Aset keuangan Korea Selatan melonjak setelah Presiden AS Donald Trump menyepakati gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran. Kesepakatan itu meredakan kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan energi global yang berkepanjangan dan memicu minat investor pada aset berisiko.
Indeks acuan Kospi sempat melompat hingga 6,2% dan memimpin penguatan di Asia. Penguatan tajam itu juga membawa Kospi mencatat kenaikan untuk empat sesi berturut-turut, sementara kontrak berjangka Kospi 200 yang naik lebih dari 6% sempat memicu penghentian sementara perdagangan terprogram di bursa.
Saham Teknologi Jadi Penggerak Utama
Kenaikan pasar didorong oleh saham-saham unggulan di sektor semikonduktor. Samsung Electronics Co dan SK Hynix Inc masing-masing melonjak lebih dari 9% seiring membaiknya sentimen terhadap saham teknologi di tengah aksi beli global.
Investor juga kembali masuk ke saham-saham yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi dan aliran modal. Pergerakan ini menunjukkan pasar menilai risiko geopolitik mereda, setidaknya untuk sementara, setelah ketegangan terkait Iran menurun.
Won Menguat, Obligasi Ikut Reli
Mata uang won Korea Selatan menguat hingga 1,9% terhadap dolar AS. Penguatan itu mencerminkan napas lega pelaku pasar terhadap turunannya harga energi dan membaiknya prospek risiko eksternal.
Di pasar obligasi, kontrak berjangka obligasi 10-tahun naik 120 poin. Imbal hasil obligasi tenor 3-tahun turun ke 3,3%, menandakan ekspektasi pasar yang lebih tenang terhadap arah suku bunga dalam waktu dekat.
Minyak Turun, Inflasi dan Suku Bunga Tertekan
Turunnya harga minyak global menjadi faktor penting bagi aset Korea Selatan. Sebagai salah satu ekonomi besar di Asia yang sangat bergantung pada impor energi, Korea Selatan sensitif terhadap perubahan harga minyak karena berdampak langsung pada inflasi dan neraca perdagangan.
Penurunan harga minyak juga meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Korsel. Bank sentral dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pada Jumat, dan pasar kini menilai tekanan untuk mengetatkan kebijakan moneter bisa berkurang.
Fokus Investor Beralih ke AI dan Reformasi Tata Kelola
Dengan risiko energi yang menurun, perhatian investor kembali ke tema yang sebelumnya mendorong pasar Korea Selatan. Dua di antaranya adalah perdagangan saham berbasis kecerdasan buatan dan agenda reformasi tata kelola perusahaan.
- Sektor AI tetap menjadi magnet bagi investor global yang mencari pertumbuhan jangka panjang.
- Reformasi tata kelola masih dipandang dapat meningkatkan valuasi emiten dan memperbaiki kepercayaan pasar.
- Saham semikonduktor mendapat dorongan tambahan dari ekspektasi pemulihan permintaan teknologi.
- Won yang menguat memberi sinyal stabilitas lebih besar bagi aset lokal di tengah sentimen risk-on.
Pergerakan tersebut menempatkan pasar Korea Selatan sebagai salah satu yang paling diuntungkan dari meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah. Selama harga minyak tetap terkendali dan ketegangan tidak kembali meningkat, saham dan won Korsel berpeluang mempertahankan momentum penguatan yang terjadi di pasar.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.bloombergtechnoz.com