Amman Mineral Rugi Rp2,9 Triliun Kuartal III 2026: Smelter Terhenti & Larangan Ekspor Beratkan Kinerja

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatat kerugian bersih mencapai US$178,53 juta atau sekitar Rp2,96 triliun pada kuartal III 2025. Penurunan kinerja ini menjadi perubahan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berhasil meraih laba besar.

Penjualan bersih AMMN merosot drastis hingga 78,1% secara tahunan dari US$2,49 miliar menjadi US$545,33 juta. Laba kotor perseroan juga menyusut 93%, hanya mencapai US$55,7 juta pada semester pertama 2025 dibandingkan US$851,89 juta tahun lalu.

Hambatan Operasional dan Larangan Ekspor

Presiden Direktur AMMN, Arief Sidarto menyampaikan bahwa smelter perusahaan terpaksa menghentikan operasi sementara selama Juli dan Agustus 2025. Penghentian ini untuk perbaikan pada Flash Converting Furnace dan Pabrik Asam Sulfat yang merupakan bagian vital proses produksi. Perbaikan tersebut akan berlangsung hingga paruh pertama 2026.

Selain masalah operasional, AMMN juga terdampak larangan ekspor konsentrat yang diberlakukan pemerintah sejak awal 2025. Kebijakan ini membuat perseroan harus fokus menjual produk logam jadi, seperti katoda tembaga dan emas murni, sehingga mengurangi volume dan nilai penjualan.

Sebagai upaya mitigasi, pemerintah memberikan relaksasi ekspor konsentrat tembaga sekitar 400.000 ton kepada anak usaha AMMN, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Kebijakan ini berlaku selama enam bulan dan diharapkan mampu membantu pendapatan perusahaan yang sedang tertekan.

Perbandingan dengan Kinerja Tahun Sebelumnya

Tahun 2024 menjadi periode terbaik bagi AMMN dengan laba bersih US$642 juta, meningkat 148% dibanding 2023. Pendapatan mencapai US$2,66 miliar dengan produksi emas mencapai rekor tertinggi di Tambang Batu Hijau, yakni 802.749 ons. Produksi tembaga juga bertambah 27% menjadi 395 juta pon.

Keberhasilan ini didukung oleh bijih berkadar tinggi dari Fase 7 serta peningkatan efisiensi operasional. AMMN mampu mempertahankan posisi sebagai salah satu produsen tembaga dengan biaya terendah di dunia, menurut laporan resmi perusahaan.

Transisi ke Produksi Logam Jadi

AMMN mengembangkan langkah strategis menjadi perusahaan pertambangan terintegrasi penuh yang memproduksi katoda tembaga dan emas batangan. Pembangunan smelter tembaga di Sumbawa Barat telah mencapai 95,5% pada Mei 2024. Fasilitas komisioning dimulai Juni 2024 dan produksi anoda serta katoda tembaga pertama diraih pada awal 2025.

Fasilitas pemurnian logam mulia (PMR) juga telah mulai memproduksi emas murni sejak pertengahan Juli 2025, menandai kemajuan dalam hilirisasi produk tambang.

Prospek dan Rekomendasi Saham

Manajemen AMMN optimistis kinerja keuangan akan membaik seiring operasional smelter berjalan penuh. Samuel Sekuritas merevisi proyeksi rugi bersih tahun fiskal 2025 menjadi US$116 juta, namun menetapkan proyeksi laba US$352 juta untuk tahun 2026. Proyeksi ini didasarkan pada peningkatan utilisasi smelter dari 51% menjadi 93% dengan produksi katoda tembaga mencapai 205 ribu ton.

MNC Sekuritas memberikan rekomendasi “buy on weakness” untuk saham AMMN dengan target harga antara Rp7.875 hingga Rp8.050 per lembar, memperhitungkan optimisme perbaikan kinerja. Pada Februari 2026, harga saham perusahaan berada di level Rp7.675.

Aktivitas Kepemilikan dan Pengembangan Tambang

Komisaris AMMN, Alexander Ramlie, melakukan beberapa penjualan saham perseroan sepanjang akhir 2025 dengan nilai mencapai ratusan miliar rupiah. Aksi tersebut dilakukan dalam rangka restrukturisasi kepemilikan terkait penetapan waris (estate planning).

Tambang Batu Hijau, sebagai aset utama AMMN, diperkirakan memiliki cadangan hingga tahun 2030. Perusahaan sedang mengembangkan proyek Elang yang bertujuan memperpanjang umur tambang hingga 2046. Strategi ini penting untuk mempertahankan posisi AMMN di industri pertambangan nasional dan global.

Source: mureks.co.id

Berita Terkait

Back to top button