PT Aneka Tambang Tbk atau Antam menegaskan bahwa waktu terbaik membeli emas tidak ditentukan oleh pergerakan harga harian, melainkan oleh kesiapan dana dan tujuan investasi yang jelas. Perusahaan juga mengingatkan masyarakat agar tidak membeli emas karena FOMO saat harga sedang naik, karena emas lebih cocok untuk investasi jangka menengah hingga panjang.
Direktur Komersial PT Antam Handi Sutanto mengatakan emas bukan instrumen untuk spekulasi jangka pendek. Ia menilai pembeli sebaiknya tidak mengejar waktu masuk pasar, melainkan fokus pada strategi yang lebih disiplin dan sesuai kemampuan finansial.
Emas Bukan untuk Kejar Keuntungan Cepat
Handi menekankan bahwa emas memiliki karakter berbeda dari aset yang biasa dipakai untuk trading. Menurut dia, emas lebih tepat diperlakukan sebagai lindung nilai dan penyimpanan kekayaan dalam periode menengah sampai panjang.
“Antam selama mengedukasi masyarakat, emas itu tidak pernah jangka pendek. Emas itu jangka menengah dan jangka panjang. Jadi kalau kepentingan untuk trading, spekulan lebih baik jangan,” ujarnya dalam program News Hour CNN TV.
Pernyataan tersebut sekaligus menjawab pertanyaan yang kerap muncul di tengah fluktuasi harga emas. Banyak calon pembeli menunggu momen tertentu, padahal Antam menilai keputusan membeli lebih dipengaruhi oleh kesiapan dana daripada prediksi harga.
Kapan Waktu Terbaik Beli Emas?
Handi menyebut tidak ada waktu spesifik yang harus ditunggu untuk membeli emas. Menurut dia, waktu terbaik justru muncul ketika seseorang sudah memiliki dana dan kebutuhan investasinya memang sudah jelas.
“Makanya sering sekali ditanya, kapan waktu yang terbaik untuk membeli emas, menurut kami adalah saat Anda memiliki uang,” ujar Handi.
Pernyataan itu menggarisbawahi pendekatan yang sederhana namun penting bagi investor ritel. Pembeli tidak perlu menunggu harga turun ke level tertentu jika tujuan utamanya adalah menabung emas secara bertahap.
Strategi yang Disarankan Antam
Antam mendorong masyarakat membeli emas secara berkala agar risiko lebih terkendali. Strategi ini dinilai lebih aman dibandingkan masuk sekaligus dalam jumlah besar saat harga sedang bergerak cepat.
- Beli emas saat dana tersedia.
- Hindari pembelian besar sekaligus atau all in.
- Lakukan pembelian bertahap tiap bulan.
- Periksa harga resmi sebelum membeli.
- Tahan diri jika harga di pasar terlalu jauh dari harga wajar.
Handi menilai cara mencicil pembelian bisa membantu meredam risiko volatilitas. Dengan begitu, konsumen tidak terlalu tertekan jika harga bergerak naik setelah pembelian.
“Berapapun harganya Anda beli, tapi cicil, jangan all in. Ketika all in, tentunya risiko menjadi terpapar begitu dahsyat. Lebih baik kita cicil tiap bulan,” jelasnya.
Waspada Harga yang Tidak Wajar
Selain soal waktu pembelian, Antam juga meminta masyarakat berhati-hati terhadap harga emas yang terpaut jauh dari harga resmi. Menurut Handi, selisih yang terlalu tinggi bisa menjadi tanda adanya praktik percaloan di pasar.
Ia menyebut selisih harga 10 persen, 20 persen, hingga 30 persen dari harga resmi sebaiknya tidak diikuti. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat dinilai lebih baik menunda pembelian daripada terjebak harga yang tidak wajar.
“Cuma yang kita lihat dan kita selalu edukasi kepada masyarakat, janganlah FOMO. Ketika harga resmi Antam dibandingkan harga tempat Anda mau beli, itu terpaut 10 persen, 20 persen, 30 persen. Lebih baik tidak usah beli. Lebih baik kita tunggu harga yang benar,” kata Handi.
Antam menilai pembelian pada harga yang terlalu tinggi justru ikut menjaga praktik percaloan tetap hidup. Karena itu, konsumen diminta berani menahan diri sampai menemukan harga yang sesuai dan masuk akal.
Mengapa FOMO Jadi Risiko
Fenomena fear of missing out atau FOMO sering muncul saat harga emas naik dan banyak orang takut tertinggal momentum. Dalam situasi seperti ini, pembeli cenderung mengambil keputusan cepat tanpa membandingkan harga resmi dengan harga di lapangan.
Menurut Antam, perilaku itu berisiko merugikan konsumen karena bisa membuat pembeli masuk pada level harga yang sudah tidak rasional. Di sisi lain, kebiasaan itu juga memperpanjang ruang bagi pihak yang memanfaatkan selisih harga untuk keuntungan tidak sehat.
Handi menegaskan bahwa masyarakat lebih bijak jika tidak memaksakan pembelian saat harga belum wajar. Langkah menunggu justru bisa melindungi nilai investasi sekaligus mendorong pasar emas yang lebih sehat dan transparan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnnindonesia.com