Bahlil Akui Evakuasi 2 Tanker Pertamina Sulit, Selat Hormuz Jadi Ujian Aman Jalur Minyak

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengakui proses untuk mengeluarkan dua kapal tanker milik Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz masih sulit dilakukan. Ia menegaskan pemerintah terus membangun komunikasi agar kapal bisa keluar dari jalur strategis pengiriman minyak itu dengan aman.

Bahlil menyebut kondisi kawasan Timur Tengah yang belum stabil membuat evakuasi tidak bisa dilakukan dengan cepat. Pernyataan itu disampaikan usai rapat di Kemenko Perekonomian, saat pemerintah memantau perkembangan keselamatan kapal dan rantai pasok energi.

Komunikasi Intensif Masih Berjalan

Bahlil mengatakan pemerintah tidak berhenti berkomunikasi dengan pihak terkait untuk mencari jalan keluar terbaik. Menurut dia, situasi di Selat Hormuz membutuhkan kehati-hatian tinggi karena menyangkut keselamatan kapal, awak, dan muatan.

“Kita masih komunikasi terus. Memang tidak mudah untuk kita bisa melakukan bagaimana caranya agar kapal kita keluar dari Selat Hormuz, tapi komunikasi terus kita bangun,” ujar Bahlil usai rapat di Kemenko Perekonomian, Jumat.

Pemerintah juga memantau pergerakan kapal agar tidak menimbulkan risiko tambahan. Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai jalur vital pengiriman minyak dunia yang kerap menjadi perhatian saat tensi geopolitik di Timur Tengah meningkat.

Dua Kapal Belum Bisa Melintas

Pjs Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping, Vega Pita, menyampaikan bahwa masih ada dua kapal PIS yang belum dapat melintasi Selat Hormuz. Dua kapal tersebut adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro.

“Hingga 27 Maret 2026, dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih berada di Teluk Arab atau Teluk Persia, belum dapat melalui Selat Hormuz,” kata Vega kepada CNNIndonesia.com.

Vega menjelaskan PIS terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan kedua kapal dapat segera melintasi wilayah itu secara aman. Perusahaan juga menempatkan keselamatan awak kapal sebagai prioritas utama di tengah kondisi yang belum menentu.

Prioritas Keselamatan dan Koordinasi

Dalam menghadapi situasi ini, PIS menekankan bahwa keamanan kapal dan muatan menjadi perhatian utama. Koordinasi dengan pemerintah dilakukan agar setiap langkah yang diambil tetap mempertimbangkan aspek perlindungan armada dan pekerja di laut.

Berikut sejumlah langkah yang tengah menjadi fokus penanganan:

  1. komunikasi rutin antara pemerintah dan pihak terkait di wilayah operasional,
  2. koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk jalur aman pelayaran,
  3. pemantauan kondisi keamanan di sekitar Selat Hormuz,
  4. perlindungan terhadap awak kapal, kapal, dan muatan energi.

Sebelumnya, ada empat kapal Pertamina di kawasan Selat Hormuz. Dua kapal lain, yakni PIS Rinjani dan PIS Paragon, sudah beranjak dari kawasan tersebut sejak awal bulan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa gangguan di Selat Hormuz masih menjadi perhatian serius bagi sektor energi nasional. Selama jalur itu belum sepenuhnya aman, pemerintah dan Pertamina akan terus menjaga komunikasi agar dua tanker yang masih tertahan dapat segera bergerak keluar tanpa menambah risiko operasional.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnnindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button