Pasukan Penjaga Pantai Amerika Serikat (US Coast Guard) resmi menghentikan operasi pencarian korban yang hilang di perairan Samudra Pasifik Timur pada Jumat malam waktu setempat. Langkah ini diambil setelah serangan militer oleh AS terhadap beberapa kapal yang diduga membawa narkoba pada awal pekan ini.
Serangan militer AS menargetkan sebuah konvoi yang terdiri dari tiga kapal penyelundup narkoba di perairan internasional pada Selasa lalu. Dari insiden tersebut, tiga orang tewas di salah satu kapal, sementara awak kapal lain memilih meninggalkan kapal dan terjun ke laut.
Komando Selatan AS (US Southern Command) segera mengkoordinasikan upaya pencarian dan penyelamatan (SAR) bersama Penjaga Pantai setelah serangan. Namun, lokasi persis serangan tidak diumumkan secara rinci, sehingga operasi pencarian menghadapi tantangan signifikan.
Kendala Jarak dan Cuaca
Penjaga Pantai AS memimpin operasi pencarian sejak lebih dari 65 jam terakhir dengan fokus di area sekitar 400 mil laut di sebelah barat daya perbatasan Meksiko-Guatemala. Namun posisi yang sangat jauh dari pangkalan utama menyulitkan sumber daya dan mencapai lokasi pencarian secara optimal.
Cuaca di laut juga tidak bersahabat, memperparah kesulitan dalam melaksanakan pencarian. Kapten Penjaga Pantai, Patrick Dill, menyatakan bahwa penghentian operasi merupakan keputusan sulit karena tidak ditemukan tanda-tanda positif setelah upaya komprehensif. Mereka memilih menghentikan pencarian aktif sembari menunggu perkembangan situasi.
Probabilitas Keselamatan Korban Sangat Rendah
Pihak berwenang menilai kemungkinan bertahan hidup para korban sangat rendah mengingat faktor waktu yang telah berlalu, kondisi laut yang keras, serta keterbatasan logistik di lokasi. Peluang menemukan orang yang selamat dianggap hampir mustahil pada tahap respons saat ini.
Kapten Dill menambahkan bahwa berdasarkan waktu yang sudah berlalu, kondisi lingkungan ekstrem, dan ketersediaan sumber daya untuk mereka yang terdampar di laut, peluang keberhasilan pencarian sangat minim.
Sampai kini, belum ada informasi resmi mengenai identitas korban maupun negara asal kapal-kapal dalam konvoi penyelundupan narkoba tersebut. Operasi militer dan penghentian pencarian ini mencerminkan kompleksitas dan risiko tinggi dalam upaya pemberantasan jaringan narkoba melalui jalur laut.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com




