Cadangan minyak terbesar di dunia, dengan lebih dari 300 miliar barel, diperkirakan berada di bawah tanah Venezuela. Jika Presiden Donald Trump berhasil menguasai minyak Venezuela setelah menangkap Nicolás Maduro, hal ini menghadirkan potensi besar bagi perusahaan minyak AS untuk mengembangkan sumber energi tersebut.
Namun, para ahli iklim memperingatkan bahwa minyak Venezuela termasuk yang paling “kotor” di dunia. Minyak berupa heavy sour crude yang tersebar di Orinoco Belt ini sangat kental dan mengandung karbon lebih tinggi dibandingkan minyak ringan.
Karakteristik Minyak Venezuela dan Dampak Lingkungan
Minyak ini sulit dan memerlukan energi besar untuk ekstraksi karena tidak mengalir dengan mudah. Teknologi yang digunakan biasanya melibatkan pemompaan uap panas ke dalam reservoir, yang mengkonsumsi banyak energi dari gas alam yang juga memancarkan gas rumah kaca.
Selain itu, kandungan sulfur yang tinggi membuat proses pemurnian lebih kompleks dan meningkatkan emisi gas rumah kaca lebih jauh. Infrastruktur produksi yang sudah tua dan terawat buruk meningkatkan risiko kebocoran metana, flaring, dan tumpahan minyak, semua berdampak buruk pada lingkungan.
Methane yang bocor selama operasi minyak di Venezuela 6 kali lipat lebih intensif dibandingkan rata-rata global. Gas ini 80 kali lebih kuat memanaskan bumi dalam jangka pendek dibandingkan karbon dioksida. Praktik flaring di Venezuela, yang membakar gas berlebih, adalah salah satu penyebab utama masalah ini.
Dampak Emisi dan Tantangan Teknis
Menurut Patrick King dari Rystad Energy, polusi iklim per barel minyak Venezuela dua kali lipat lebih besar ketimbang rata-rata global. Meskipun perusahaan minyak AS kemungkinan dapat mengurangi emisi, batas pengurangan cukup ketat karena ekstraksi dan flaring memerlukan energi besar dan program pengurangan emisi metana sangat mahal.
Kondisi ini diperparah dengan tingginya risiko tumpahan minyak akibat infrastruktur yang rapuh. Laporan Observatorium Hak Asasi Lingkungan Venezuela menunjukkan setidaknya 199 tumpahan sejak 2016, meskipun data sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena pelaporan resmi berhenti sejak 2016.
Aspek Ekonomi dan Prospek Produksi
Produksi minyak Venezuela menurun drastis dari 2 juta barel per hari menjadi kurang dari 1 juta barel per hari karena sanksi AS dan berkurangnya investasi. Untuk mempertahankan produksi saat ini, diperlukan investasi lebih dari $53 miliar dalam 15 tahun ke depan.
Jika ingin meningkatkan produksi hingga lebih dari 3 juta barel per hari seperti masa lalu, investasi yang dibutuhkan mencapai sekitar $183 miliar. Dalam konteks pasar energi global yang melimpah dan harga minyak yang relatif rendah, langkah ini dianggap tidak realistis dan mahal.
Implikasi Iklim dan Politik Global
Dampak peningkatan produksi minyak Venezuela terhadap iklim sangat sulit diprediksi, tetapi kemungkinan besar akan meningkatkan emisi karbon secara signifikan. Produksi lebih banyak di Venezuela mungkin tidak serta-merta menambah pasokan global karena produksi bisa menurun di wilayah lain.
Namun, dampak paling signifikan kemungkinan justru dari sisi politik dan transisi energi. Seperti yang dikemukakan Guy Prince dari Carbon Tracker, intervensi besar-besaran di Venezuela bisa mengalihkan perhatian dari transisi energi bersih, memperkuat mentalitas konflik sumber daya abad ke-20, serta menciptakan ketidakstabilan yang memperlambat aksi iklim global.
Poin Penting Mengenai Minyak Venezuela
- Cadangan lebih dari 300 miliar barel, terbesar di dunia.
- Minyak jenis heavy sour crude, sangat sulit diolah dan berdampak buruk terhadap iklim.
- Infrastruktur lama menyebabkan flaring dan kebocoran metana parah.
- Produksi menurun signifikan sejak 2016, memerlukan investasi besar untuk pemulihan.
- Ekonomi produksi minyak mahal dan tak sebanding dengan tren permintaan global.
Apabila Trump benar-benar menguasai sumber daya minyak Venezuela, konsekuensi terhadap perubahan iklim dan upaya global menanggulangi krisis iklim bisa menjadi titik kritis. Fokus pada pengembangan minyak berat ini berpotensi menghambat perubahan menuju energi terbarukan dan memperparah kerusakan lingkungan secara global.
Baca selengkapnya di: www.cnn.com




