Negosiasi intens dan penuh tekanan di KTT Iklim PBB ke-30 (COP30) yang berlangsung di Belém, Brasil, harus mengalami gangguan besar pada Kamis sore, 20 November 2025. Sebuah kebakaran kecil yang diduga berasal dari peralatan dapur, tepatnya microwave, mengirimkan asap ke ruang pertemuan dan menyebabkan 13 peserta terpapar asap. Akibatnya, jadwal perundingan penting termasuk finalisasi draf penghentian bahan bakar fosil terganggu dan tertunda.
Insiden ini terjadi saat delegasi dari berbagai negara sedang berusaha merampungkan kesepakatan yang sangat krusial bagi masa depan planet. Api yang tiba-tiba muncul di zona biru COP30 langsung memicu evakuasi cepat dan penanganan darurat oleh petugas pemadam kebakaran setempat. Untungnya, tidak ada korban luka serius, tetapi dampak kebakaran cukup signifikan untuk membatalkan sejumlah pertemuan penting yang sudah dijadwalkan.
Kronologi dan Dampak Kebakaran di COP30
Menurut pernyataan resmi dari tim penyelenggara PBB, kebakaran bermula di salah satu area utama konferensi yang diduga akibat kerusakan perangkat listrik. Dugaan kuat mengarah pada sebuah microwave dapur yang mengalami korsleting. Kejadian ini menjadi ironis karena sedang dibahas transisi energi dari bahan bakar fosil yang selama ini menjadi penyebab utama krisis iklim global.
Kebakaran memaksa seluruh peserta meninggalkan ruang konferensi pada pukul 14.00 waktu setempat. Sejumlah pertemuan tinggi tingkat menteri, termasuk rapat koordinasi dari Uni Eropa dan diskusi negara-negara kepulauan kecil, harus dibatalkan atau ditunda. Semua jadwal yang dirancang dengan ketat menjadi kacau dan menyisakan ketidakpastian terkait kelanjutan proses negosiasi.
Pentingnya Penyelesaian Draf Bahan Bakar Fosil
Pada saat kebakaran terjadi, delegasi sedang berada di fase krusial perundingan soal pengurangan atau penghentian penggunaan bahan bakar fosil. Topik ini menjadi yang paling sensitif dan menentukan keberhasilan KTT iklim tersebut. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres sebelumnya sudah mengingatkan para peserta untuk segera menghentikan debat yang berlarut-larut dan mencapai kesepakatan.
Namun, insiden yang tidak diduga ini memaksa jeda paksa dalam pembahasan. Banyak pihak beranggapan bahwa gangguan ini akan mempersulit penyelesaian KTT tepat waktu. Kini, kemungkinan besar pembahasan akan diperpanjang hingga akhir pekan untuk mengejar target yang sempat tertunda.
Ironi dan Pelajaran dari Kebakaran di COP30
Kisah kebakaran di tengah perundingan iklim ini menjadi simbol ironi yang mencolok. Di saat dunia berupaya memadamkan "api" krisis iklim yang mengancam kehidupan, justru "api kecil" dari perangkat dapur berhasil membuat kekacauan besar. Hal ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dan pengelolaan risiko dalam setiap acara bertaraf internasional yang mengangkat isu kritis.
Semua pihak yang hadir di KTT COP30 diingatkan bahwa bahkan gangguan kecil bisa berdampak besar pada proses diplomasi iklim yang sudah sangat kompleks. Kejadian ini juga memperlihatkan bahwa fokus pada aspek teknis dan keselamatan tidak boleh dikesampingkan di tengah agenda besar dunia.
Fakta Penting Insiden Kebakaran COP30
- Terjadi pada Kamis, 20 November 2025, di lokasi COP30 Belém, Brasil.
- Sebanyak 13 peserta terpapar asap dan mendapat perawatan darurat.
- Dugaan penyebab utama kebakaran adalah korsleting pada peralatan microwave dapur.
- Semua jadwal perundingan, termasuk finalisasi draf akhir bahan bakar fosil, tertunda.
- Sekjen PBB sudah meminta para delegasi untuk segera mencapai kesepakatan sebelum insiden terjadi.
Kejadian ini menyoroti kembali betapa gentingnya kondisi negosiasi iklim dan betapa mudahnya gangguan kecil mempengaruhi usaha global. COP30 akan menjadi tantangan besar yang harus dihadapi oleh seluruh delegasi demi menyelamatkan masa depan planet.
Baca selengkapnya di: www.suara.com





