Anggota DPR Desak Aparat Usut Tuntas Dalang Penyelundupan 2 Ton Narkoba Kapal Sea Dragon Jangan Biarkan ABK Jadi Tumbal Saja

Anggota DPR Habib Aboe Bakar Al Habsyi mendesak aparat penegak hukum untuk tidak hanya menahan dan menghukum anak buah kapal (ABK) kapal Sea Dragon, tetapi juga memburu aktor intelektual di balik penyelundupan narkoba sebanyak hampir 2 ton tersebut. Ia menilai Fandi Ramadhan, ABK yang ditangkap, tidak memiliki kemampuan finansial untuk mengendalikan serta membeli narkoba dalam jumlah besar itu.

Aboe menegaskan bahwa penegakan hukum jangan sampai berhenti pada pelaku lapangan yang diduga hanya menjadi pion dalam jaringan kriminal. "Jangan sampai mereka menjadi tumbal. Aparat harus mengungkap dan menangkap intellectual dader dari perkara ini," kata Habib dalam keterangan resmi. Ia menilai sindikat ini memiliki struktur yang kompleks dan terorganisir sehingga seluruh pihak yang terlibat mulai dari pemodal hingga pengatur logistik harus dimintai pertanggungjawaban hukum.

Kasus Penyelundupan dan Penangkapan

Kapal motor Sea Dragon Tarawa berhasil digagalkan aparat pada Mei lalu saat memasuki perairan Kepulauan Riau dari wilayah Andaman. Penindakan ini melibatkan patroli gabungan BNN, Bea Cukai, TNI AL, dan Polda Kepri. Sabu-sabu seberat 1.995.130 gram ditemukan dan enam tersangka ditahan. Enam orang itu terdiri dari empat warga negara Indonesia yakni HS, LC, FR, dan RH serta dua warga negara Thailand berinisial WP dan TL.

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Batam, Fandi Ramadhan sebagai ABK kapal baru bekerja tiga hari dan mengaku ikut bergabung untuk membantu ekonomi keluarga dan membiayai pendidikan adik-adiknya. Jaksa menuntut hukuman mati terhadap Fandi dan pesaing lainnya yang terlibat jaringan ini.

Ancaman Kejahatan Terstruktur dan Masif

Politikus Partai Keadilan Sejahtera itu menyatakan bahwa kejahatan narkoba yang melibatkan penyelundupan besar-besaran ini merupakan tindakan yang merusak generasi dan sangat berbahaya. Ia menekankan bahwa upaya pemberantasan narkoba harus menyasar aktor intelektual dan pemodal besar agar tidak menjadi siklus yang berulang.

Menurutnya, penangkapan kurir atau ABK semata tidak akan mampu menuntaskan persoalan ini. “Kalau hanya menghukum pion-pion lapangan, jaringan ini akan terus tumbuh dan berkembang,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa perang terhadap narkoba harus mengena sampai akar persoalan, tidak hanya sekadar penindakan di permukaan.

Peran TNI AL dan Aparat Gabungan

Penggagalan penyelundupan ini dilakukan di perairan Selatan Tanjung Piai di perbatasan Indonesia-Malaysia. Keterlibatan dua kapal perang TNI AL, yaitu KRI Surik-645 dan KRI Silea-858, sangat signifikan dalam operasi penangkapan tersebut. Kolaborasi aparat ini menunjukkan kesiapan pengawasan ketat di wilayah perairan kepulauan yang rawan penyelundupan narkoba.

Dari hasil pemeriksaan dan pengadilan, barang bukti dan tersangka telah dibawa ke proses hukum sesuai regulasi yang berlaku, dengan harapan mampu memberikan efek jera bagi pelaku dan jaringannya.

Pentingnya Pengusutan Tuntas Aktor Di Balik Penyelundupan

Mengingat besar dan rumitnya sindikat narkoba antarnegara di Asia Tenggara tersebut, penegakan hukum harus tuntas menyelidiki hingga ke dalang yang mendanai serta mengatur logistik pengiriman. Pengungkapan aktor intelektual sangat penting agar tidak ada pihak yang mampu lolos dan mengulangi modus kejahatan serupa.

Langkah ini juga perlu diiringi penguatan koordinasi antar lembaga penegak hukum untuk menutup celah-celah masuknya barang haram tersebut ke Indonesia. Dengan demikian, pemberantasan narkoba dapat berjalan lebih efektif dan menyeluruh.

Upaya aparat mengamankan kapal Sea Dragon dan jaringan sindikatnya membantu melindungi generasi bangsa dari ancaman narkoba yang semakin masif dan terorganisir. Namun, tantangan terbesar masih berada pada pembongkaran struktur sindikat dan pengusutan aktor-aktor besar yang selama ini bersembunyi di belakang layar operasi gelap tersebut.

Source: nasional.kompas.com

Berita Terkait

Back to top button