Nilai tukar rupiah menutup perdagangan di Jakarta pada Selasa sore mengalami pelemahan sebesar 18 poin atau 0,11 persen menjadi Rp16.758 per dolar AS. Penurunan ini dipengaruhi oleh sikap “risk-off” pelaku pasar yang mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Analis dari Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Taufan Dimas Hareva, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen global yang didominasi oleh penguatan dolar AS. Meskipun Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur AS pada Desember menunjukkan kontraksi hingga 47,9 persen, data tersebut belum cukup mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
Imbal hasil obligasi AS yang tetap tinggi juga menjadi faktor pendorong arus modal ke aset dolar, sehingga mengurangi permintaan mata uang negara berkembang seperti rupiah. “Ekspektasi suku bunga AS yang bertahan lama membuat dana tetap mengalir masuk ke aset dolar, menekan rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya,” kata Taufan.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah berasal dari tingginya permintaan valuta asing untuk kebutuhan impor dan kewajiban pembayaran korporasi. Sikap hati-hati pelaku pasar membuat rupiah sulit menguat meskipun tekanan intraday sempat mereda pada hari yang sama.
Bank Indonesia juga mencatat pelemahan rupiah dalam kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Pada penutupan perdagangan, JISDOR bergerak melemah menjadi Rp16.762 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp16.748.
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
- Penguatan dolar AS yang didukung oleh imbal hasil Treasury yang tinggi.
- Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan The Fed yang berkelanjutan.
- Permintaan valuta asing domestik yang masih tinggi untuk impor dan pembayaran korporat.
- Sikap “risk-off” pelaku pasar yang menghindari risiko dengan mengurangi kepemilikan aset berisiko.
Melihat kondisi tersebut, analis memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan tendensi melemah terbatas. Perkiraan nilai tukar rupiah pada pekan depan berada di rentang Rp16.750 hingga Rp16.780 per dolar AS. Tekanan eksternal dan permintaan valas domestik diprediksi masih menjadi faktor utama penggerak pasar valuta asing Indonesia.
Situasi ini mengindikasikan bahwa tantangan bagi rupiah masih akan berlanjut, terutama jika kebijakan moneter Amerika Serikat tetap ketat dan sentimen global belum pulih. Pelaku pasar diharapkan tetap memantau data ekonomi utama serta kebijakan The Fed yang akan memberikan arah terhadap arah rupiah ke depan.





