Somaliland dan Somalia berasal dari satu akar sejarah yang sama, tetapi nasib keduanya kini berjalan sangat berbeda. Somaliland mendeklarasikan kemerdekaan dari Somalia sejak 1991 dan kini mendapat pengakuan diplomatik pertama dari Israel.
Secara geografis, Somaliland terletak di kawasan Tanduk Afrika, tepatnya di bagian barat laut Somalia yang dulunya merupakan wilayah Protektorat Inggris. Wilayah ini memiliki garis pantai strategis sepanjang ratusan mil di tepi Teluk Aden.
Somaliland berbatasan langsung dengan Ethiopia di selatan dan barat, serta Djibouti di barat laut. Luas wilayahnya mencapai sekitar 177.000 kilometer persegi dengan populasi sekitar 5,7 juta jiwa. Kota Hargeisa menjadi ibu kotanya yang sekaligus pusat pemerintahan.
Berbeda dengan Somalia, Somaliland memiliki sistem pemerintahan sendiri, termasuk kepolisian, mata uang, dan lembaga politik yang berjalan secara mandiri. Saat ini, Somaliland dipimpin oleh Presiden Abdirahman Mohamed Abdullahi, yang dikenal dengan nama Abdirahman Cirro.
Perbedaan kedua entitas ini bermula dari masa kolonialisme. Somaliland adalah bekas protektorat Inggris hingga 1960, sedangkan wilayah Somalia pernah dijajah oleh Italia. Kedua wilayah ini sempat bersatu membentuk Republik Somalia pada 1960, meski pemerintahan terpusat di Mogadishu menimbulkan ketidakpuasan.
Ketegangan akhirnya memuncak pada tahun 1980-an dengan munculnya Gerakan Nasional Somalia (SNM), kelompok pemberontak dari Somaliland yang menolak rezim militer Presiden Siad Barre. Setelah penggulingan Barre pada 1991, SNM mendeklarasikan kemerdekaan Somaliland secara sepihak.
Pada 2001, Somaliland berhasil mengesahkan konstitusi baru melalui referendum dan mengembangkan sistem demokrasi multipartai secara damai. Namun, hingga kini belum ada negara di dunia yang memberikan pengakuan resmi, sampai langkah Israel yang menjadi negara pertama mengakuinya secara diplomatik pada akhir 2023.
Kondisi di Somaliland sangat kontras dibanding Somalia yang berulang kali diguncang perang saudara dan ketidakstabilan. Somaliland relatif stabil dan lebih aman, meski tanpa pengakuan internasional yang menyulitkan akses perdagangan dan investasi.
Ekonomi Somaliland juga bergantung besar pada remitansi dari diaspora dan ekspor ternak ke negara-negara Teluk. Pendapatan per kapita Somaliland mencapai sekitar 1.500 dollar AS, yang walaupun rendah masih tiga kali lipat dibanding Somalia.
Pengakuan Israel terhadap Somaliland menimbulkan reaksi keras dari dunia Arab. Liga Arab dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan kedaulatan Somalia.
Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit, menyatakan bahwa pengakuan ini melanggar prinsip persatuan negara dan berpotensi menciptakan ketegangan di kawasan Tanduk Afrika. GCC juga memperingatkan bahwa preseden ini dapat memicu konflik dan merusak stabilitas regional.
Dengan kondisi politik dan sejarah yang kompleks, Somaliland tetap eksis sebagai entitas de facto merdeka di Tanduk Afrika. Pengakuan oleh Israel membuka babak baru dalam perjuangan internasional Somaliland untuk mendapatkan status negara berdaulat resmi.
Meski perbedaan mendasar membedakan Somaliland dan Somalia, kedua wilayah ini masih saling berhubungan secara etnis dan kultural sebagai bagian dari bangsa Somali secara luas. Upaya dialog dan penyelesaian konflik tetap menjadi kunci bagi masa depan kawasan tersebut.
Baca selengkapnya di: www.suara.com




