Laut Indonesia Kian Tertekan, Mikroplastik Sudah Masuk ke Rantai Makanan

Kondisi laut Indonesia dinilai semakin mengkhawatirkan karena pencemaran tidak hanya terlihat di kota-kota besar, tetapi juga telah menjalar ke kawasan pesisir. Ancaman ini berisiko meluas dari rusaknya habitat laut hingga keamanan pangan yang dikonsumsi masyarakat.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Etty Riani, menyoroti besarnya tekanan terhadap ekosistem laut tersebut. Menurutnya, sebagian besar pencemaran laut justru bermula dari berbagai aktivitas di daratan.

Limbah domestik, industri, dan pertanian dapat terbawa aliran sungai sebelum akhirnya bermuara ke laut. Sampah dari aktivitas manusia juga menjadi bagian dari persoalan yang terus menumpuk di lingkungan pesisir dan perairan.

Plastik Mendominasi Sampah di Pesisir

Sampah plastik masih menjadi penyumbang terbesar pencemaran laut Indonesia berdasarkan temuan penelitian di wilayah pesisir. Jenis yang banyak ditemukan mencakup kemasan makanan dan minuman sekali pakai, kantong plastik, botol, sedotan, styrofoam, jaring, serta tali plastik.

Masalahnya, plastik tidak mudah terurai dan dapat bertahan ratusan tahun di lingkungan. Dalam waktu panjang, material ini akan pecah menjadi partikel yang jauh lebih kecil, yakni mikroplastik dan nanoplastik.

Partikel tersebut kini telah ditemukan di air laut dan sedimen. Mikroplastik juga ditemukan pada ikan, kerang, udang, teripang, hingga garam, sehingga persoalannya tidak lagi terbatas pada sampah yang tampak di permukaan perairan.

Keberadaan mikroplastik pada berbagai biota laut membuka risiko bagi ekosistem dan manusia melalui rantai makanan. Akumulasi bahan pencemar pada hasil laut dapat menjadi perhatian dalam aspek keamanan pangan dan kesehatan masyarakat.

Habitat Penting Ikut Terancam

Pencemaran tidak hanya menurunkan kualitas air laut, tetapi juga dapat merusak ekosistem penting di pesisir. Mangrove, padang lamun, dan terumbu karang merupakan habitat bagi beragam biota laut yang dapat terdampak kondisi tersebut.

Kerusakan habitat berpotensi memengaruhi produktivitas perikanan dalam jangka panjang. Etty memperingatkan, bila pencemaran dibiarkan dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, hasil perikanan diperkirakan dapat menurun akibat habitat ikan yang rusak.

Dampak ekonomi juga dapat dirasakan nelayan melalui penurunan hasil tangkapan dan kualitas produk perikanan. Sektor wisata bahari berisiko ikut terdampak jika kualitas lingkungan pesisir terus memburuk.

Dalam keterangan IPB University yang dikutip Kompas.com, Etty menekankan bahwa penanganan persoalan ini tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. “Penanganan pencemaran laut harus dilakukan secara terpadu melalui penguatan penegakan hukum, penerapan ekonomi sirkular, serta kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat,” ujarnya.

Peran Masyarakat dari Aktivitas Harian

Pengurangan sampah plastik sekali pakai menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan masyarakat agar sampah tidak berakhir di laut. Membawa tas belanja dan botol minum sendiri dapat menjadi pilihan sederhana dalam aktivitas sehari-hari.

Masyarakat juga dapat memilah sampah serta mengolah sampah organik menjadi kompos. Tidak membuang sampah ke sungai dan pantai penting dilakukan karena aliran sungai dapat membawa limbah menuju kawasan laut.

Kegiatan bersih sungai dan pantai juga menjadi bentuk partisipasi yang dapat membantu mengurangi sampah di lingkungan. Etty menilai edukasi di keluarga dan lingkungan sekitar perlu diperkuat agar pengelolaan sampah menjadi budaya sehari-hari.

Upaya tersebut diarahkan untuk menjaga laut tetap sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. Perlindungan ekosistem pesisir menjadi penting karena dampak pencemaran dapat menjalar ke perikanan, pangan, mata pencaharian nelayan, dan wisata bahari.

Terkait