinamika Planet

Hasil studi tersebut secara fundamental mengubah pemahaman akademik mengenai mekanisme inti cair Bumi. Ditemukan pula fakta bahwa mantel bawah planet ini mengantarkan listrik dengan buruk. Hal ini membatasi interaksi antara inti yang bergerak dan mantel, sekaligus membuka perspektif baru dalam mempelajari bagian terdalam planet.

Riset ini semakin menegaskan keterkaitan erat antara faktor astronomis dan biologis dalam perjalanan panjang sejarah Bumi. Temuan-temuan ini memperluas wawasan tentang bagaimana rotasi dan perubahan iklim planet bisa memengaruhi kelangsungan kehidupan di masa depan.

Baca selengkapnya di: www.cnbcindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button