Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) meningkatkan upaya deteksi dini kasus campak setelah menerima notifikasi resmi dari Otoritas Kesehatan Australia mengenai temuan dua kasus campak pada warga negara asing yang melakukan perjalanan dari Indonesia. Langkah penguatan surveilans dan imunisasi campak tambahan menjadi fokus utama dalam menanggapi laporan tersebut.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit, dr. Andi Saguni, menyatakan bahwa notifikasi tersebut telah direspon dengan cepat melalui berbagai mitigasi strategis. Kemenkes mengintensifkan imunisasi campak tambahan bagi anak usia sekolah, terutama di wilayah dengan beban kasus tinggi pada periode 2025-2026.
Kasus pertama melibatkan seorang perempuan usia 18 tahun yang pernah menerima vaksin lengkap dan menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Perth. Kasus kedua adalah anak perempuan usia 6 tahun tanpa riwayat imunisasi yang melakukan perjalanan Jakarta ke Sydney. Kedua pasien terkonfirmasi positif campak melalui pemeriksaan PCR setelah mengalami gejala demam dan ruam kulit.
Selain meningkatkan surveilans, Kemenkes juga menyiapkan fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk rumah sakit, untuk mengantisipasi kemungkinan kasus dengan komplikasi serius. Langkah ini penting agar penanganan medis dapat segera dilakukan apabila ditemukan kasus baru yang memerlukan perawatan intensif.
Dr. Andi juga mengimbau kepada orangtua agar melengkapi imunisasi campak anak sesuai dengan jadwal yang ditentukan oleh pemerintah. Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti mencuci tangan dengan sabun dan memakai masker juga sangat dianjurkan untuk meminimalisasi risiko penularan virus campak.
Masyarakat diimbau segera melapor ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala demam disertai ruam dan membatasi kontak dengan orang lain. Hal ini diupayakan agar penyebaran campak dapat diputus dengan cepat dan efektif tanpa menimbulkan wabah lebih luas.
Untuk memperkuat edukasi, Kemenkes aktif menyebarkan informasi mengenai protokol pencegahan campak melalui berbagai saluran komunikasi. Masyarakat diingatkan untuk menjaga etika batuk serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang agar daya tahan tubuh tetap terjaga.
Data dari Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 11.094 kasus campak terkonfirmasi sepanjang tahun 2025. Sampai Februari 2026 dilaporkan 550 kasus, menunjukkan tren pengawasan dan pencatatan yang terus berjalan. Meski jumlah kasus terbilang cukup tinggi, status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak nasional belum ditetapkan.
Berbagai upaya penguatan deteksi dini dan peningkatan cakupan imunisasi ini menjadi langkah strategis dalam menekan penyebaran campak khususnya di kelompok rentan anak sekolah. Kementerian Kesehatan terus memantau dan berkoordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh daerah untuk respons yang cepat dan efektif.
Informasi terkini dan layanan bantuan dapat diperoleh melalui Halo Kemenkes di hotline 1500-567 atau melalui email [email protected]. Kemenkes menegaskan komitmen untuk menjaga kesehatan masyarakat dari risiko penyakit campak melalui deteksi dan pencegahan yang terpadu.





