Ditembak jatuhnya jet tempur F-15 dan pesawat serang A-10 Warthog milik Amerika Serikat dinilai memberi keuntungan simbolis bagi Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Insiden itu bukan hanya soal hilangnya dua pesawat militer mahal, tetapi juga soal pesan politik yang dikirim Teheran kepada Washington.
Pakar hubungan Timur Tengah Chris Doyle dari Council for Arab-British Understanding menyebut peristiwa itu penting bagi Iran dalam hal prestise. Menurut dia, Iran ingin menunjukkan bahwa negara itu masih mampu menantang kekuatan super dunia dan memberikan perlawanan yang nyata.
Makna psikologis bagi Iran
Doyle menilai jatuhnya dua pesawat AS dapat dibaca sebagai kemenangan psikologis bagi Iran. Ia mengatakan keberhasilan itu memperkuat citra bahwa Iran tidak sekadar bertahan, tetapi juga sanggup membalas tekanan militer lawan.
Dalam pandangan Doyle, efek semacam ini penting karena konflik modern tidak hanya ditentukan oleh jumlah senjata. Persepsi tentang kemampuan bertahan, daya gentar, dan konsistensi strategi juga ikut menentukan posisi sebuah negara di meja negosiasi.
Pukulan bagi citra Amerika Serikat
Bagi Amerika Serikat, insiden tersebut menjadi pukulan yang menyentuh kredibilitas militer. Doyle menilai kegagalan mengendalikan situasi akan membuat reputasi Washington di panggung global ikut tergerus.
Ia juga menyoroti nilai aset yang hilang, terutama F-15 yang disebut bernilai sekitar US$100 juta. Dalam konteks perang terbuka maupun operasi terbatas, kehilangan pesawat tempur mahal menunjukkan risiko besar yang harus ditanggung AS ketika menghadapi pertahanan Iran.
Kritik atas arah strategi Washington
Doyle menggambarkan respons Amerika Serikat sebagai strategi yang tidak konsisten. Ia menyebut pada awal konflik Donald Trump sempat tampil seolah memiliki posisi kuat, tetapi situasi kemudian berubah dan tampak membingungkan di dalam Gedung Putih.
Ia juga menyinggung langkah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang memecat tiga jenderal angkatan darat, termasuk Kepala Staf AD Jenderal Randy George. Menurut Doyle, keputusan itu memperlihatkan bahwa kepemimpinan Amerika sedang menghadapi tekanan internal saat konflik berkembang.
Hal-hal penting dari insiden ini
- Iran mengklaim telah menembak jatuh dua jet tempur AS.
- Pesawat yang disebut jatuh adalah F-15 dan A-10 Warthog.
- F-15 dilaporkan jatuh di wilayah barat daya Iran.
- A-10 Warthog disebut ditembak di sekitar Selat Hormuz.
- Pilot A-10 dilaporkan selamat.
- Satu kru F-15 masih sempat dikabarkan belum diketahui nasibnya, meski media AS melaporkan satu orang telah ditemukan dan diselamatkan.
- Donald Trump mengakui insiden itu dan menyebutnya tidak akan memengaruhi negosiasi dengan Iran.
- AS langsung menggelar operasi penyelamatan, sementara Iran mengumumkan hadiah bagi siapa pun yang bisa menemukan pilot AS yang masih hilang.
Dampak pada eskalasi konflik
Doyle juga melihat Iran berada dalam posisi yang lebih fleksibel untuk menaikkan atau meredam eskalasi sesuai kebutuhan. Ia menilai kebijakan AS justru terlihat berubah-ubah, termasuk saat wacana perubahan rezim di Iran sempat disebut lalu kemudian dibantah.
Menurut dia, kemampuan Iran untuk memperluas konflik, termasuk lewat jejaring sekutu regional, ikut menjadi faktor yang membuat Teheran terasa lebih terkendali secara strategis. Dalam situasi seperti itu, jatuhnya pesawat tempur AS tidak hanya dipandang sebagai insiden taktis, tetapi juga sebagai sinyal bahwa Iran masih memiliki daya tekan dalam konflik yang lebih luas.
Respons cepat Washington lewat operasi penyelamatan menunjukkan bahwa AS tidak ingin insiden ini berkembang menjadi krisis yang lebih besar. Namun sepanjang belum ada kejelasan penuh soal seluruh kru yang terlibat dan dampak militernya di lapangan, insiden penembakan jatuh itu tetap menjadi sorotan utama dalam pertarungan citra antara Iran dan Amerika Serikat.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnnindonesia.com