Erika Dewi Agustin membuktikan bahwa pelajaran matematika dapat didekati melalui budaya lokal. Inovasinya memakai Tari Kembang Kahyangan untuk membantu siswa sekolah dasar memahami geometri mengantarkannya lulus S1 tanpa skripsi konvensional.
Artikel ilmiah yang membahas inovasi tersebut berhasil terbit di jurnal nasional terakreditasi Sinta 2. Capaian itu menjadi jalur kelulusan bagi Erika di Universitas Negeri Surabaya atau Unesa.
Belajar geometri melalui gerak tari
Media pembelajaran yang dirancang Erika dikenal sebagai etnomatematika. Pendekatan ini menghubungkan konsep matematika dengan unsur budaya yang dekat dengan kehidupan siswa.
Ia menggunakan kelenturan pola lantai serta gerakan tangan dalam Tari Kembang Kahyangan. Tarian tradisional dari Kabupaten Bojonegoro itu dipilih sebagai media untuk siswa kelas II sekolah dasar.
Fokus pembelajarannya adalah membantu anak memahami konsep geometri dengan cara yang lebih menyenangkan. Gagasan tersebut berangkat dari kenyataan bahwa matematika masih kerap dianggap sebagai pelajaran sulit oleh banyak siswa.
Menurut laporan Kompas.com, ide menggabungkan matematika dengan tarian lokal muncul setelah Erika berdialog dengan sejumlah siswa SD di Bojonegoro. Dalam proses itu, ia juga menemukan bahwa sebagian generasi muda mulai asing dengan Tari Kembang Kahyangan, warisan budaya daerah mereka sendiri.
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Media budaya | Tari Kembang Kahyangan dari Bojonegoro |
| Sasaran pembelajaran | Siswa kelas II sekolah dasar |
| Materi utama | Konsep geometri |
| Hasil akademik | Artikel terbit di jurnal nasional terakreditasi Sinta 2 |
| Prestasi kelulusan | IPK 3,98 dan wisudawan terbaik FIP Unesa |
Prestasi akademik dan jalur kelulusan
Keberhasilan publikasi ilmiah tersebut membuat Erika dapat menyelesaikan pendidikan sarjananya tanpa menempuh jalur skripsi biasa. Ia kemudian dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Fakultas Ilmu Pendidikan Unesa.
Erika meraih IPK 3,98 pada wisuda ke-120 Unesa yang berlangsung pada akhir Juni 2026. Prestasi itu menempatkan inovasi pembelajaran berbasis budaya sebagai bagian penting dari perjalanan akademiknya.
Perjalanan Erika juga menarik karena ia tidak berasal dari jalur pendidikan umum sejak awal. Sebelum kuliah di Unesa, ia merupakan lulusan SMK jurusan Rekayasa Perangkat Lunak.
Latar belakang teknologi tersebut menjadi bekal tambahan saat ia merancang media pembelajaran sekolah dasar yang adaptif dengan era digital. Di Unesa, ia lalu mendalami bidang pendidikan dasar dan mengarahkan minatnya pada kebutuhan belajar anak.
Aktif membangun pengalaman di luar kelas
Selama masa studi, Erika memperluas pengalamannya melalui Program Pertukaran Mahasiswa dan Program Surabaya Mengajar. Kegiatan ini memberinya kesempatan mengenal pengalaman lapangan sebagai calon guru.
Ia juga aktif dalam organisasi Pramuka Unesa serta PGSD Development Community. Keterlibatan tersebut menjadi ruang bagi Erika untuk mengasah kepemimpinan di luar perkuliahan.
Di balik capaian akademiknya, Erika tumbuh dalam keluarga sederhana di mana ayahnya, Ponco, bekerja sebagai petani. Ibunya, Nyami Muharti, merupakan ibu rumah tangga, sementara Erika adalah anak tunggal dalam keluarga tersebut.
Kedua orang tuanya menjadi sumber motivasi bagi Erika untuk menjaga konsistensi belajar. Ia membangun kebiasaan mencicil tugas jauh sebelum tenggat waktu agar setiap tanggung jawab akademik dapat diselesaikan dengan lebih teratur.
Setelah menyandang gelar sarjana, Erika bersiap mengabdikan ilmu serta inovasinya sebagai guru sekolah dasar. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa etnomatematika dapat membuka cara belajar yang lebih dekat dengan budaya siswa sekaligus menjaga keberadaan Tari Kembang Kahyangan.
