Warga Venezuela saat ini menghadapi situasi genting yang memicu kepanikan dan kebingungan. Setelah rentetan ledakan bom akibat serangan militer Amerika Serikat mereda pada Sabtu pagi, masyarakat langsung berbondong-bondong memadati apotek, supermarket, dan toko bahan pokok untuk membeli persediaan.
Fenomena belanja panik ini terjadi karena kekhawatiran berlangsungnya konflik selama beberapa hari. Berdasarkan pantauan, pribadi-pribadi dan keluarga membeli berbagai kebutuhan seperti air minum, tepung jagung, mentega, keju, roti, beras, serta makanan tahan lama seperti tuna untuk bertahan hidup.
Sebagian besar toko di Venezuela baru membuka pintu lebih siang hari, sementara beberapa lain masih tutup hingga menjelang tengah hari. Salah satu pemilik toko kelontong menyatakan ketidakpastian membuka usahanya karena banyak pegawai belum datang, meski kerumunan pembeli sudah mengantre di luar.
Di kota Maracaibo, warga memanfaatkan situasi untuk mengisi bahan bakar kendaraan. Terpantau persediaan BBM cukup untuk melayani ratusan kendaraan yang antre di stasiun pengisian bahan bakar. Truk-truk milik perusahaan minyak nasional PDVSA juga terlihat mengisi tangki SPBU untuk menjaga ketersediaan bahan bakar.
Serangan bom oleh pasukan AS berlangsung lebih dari dua jam dan dimulai sekitar pukul 02.00 dini hari. Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri dengan tuduhan kriminal narkoterorisme. Informasi tersebut cepat menyebar melalui media sosial dan grup pesan warga.
Reaksi warga pun beragam. Ada yang menangis bahagia, namun mayoritas memilih bersikap hati-hati menunggu arah perubahan politik yang sangat dinamis. Sebagian besar warga belum paham sepenuhnya pernyataan pascapemboman dari pejabat tinggi sekutu Maduro yang disiarkan di televisi pemerintah.
Pemerintah Venezuela merespons situasi dengan menyerukan ketenangan. Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello meminta warga tetap tenang. Menteri Pertahanan Vladimir Padrino menegaskan kesetiaan militer kepada pemerintahan Maduro, sementara Wakil Presiden Delcy Rodríguez menuntut agar Amerika Serikat membuktikan bahwa Maduro masih hidup.
Menariknya, tidak ada seruan dari militer untuk aksi perlawanan atau perang gerilya, yang sebelumnya pernah diisyaratkan Maduro jika negara menghadapi agresi asing. Situasi di siang hari menunjukkan tidak adanya musuh yang terlihat dan suasana jalanan tetap sunyi tanpa kerumunan massa atau ajakan berperang.
Warga juga semakin berhati-hati dalam mengekspresikan pendapat lewat media sosial. Mereka saling mengingatkan agar menghapus percakapan saat keluar rumah karena kekhawatiran pemeriksaan ponsel oleh aparat keamanan untuk mendeteksi ketidaksetiaan politik.
Saluran televisi pemerintah Venezolana de Television menyiarkan pernyataan dari gubernur dan wali kota pendukung Maduro bersamaan dengan tayangan pria berseragam dan kelompok pendukung yang mengecam serangan Amerika Serikat. Namun, meski dukungan disuarakan secara terbuka, jalanan tetap sepi dan tenang tanpa gejolak atau bentuk protes masif.
Pesan yang beredar di masyarakat adalah anjuran untuk berlindung dan berhati-hati di rumah demi keselamatan. Kekhawatiran yang meliputi aspek keamanan dan kelangsungan kebutuhan pokok mempengaruhi tingkah laku warga selama masa krisis ini, sekaligus menegaskan kondisi ranah sosial-politik Venezuela saat ini yang penuh ketidakpastian dan waspada.
Baca selengkapnya di: www.medcom.id




