Ekonomi Singapura mengalami pertumbuhan menonjol pada kuartal keempat, mencapai 5,7 persen secara tahunan dan menjadi laju ekspansi tercepat sejak dua tahun terakhir. Pertumbuhan ini melampaui perkiraan banyak analis, terutama didorong oleh lonjakan kuat di sektor manufaktur, menurut data resmi dari Kementerian Perdagangan dan Industri.
Kontribusi utama pertumbuhan berasal dari sektor manufaktur yang melonjak hingga 15 persen dalam tiga bulan terakhir hingga Desember. Sektor ini jauh melampaui pencapaian kuartal sebelumnya, yang hanya tumbuh 4,9 persen. Kementerian menyebutkan bahwa manufaktur, khususnya di klaster biomedis dan elektronik, menjadi penggerak utama kenaikan produk domestik bruto Singapura.
Dominasi Sektor Manufaktur dalam Ekonomi
Sektor manufaktur menyumbang sekitar 20 persen terhadap produk domestik bruto nasional. Sektor ini juga menjadi satu dari sedikit pilar ekonomi yang tetap menunjukkan angka positif saat sebagian besar sektor lain, termasuk konstruksi dan jasa, mengalami kontraksi. Pertumbuhan di sektor elektronik dan biomedis menegaskan keberhasilan diversifikasi industri yang telah menjadi strategi pemerintah selama beberapa tahun terakhir.
Adapun hasil estimasi awal pertumbuhan ini tercatat lebih tinggi dari revisi pertumbuhan pada kuartal sebelumnya, yakni 4,3 persen. Dengan capaian tersebut, total pertumbuhan produk domestik bruto sepanjang tahun mencapai 4,8 persen, melampaui proyeksi pemerintah sebelumnya. Angka proyeksi resmi dari Kementerian Perdagangan dan Industri pada November lalu memperkirakan pertumbuhan sekitar 4 persen.
Dampak Global dan Tantangan Ke Depan
Perdana Menteri Lawrence Wong menegaskan bahwa pencapaian ini adalah hasil yang lebih baik dari dugaan semula, mengingat tantangan global yang terus berkembang. Namun, ia juga menyampaikan peringatan bahwa keberlanjutan pertumbuhan dalam laju seperti saat ini akan berat untuk dipertahankan. Pemerintah Singapura memperkirakan pertumbuhan akan kembali ke kisaran antara 1 sampai 3 persen untuk tahun mendatang.
Ketergantungan Singapura pada perdagangan internasional sangat tinggi, dengan rasio perdagangan terhadap produk domestik bruto tercatat lebih dari 320 persen menurut data Bank Dunia. Negara ini menghadapi risiko signifikan dari dinamika ketidakpastian global, terutama setelah penerapan tarif perdagangan baru oleh Amerika Serikat. Meski telah melakukan perjanjian perdagangan bebas dengan Amerika, Singapura tetap terkena dampak tarif 10 persen yang berlaku di bulan April, sebuah langkah yang dianggap mengecewakan oleh pemerintah setempat.
Tanggapan Ahli dan Antisipasi Kebijakan
Selena Ling, Kepala Ekonom dan Kepala Riset Grup di OCBC, menilai kinerja ekonomi Singapura membuktikan daya tahan dan keberagaman kekuatan ekonomi nasional. Ia pun memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto untuk tahun berikutnya kemungkinan berkisar di angka 2 persen, dengan asumsi sektor manufaktur tumbuh lebih moderat di sekitar 2,2 persen secara tahunan akibat basis pertumbuhan yang tinggi tahun ini.
Kondisi pasar global yang tidak menentu membuat pemerintah mengambil kebijakan antisipatif, termasuk pelonggaran kebijakan moneter dua kali sepanjang tahun untuk menghadapi potensi perlambatan ekonomi. Sebelumnya, pemerintah bahkan telah mengingatkan kemungkinan terburuk berupa stagnasi pertumbuhan jika tekanan eksternal tidak mereda.
Rangkuman Perkembangan Ekonomi Kuartal Keempat
Berikut adalah beberapa data kunci pertumbuhan ekonomi Singapura kuartal terakhir:
- Pertumbuhan PDB secara tahunan: 5,7 persen
- Pertumbuhan manufaktur: 15 persen
- Pertumbuhan PDB kuartal sebelumnya: 4,3 persen
- PDB manufaktur terhadap total PDB: 20 persen
- Proyeksi pertumbuhan tahun mendatang: 1-3 persen
- Total pertumbuhan tahunan: 4,8 persen
Pemerintah Singapura terus mencermati dinamika perdagangan internasional dan mengantisipasi dampak kebijakan ekonomi negara mitra dagang. Dengan ketergantungan pada sektor manufaktur dan jalur perdagangan global, Singapura mengandalkan kinerja ekspor, terutama barang-barang berteknologi tinggi yang menjadi kekuatan utama industri nasional.
Baca selengkapnya di: www.cnbc.com