Alifia Citra Ayuningtyas membuktikan keterbatasan ekonomi tidak menghentikan langkahnya menuju perguruan tinggi. Dibesarkan oleh ibu single parent yang menanggung tiga anak, ia diterima di Universitas Gadjah Mada dan memperoleh dukungan beasiswa untuk kuliah.
Perjalanan Alifia menjadi perhatian karena pendidikan ia jadikan jalan untuk memperbaiki kondisi keluarga. Ia berupaya meraih prestasi agar tidak terlalu membebani ibunya dalam memenuhi biaya pendidikan.
Alifia diterima di Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM), melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi atau SNBP. Kelulusan itu menjadi hasil dari rekam jejaknya selama bersekolah, termasuk aktivitas organisasi dan capaian kompetisi.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Perguruan tinggi | Universitas Gadjah Mada |
| Program studi | Agronomi, Fakultas Pertanian |
| Jalur masuk | Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) |
| Sekolah asal | SMA Unggulan CT ARSA Foundation |
Berangkat dari sekolah dengan beasiswa penuh
Sebelum diterima di UGM, Alifia menempuh pendidikan di SMA Unggulan CT ARSA Foundation. Para siswa di sekolah tersebut belajar tanpa biaya karena mendapatkan beasiswa penuh.
Di lingkungan sekolah, Alifia aktif dalam organisasi jurnalistik serta Dewan Ambalan VI Gudep SMA Unggulan CT ARSA Foundation. Ia juga pernah menjalankan peran sebagai English Ambassador di sekolahnya.
Prestasinya tidak hanya datang dari kegiatan organisasi. Alifia pernah meraih Juara III Lomba Business Model Canvas, yang turut memperkuat portofolionya saat mengikuti jalur SNBP.
Menurut keterangan UGM yang dikutip detik.com, Alifia mengaku sempat tidak menyangka dapat lolos di pilihan program studi Agronomi. Pengumuman kelulusannya dibuka oleh sang adik pada pukul 15.00, lalu disambut teriakan gembira di rumah.
“Saya ingat, jam 3 sore. Yang membukakan pengumuman saat itu adik saya, adik saya teriak ‘lolos kak, alhamdulillah!’. Bersyukur, saya lolos di pilihan agronomi,” ujar Alifia.
Beasiswa belum menghapus seluruh kebutuhan
Pilihan Alifia terhadap UGM sejak awal berkaitan dengan pertimbangan ekonomi keluarga. Ia menilai biaya kuliah dan biaya hidup di wilayah kampus tersebut lebih terjangkau dibandingkan pilihan kampus lain.
Setelah diterima, Alifia memperoleh beasiswa dari kampus dan mitra kampus. Dukungan itu membantu pembiayaan pendidikan, tetapi masih ada kebutuhan lain yang perlu dipikirkan, seperti transportasi dan kebutuhan perkuliahan sehari-hari.
Ibunya, Martini, bekerja sebagai buruh lepas dan asisten rumah tangga dengan penghasilan terbatas. Ia bersyukur putrinya dapat diterima di UGM sekaligus mendapatkan dukungan pendidikan.
“Saya sangat bersyukur. Saya yang hanya bekerja sebagai buruh lepas dan asisten rumah tangga dengan penghasilan yang sangat terbatas. Alhamdulillah, sekarang Fia bisa sampai di titik ini, diterima di UGM, masih mendapat dukungan, dan diperkenalkan dengan Paragon,” tutur Martini.
Martini mengatakan keluarga masih mempertimbangkan biaya transportasi dari rumah dan kemungkinan biaya kos. Keluarga hanya memiliki satu motor, sehingga kebutuhan mobilitas Alifia selama kuliah menjadi salah satu perhatian.
Di tengah perhitungan tersebut, Alifia tetap optimistis dapat menjalani masa kuliah dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diperolehnya. Ia juga mengajak siswa lain untuk tidak menyerah hanya karena terkendala biaya pendidikan.
“Jangan takut untuk mencoba semua hal. Meskipun kita belum tahu hasilnya seperti apa, suatu hari nanti pengalaman itu akan menjadi cerita, penyemangat, atau membentuk karakter kita menjadi lebih kuat,” kata Alifia.







