Artificial intelligence (AI) telah menunjukkan kemajuan pesat dalam dekade terakhir, khususnya dalam sektor kesehatan yang menjadi salah satu bidang transformasi terbesar dari teknologi ini. AI mampu meningkatkan kecepatan dan akurasi diagnosis penyakit, mendukung pengambilan keputusan klinis, serta memperkuat program kesehatan masyarakat seperti pengawasan penyakit dan pengoptimalan tenaga kerja kesehatan.
Meskipun manfaatnya sangat besar, penerapan AI di bidang kesehatan masih diwarnai kekhawatiran terkait bias model, pelanggaran data, serta kerusakan keterampilan profesional akibat ketergantungan berlebihan pada teknologi. Kondisi ini menimbulkan tantangan bagi banyak negara dalam mengadopsi teknologi AI secara luas, terutama di lingkungan dengan data dan infrastruktur yang terbatas.
Forum untuk Memajukan Keadilan Kesehatan Melalui AI
Asian Development Bank (ADB) bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Regional Office untuk Pasifik Barat akan menggelar Forum on Harnessing AI for Health Equity pada 25-26 Maret di kantor pusat ADB. Forum ini bertujuan mengkaji bagaimana AI dapat dikelola, didanai, dan diterapkan untuk meningkatkan kesehatan secara merata bagi masyarakat di negara-negara berkembang.
Pada forum tersebut, hadir pejabat kesehatan tingkat tinggi dari 16 negara anggota ADB yang sedang berkembang, termasuk Indonesia, serta peneliti, inovator, dan pembuat kebijakan dari Asia dan Pasifik. Kegiatan ini didanai oleh High-Level Technology Fund dengan dukungan pemerintah Jepang.
Tujuan Forum
Forum dua hari ini memiliki beberapa tujuan penting:
- Mengidentifikasi kasus penggunaan AI berbasis bukti dengan dampak tinggi yang cocok untuk kondisi sumber daya terbatas.
- Memperkenalkan dan mengesahkan panduan kebijakan WHO tentang ekosistem minimum yang diperlukan untuk penilaian kesiapan adopsi AI.
- Mendorong komitmen awal para pemangku kepentingan untuk berpartisipasi dalam inisiatif regional pilot berbagi data dan model AI.
- Mendukung rekomendasi kebijakan yang berfokus pada tata kelola, regulasi, dan pembiayaan berkelanjutan guna memperluas penggunaan AI dalam kesehatan.
Partisipan yang Terlibat
Selain 16 negara berkembang anggota ADB, forum mengundang para pemimpin sistem kesehatan, praktisi, teknolog sektor swasta, akademisi, organisasi masyarakat sipil, mitra pembangunan, dan lembaga filantropi dari Australia, Tiongkok, Jepang, Malaysia, Selandia Baru, Singapura, dan Korea Selatan. Kehadiran mereka penting untuk membangun kolaborasi lintas sektor dan regional.
Agenda Sesi Forum
Hari pertama fokus pada penerapan AI dalam meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan. Topik penting lainnya termasuk pendekatan berbasis risiko untuk prioritas AI serta pembangunan kompetensi kolaborasi manusia dan AI di tenaga kesehatan.
Hari kedua membahas ekonomi politik AI dalam kesehatan, pembiayaan kesehatan yang adil, pengawasan regulasi AI, serta strategi membangun kemitraan dan aliansi regional untuk keberlanjutan implementasi teknologi kesehatan tersebut.
Informasi Pendaftaran dan Kontak
Forum ini dilaksanakan dalam format hibrida. Kehadiran secara langsung hanya melalui undangan, namun masyarakat umum dapat mengakses siaran langsung acara ini. Pendaftaran daring dibuka hingga 24 Maret.
Para pihak yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut dapat menghubungi WHO Regional Office for the Western Pacific di alamat email wprodsi@who.int atau spesialis kesehatan ADB, Akihito Watabe (awatabe@adb.org) dan Jae Kyoun Kim (jkkim@adb.org).
Inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk memaksimalkan potensi AI dalam menciptakan sistem kesehatan yang inklusif dan adil. Dengan kerjasama regional dan pengembangan kebijakan yang matang, teknologi AI diharapkan dapat menjadi alat pemberdayaan demi kesehatan optimal bagi semua lapisan masyarakat.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.who.int








