AS Tolak Visa 15 Delegasi Iran, Bayang-Bayang Politik Menjelang Piala Dunia 2026

Iran memprotes keras keputusan Amerika Serikat yang disebut menolak visa bagi 15 anggota delegasi Piala Dunia mereka. Polemik ini mencuat saat tim nasional Iran bersiap berangkat dari pemusatan latihan di Turki menuju Meksiko.

Kabar ini menambah panas hubungan kedua negara di tengah persiapan menuju Piala Dunia 2026. Ajang itu akan digelar bersama oleh Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, hanya beberapa hari setelah persoalan visa tersebut mencuat.

Seorang reporter televisi pemerintah dari Antalya menyebut visa untuk tim nasional dan staf teknis sudah terbit. Namun, ia mengatakan 15 anggota administrasi dan manajemen belum mendapatkan izin masuk dari Amerika Serikat.

Iran kemudian melontarkan kritik pada Sabtu setelah sebagian staf pendukung tim mereka tidak mendapat visa. Kedutaan Besar Iran di Turki menyebut ada staf manajerial, eksekutif, dan pihak lain yang ditolak visanya.

Respons keras dari Iran

Kedutaan Besar Iran di Turki menilai perlakuan itu sengaja mendiskriminasi tim nasional Iran. Dalam unggahan di X, kedutaan itu menyebut perlakuan terhadap tim Iran sudah meningkat ke tingkat tertinggi.

Kedutaan juga meminta FIFA meminta pertanggungjawaban Amerika Serikat atas dugaan pelanggaran aturan. Mereka menilai keputusan itu tidak sejalan dengan prinsip perlakuan tanpa diskriminasi dalam olahraga.

Federasi Sepak Bola Iran ikut mengecam langkah tersebut. Federasi menyebutnya sebagai “intervensi politik dalam olahraga dalam bentuk terburuk” dan berjanji membawa persoalan itu ke FIFA.

Sorotan pada pihak yang ditolak

Di antara nama yang disebut terdampak, ketua federasi Iran Mehdi Taj dilaporkan termasuk pihak yang visanya ditolak. Media diaspora Iran juga menyebut Taj sebagai mantan anggota Garda Revolusi.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan masalahnya bukan pada para pemain Iran. Ia menyebut persoalan terletak pada “beberapa orang lain yang ingin mereka bawa” dan menyinggung dugaan hubungan dengan Garda Revolusi Iran yang masuk daftar organisasi teroris versi AS.

Di sisi lain, para pemain Iran sudah menerima visa mereka pada Jumat malam. Utusan AS untuk Turki, Tom Barrack, mengumumkan kabar itu lewat X dan memuji kerja Kedutaan Besar AS di Ankara dalam memproses visa untuk tim nasional Iran.

Tim Iran sendiri tengah menjalani pemusatan latihan di kawasan wisata Antalya, Turki selatan, sejak 18 Mei. Persiapan itu berlangsung di tengah ketegangan politik yang kembali memengaruhi perjalanan mereka ke turnamen terbesar sepak bola dunia.

Latar konflik yang ikut membayangi

Perselisihan ini juga terjadi di tengah situasi politik yang masih tegang antara Iran dan Amerika Serikat. Dalam bahan yang tersedia, perang disebut dimulai setelah Amerika Serikat dan Israel memulai serangan ke Iran pada 28 Februari, lalu sempat dihentikan oleh gencatan senjata pada 8 April.

Namun, gencatan senjata itu disebut kembali terancam runtuh karena meningkatnya serangan balasan antara AS dan Iran. Kondisi tersebut membuat isu visa tim nasional Iran ikut terbawa dalam suasana konflik yang lebih luas.

Bagi Iran, masalah visa ini bukan sekadar urusan administratif menjelang Piala Dunia. Mereka menilai keputusan itu menciptakan perlakuan yang tidak adil terhadap tim nasional saat para pemain bersiap tampil di panggung sepak bola terbesar di dunia.

Source: news.detik.com
Exit mobile version