Deretan Tugas Baru Film Lokal Usai Sukses Besar Agak Laen 2 dan Jumbo

Segudang Tugas Perfilman Indonesia Selepas Kesuksesan Agak Laen 2 dan Jumbo

Perfilman Indonesia telah mencapai tonggak penting dengan dua film, yakni Jumbo dan Agak Laen Menyala Pantiku, yang berhasil menyentuh angka 10 juta penonton. Prestasi ini menandai puncak popularitas film lokal dan menunjukkan peningkatan minat masyarakat terhadap karya dalam negeri.

Meski capaian ini membanggakan, sejumlah tantangan besar masih harus dihadapi guna mempertahankan dan mengembangkan industri film nasional. Pengamat film Hikmat Darmawan menyebutkan bahwa sistem perfilman saat ini cenderung menghambat peningkatan kualitas film Indonesia.

Tantangan Layar Bioskop dan Sistem Distribusi

Masalah utama adalah keterbatasan jumlah layar bioskop yang tidak seimbang dengan jumlah produksi film yang terus meningkat. Padahal, tanpa jatah layar yang memadai, sulit bagi film untuk mendapatkan penonton dan pengembalian modal. Hikmat mengungkapkan, "Mendapatkan jatah layar yang cukup belum tentu berarti profitabilitas karena produksi film semakin mahal."

Lebih jauh, dominasi golongan tertentu dalam proses distribusi juga menghambat keberagaman film yang dapat dijangkau publik. Penyeragaman ini menyebabkan pasar merasa jenuh dan potensi pasar besar yang beragam menjadi terabaikan. Hikmat menyatakan bahwa penonton Indonesia memiliki selera yang sangat beragam, namun film yang beredar cenderung homogen.

Masalah Biaya Produksi dan Model Bisnis

Biaya produksi film yang kini bisa mencapai kisaran Rp20 miliar menambah beban bagi para produser. Standar produksi yang tinggi belum tentu sebanding dengan pendapatan yang bisa diraih. Sebagai perbandingan, film-film dari Korea Selatan dan Amerika Serikat banyak yang sukses dengan biaya lebih rendah.

Selain biaya, produser sering kali terjebak pada pola produksi yang repetitif dan mengikuti tren film sukses tanpa inovasi. Mereka juga lebih mengacu pada selera pasar tertentu yang dianggap mewakili keseluruhan masyarakat. Padahal, selera tiap lapisan masyarakat berbeda dan perlu dilayani dengan variasi produk yang sesuai.

Peran Infrastruktur dan Kebijakan Pemerintah

Hikmat menegaskan bahwa kebutuhan utama industri adalah membangun infrastruktur yang inklusif dan merata. Hal ini meliputi penambahan jumlah layar bioskop yang tersebar di berbagai daerah, serta sistem distribusi yang tidak dikuasai oleh segelintir pemain besar.

Streaming digital, meski potensial sebagai alternatif distribusi, saat ini belum mampu menggantikan peran bioskop secara signifikan dalam hal pendapatan. Layanan streaming cenderung menguntungkan sebagian kecil rumah produksi dan bukan menjadi solusi bagi industri secara keseluruhan.

Menurut Hikmat, intervensi pemerintah sangat diperlukan melalui regulasi dan dukungan modal supaya pasar film lebih beragam dan inklusif. Dukungan tersebut harus menjangkau daerah kabupaten dan kota kecil dimana urbanisasi tengah meningkat. Pendekatan model bisnis yang berbeda dari yang berlaku saat ini dapat membuka peluang baru bagi para pelaku film lokal.

Langkah-Langkah yang Diperlukan

  1. Meningkatkan jumlah layar bioskop di daerah non-metropolitan agar film lokal dapat tersaji lebih luas.
  2. Membuat sistem distribusi yang transparan dan memberi kesempatan sama bagi berbagai produser dan film.
  3. Mendorong inovasi dalam produksi film supaya tidak terjebak formula lama dan lebih beragam.
  4. Mendorong keterlibatan pemerintah dalam bentuk regulasi dan dukungan modal yang tepat sasaran.
  5. Mengakomodasi aspirasi dan selera masyarakat yang beragam dengan produksi film yang relevan.

Dengan berbagai perbaikan tersebut, industri film Indonesia diharapkan tidak hanya mengandalkan kisah sukses sesaat semacam Jumbo dan Agak Laen 2. Lebih penting, sistem perfilman akan mampu tumbuh berkelanjutan dan merangkul pasar yang luas dengan kualitas yang semakin baik.

Perjuangan sesungguhnya adalah membangun ekosistem yang memberikan ruang bagi semua lapisan masyarakat dan pemain film sekaligus meningkatkan nilai produksi serta distribusi agar industri tetap kompetitif di tingkat nasional maupun internasional.

Baca selengkapnya di: www.cnnindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button