
Kupas Tuntas – PKBI Sebut Deteksi Massal Jadi Kunci Kendalikan Penyebaran HIV di Lampung
Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung mencatat adanya 333 kasus baru HIV sepanjang Januari hingga Desember 2025. Data ini berasal dari skrining terhadap puluhan ribu warga yang termasuk dalam kategori Sasaran Pelayanan Minimal (SPM).
Peningkatan jumlah kasus terungkap sejalan dengan upaya penjangkauan dan pemeriksaan yang semakin masif. Pemerintah menjalankan layanan mobile Voluntary Counseling and Testing (VCT), yaitu tes HIV keliling yang menjangkau lebih luas masyarakat.
Advokasi Officer PKBI Sumatera Barat wilayah Bandar Lampung, Rachmad Cahya Aji, menilai langkah Dinkes sudah sangat baik. Pemerintah telah menyediakan pemeriksaan HIV gratis dan bekerja sama dengan komunitas penggiat HIV untuk menjangkau masyarakat lebih optimal.
Menurut Aji, semakin banyak kasus HIV yang terungkap justru menandakan keberhasilan penjangkauan. Kasus yang terbuka memungkinkan pasien mendapat pengobatan lebih cepat guna mengendalikan penyebaran virus.
Pemerintah menyediakan pengobatan Antiretroviral (ARV) gratis bagi Orang dengan HIV (ODHIV). Terapi ARV berfungsi menekan jumlah virus dalam tubuh sehingga risiko penularan menurun secara signifikan.
"Terapi ARV yang rutin bisa menekan virus HIV sehingga tidak menular ke pasangan. Bahkan pasangan suami istri yang sama-sama terinfeksi bisa memiliki anak sehat," jelasnya.
Aji mengimbau agar masyarakat tidak panik menghadapi HIV selama tidak melakukan perilaku berisiko. Ia menegaskan virus ini tidak mudah menular melalui aktivitas sehari-hari seperti makan bersama, berpelukan, atau menggunakan toilet bersama.
Penularan HIV biasa terjadi lewat hubungan seksual tidak aman, penggunaan jarum suntik bersama, dan dari ibu ke anak jika tidak menjalani terapi. Masyarakat harus memahami cara penularan ini agar tidak salah kaprah terhadap ODHIV.
Khusus untuk temuan kasus tertinggi pada kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), Aji menyebut hal tersebut berkaitan dengan fokus skrining saat ini.
"Tren kasus mengikuti fokus intervensi. Jika dulu pemeriksaan fokus ke pengguna narkoba suntik, kasus banyak ditemukan di kelompok itu. Saat pemeriksaan diperluas ke ibu hamil, angka meningkat pada kelompok tersebut," tuturnya.
Saat ini, intervensi diarahkan ke kelompok LSL sehingga temuan dari kelompok ini juga meningkat. Hal tersebut bukan berarti penularan di kelompok lain menurun, melainkan terkait cakupan dan fokus deteksi.
Untuk mengendalikan penyebaran HIV, pemerintah bersama komunitas penggiat HIV di Lampung memperkuat pencegahan, edukasi, serta akses tes dan pengobatan yang lebih luas. Langkah ini diharapkan mampu menekan laju penularan dalam masyarakat secara signifikan.
Berikut beberapa upaya yang dilakukan dalam pengendalian HIV di Lampung:
- Pemeriksaan HIV gratis dan mobile testing (VCT keliling) untuk menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
- Penyediaan terapi Antiretroviral (ARV) bagi ODHIV tanpa biaya.
- Pendampingan dan edukasi bagi kelompok rentan, termasuk komunitas LSL dan pengguna narkoba suntik.
- Kerja sama antara Dinkes dengan komunitas penggiat HIV untuk meningkatkan cakupan pemeriksaan.
- Kampanye informasi untuk meluruskan mitos dan stigma terkait HIV dan cara penularannya.
Dengan pendekatan yang komprehensif dan melibatkan berbagai pihak, Lampung berharap mampu menekan angka penularan HIV lebih efektif ke depan. Deteksi massal menjadi langkah strategis agar pasien dapat ditangani secepatnya dan risiko penyebaran dapat diminimalisasi secara maksimal.
Source: www.kupastuntas.co




