Stella Christie Ungkap Kunci Daya Saing Indonesia di Era AI, Data Jadi Modal Utama

Perkembangan AI bergerak cepat, dan Indonesia disebut tidak boleh hanya menjadi penonton. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menilai daya saing Indonesia justru bisa dibangun dari kekuatan yang sudah dimiliki sendiri, terutama data.

Dalam pandangannya, pengembangan AI perlu diarahkan pada keunggulan Indonesia agar negara ini bisa mengambil peran lebih besar dalam ekosistem AI global. Ia menekankan bahwa peluang dan prioritas pembangunan seharusnya berjalan seiring, bukan dipisahkan.

Data disebut sebagai modal strategis

Stella menjelaskan bahwa AI bertumpu pada tiga komponen utama, yaitu algoritma, daya komputasi, dan data. Dari tiga unsur itu, ia menilai Indonesia punya peluang besar pada aspek data yang bisa menjadi modal strategis dalam pengembangan teknologi AI.

“Data adalah oksigen bagi AI. Jika Anda tidak memiliki data, tidak peduli seberapa bagus algoritma Anda atau seberapa kuat computing power Anda, Anda tidak akan mendapatkan model AI seperti yang dunia miliki hari ini,” ujar Stella dikutip dari laman Kemendikti Saintek, Rabu (15/7/2026).

Ia menambahkan, kekayaan data Indonesia di berbagai sektor perlu dipandang sebagai aset yang bisa dimanfaatkan untuk mendorong inovasi dan memperkuat kontribusi Indonesia dalam perkembangan AI. Menurutnya, kekuatan itu harus digunakan agar Indonesia punya peluang menjadi pemain besar.

Komponen AIPeranCatatan Stella Christie
AlgoritmaDasar pemrosesan AIBelum cukup tanpa data dan computing power
Daya komputasiKekuatan komputasi model AIPerlu didukung unsur lain agar model bisa berkembang
DataBahan utama pembelajaran AIDisebut sebagai “oksigen bagi AI”

Investasi jangka panjang masih menjadi syarat

Pernyataan itu disampaikan Stella saat menjadi pembicara dalam sesi Fireside Chat bertajuk Education and AI pada forum Sino-Indonesian Next Generation Dialogue (SINGD) 2026 di Tsinghua Southeast Asia Center, Sabtu (11/7/2026). Forum itu mempertemukan pemimpin muda, akademisi, pelaku industri, dan pembuat kebijakan dari Indonesia dan Tiongkok.

Di forum tersebut, Stella juga berbagi pengalaman sebagai akademisi di Amerika Serikat dan Tiongkok. Dari pengalamannya, ia menilai kemajuan sains dan teknologi tidak bisa lepas dari investasi konsisten pada pendidikan tinggi, talenta, dan riset.

Ia menilai penguatan sumber daya manusia unggul dan ekosistem riset menjadi fondasi penting untuk menjaga daya saing bangsa di tengah perkembangan teknologi yang makin pesat. Karena itu, arah pembangunan AI tidak cukup hanya mengejar teknologi, tetapi juga menyiapkan ekosistem pendukungnya.

Indonesia didorong mengambil peluang yang ada

Stella mengajak peserta forum melihat AI sebagai peluang yang perlu direspons dengan strategi yang sesuai dengan karakteristik Indonesia. Bagi dia, prioritas pembangunan harus berangkat dari kemampuan bangsa dalam mengenali kesempatan yang tersedia.

Dengan keunggulan pada data, investasi pendidikan tinggi, dan riset yang konsisten, Indonesia dinilai punya ruang untuk memainkan peran yang lebih besar dalam perkembangan AI global. Pandangan ini menempatkan data bukan sekadar bahan mentah, melainkan aset strategis yang bisa menentukan posisi Indonesia di masa depan.

Terkait