Russell T Davies menyoroti risiko besar ketika suara paling keras di media sosial dianggap mewakili seluruh fandom. Showrunner “Doctor Who” itu menilai opini di platform seperti X sering disalahartikan sebagai suara mayoritas penggemar, padahal keduanya tidak selalu sama.
Dalam masterclass di Series Mania, Prancis, Davies menyebut dirinya lebih dulu sebagai fan “Doctor Who” sebelum menjadi penulis atau showrunner. Ia mengatakan publik kerap terjebak dalam asumsi bahwa percakapan online adalah cerminan langsung dari sikap seluruh penggemar.
Media sosial dinilai membentuk gambaran yang keliru
Davies menegaskan bahwa suara yang muncul di internet sering kali lebih keras, lebih negatif, dan lebih mudah viral. Ia menyebut X sebagai “hate site” dan menilai platform semacam itu tidak mengejutkan jika memunculkan ujaran kebencian.
Menurut Davies, masalah terbesar muncul saat komentar minoritas di media sosial dianggap mewakili pandangan komunitas yang lebih luas. Ia menilai kesalahan itu bisa membuat publik, media, dan kritikus salah membaca reaksi penonton terhadap sebuah tayangan.
Racun kebencian ikut masuk ke arus utama
Davies juga mengaitkan apa yang terjadi di media sosial dengan kemunduran kualitas jurnalisme dan cara pemberitaan hiburan bekerja. Ia mengatakan suara-suara yang awalnya hanya keras di ruang digital kini bisa masuk ke artikel berita dan dikutip ulang oleh kritikus, sehingga terlihat seolah-olah mewakili opini dominan.
Pernyataan itu relevan dengan situasi terbaru “Doctor Who” yang dibintangi Ncuti Gatwa. Ketika Gatwa tampil sebagai aktor kulit hitam queer pertama yang memerankan karakter ikonik itu, serial tersebut menghadapi komentar rasis dan homofobik di internet.
Davies tetap membedakan kritik dan kebencian
Meski keras mengkritik ruang digital, Davies tidak menolak adanya perbedaan pendapat di kalangan penggemar. Ia menegaskan fans tidak wajib menyukai sebuah serial, tetapi tetap bisa berdebat secara sehat dan menikmati perbedaan pandangan.
Ia menyebut fandom seharusnya kreatif, menyenangkan, dan penuh energi positif. Namun, menurutnya suasana itu mulai tercemar oleh kebiasaan online yang memelihara amarah, provokasi, dan kebencian.
Peringatan Davies soal anak muda dan gawai
Davies bahkan melontarkan seruan ekstrem agar perangkat ponsel dimatikan untuk mereka yang berusia di bawah 16 tahun. Ia mengatakan sikapnya itu lahir dari keyakinan bahwa paparan media sosial terlalu awal bisa memperburuk cara anak muda memandang konflik, fandom, dan perbedaan opini.
Pernyataan tersebut memperkuat pandangannya bahwa masalah ini bukan sekadar soal serial televisi, melainkan juga soal ekosistem digital yang membentuk budaya populer. Dalam konteks itu, ia mendorong publik untuk lebih berhati-hati menilai suara penggemar agar tidak tertipu oleh kelompok kecil yang paling vokal.
Kondisi terbaru Doctor Who masih dijaga rapat
Di luar komentar soal media sosial, masa depan “Doctor Who” juga masih menjadi perhatian. Disney+ sebelumnya keluar dari kemitraannya dengan BBC setelah dua musim produksi bersama, meski sebuah episode spesial Natal sudah dipastikan tetap tayang.
Pada akhir musim terbaru, Gatwa keluar dari perannya sebagai Doctor dan Billie Piper kembali muncul dalam cerita. Namun, serial itu belum secara gamblang menyatakan apakah Piper akan menjadi pemegang peran utama berikutnya.
Saat moderator berusaha menggali lebih jauh soal status Piper di masa depan serial itu, Davies menolak memberi kepastian. Ia hanya menyatakan kekagumannya pada Piper tanpa membuka detail lanjutan tentang arah cerita berikutnya.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: variety.com








