Advertisement

Memahami Spirit Filantropi Al-Ma’un: Prioritaskan Sedekah daripada Biaya Resepsi yang Mahal

Memasuki momentum spiritual bulan Rajab, momentum ini menjadi waktu tepat untuk menelaah kembali spirit filantropi dalam Islam khususnya yang diajarkan oleh KH Ahmad Dahlan melalui Surah Al-Ma’un. Sekretaris Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Ikhwanushoffa, mengajak warga Muhammadiyah agar menghidupkan kembali nilai-nilai filantropi yang berakar dari teologi Al-Ma’un.

Menurut Ikhwanushoffa, teologi ini mengajarkan agar pengikutnya selalu memperhatikan porsi zakat dan sedekah setiap kali menerima rezeki, berapapun jumlahnya. Ia menegaskan bahwa inti dari filantropi Islam modern adalah kepekaan sosial untuk berbagi dengan sesama secara konsisten.

Fenomena Ketimpangan Biaya Resepsi dan Sedekah

Ikhwanushoffa menyoroti adanya ketimpangan sosial di kalangan masyarakat dalam mengelola keuangan antara biaya resepsi pernikahan dan sedekah. Ia mempertanyakan apakah seseorang yang menghabiskan uang puluhan juta rupiah untuk pesta resepsi sudah pernah memberikan sedekah dengan nilai yang sama. Hal ini menjadi cerminan sejauh mana seseorang mengamalkan spirit Al-Ma’un.

“Kalau untuk resepsi pernikahan bisa habis 50 juta, sudahkah sedekahnya juga 50 juta? Resepsi memang pesta untuk senang-senang, tapi keluar uang banyak berani. Sedekah sedikit, bukankah itu yang sebenarnya disebut pelit?” ungkapnya yang disambut gelak tawa jamaah. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa nilai sedekah haruslah proporsional atau bahkan lebih besar daripada pengeluaran untuk kesenangan pribadi.

Pentingnya Pendidikan Filantropi dalam Kader Muhammadiyah

Ikhwanushoffa menegaskan pentingnya membentuk kader militan Muhammadiyah yang berakar pada urutan syariat yang benar. Sebelum anak-anak diajarkan manasik haji, mereka harus terlebih dahulu terbiasa dengan kegiatan berbagi seperti infaq dan sedekah. Hal ini bertujuan membangun karakter individu yang dermawan (lumo).

Ia mengkritik pola pendidikan yang sering melompati tahap berbagi, sehingga iman dan amal sosial sulit tumbuh secara berdampingan. Pendidikan berbagi sedekah, menurutnya, adalah fondasi utama agar kader mampu mengamalkan nilai Islam secara utuh dan konsisten dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Kisah Inspiratif KH Ahmad Dahlan tentang Komitmen Dakwah

Kisah ketegasan KH Ahmad Dahlan juga menjadi pelajaran penting yang disampaikan Ikhwanushoffa. Ketika Ki Bagus Hadikusumo nyaris batal berdakwah karena ketinggalan kereta, Kiai Dahlan mengingatkan bahwa komitmen dakwah tidak boleh bergantung pada fasilitas atau kondisi nyaman.

“Dulu Kiai Dahlan tetap fokus berdakwah meski anaknya sakit parah. Sekarang, dengan segala kemudahan transportasi, jangan sampai hujan atau izin istri menjadi alasan tidak berangkat kajian,” tegasnya. Pesan ini mengobarkan semangat jihad fii sabilillah, memperkuat komitmen kader dalam berdakwah dan beramal.

Panduan Praktis Menghidupkan Spirit Filantropi ala Al-Ma’un

Untuk menerapkan spirit filantropi Al-Ma’un secara nyata, berikut beberapa langkah yang dapat diambil:

  1. Evaluasi pengeluaran pribadi dan jangan sampai biaya hiburan melebihi anggaran sedekah.
  2. Biasakan berinfaq dan sedekah dengan rutin setiap menerima rezeki, sekecil apapun.
  3. Tanamkan nilai berbagi sejak dini pada anak-anak sebagai bagian dari pendidikan karakter.
  4. Jadikan kegiatan sosial sebagai bagian dari komitmen dakwah dan ibadah sehari-hari.
  5. Gunakan kisah-kisah inspiratif tokoh Islam sebagai motivasi menjaga konsistensi beramal.

Spirit filantropi Al-Ma’un yang diajarkan KH Ahmad Dahlan mengarahkan umat Islam untuk fokus mengelola rezeki dengan penuh kesadaran sosial. Menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan pribadi dan kewajiban sosial menjadi landasan utama agar nilai zakat dan sedekah tidak terabaikan dalam kehidupan modern.

Baca selengkapnya di: pwmjateng.com

Berita Terkait

Back to top button