Advertisement

China Luncurkan Jutaan Serangan Siber Setiap Hari, Taiwan Hadapi Ancaman Besar

Biro Keamanan Nasional Taiwan (NSB) melaporkan bahwa sepanjang tahun 2025, pasukan siber China melancarkan rata-rata 2,63 juta serangan siber setiap hari terhadap infrastruktur penting di Taiwan. Jumlah ini mengalami peningkatan sekitar enam persen dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan eskalasi ketegangan di ranah siber antara kedua wilayah.

Sektor yang paling sering menjadi target serangan adalah energi, layanan penyelamatan darurat, serta rumah sakit. Lonjakan serangan pada sektor-sektor ini mencerminkan fokus strategi pihak penyerang untuk mengganggu fungsi vital negara dan pelayanan publik.

Metode Serangan Siber yang Digunakan

NSB mencatat setidaknya ada empat metode utama yang digunakan dalam serbuan siber tersebut, yaitu:

  1. Eksploitasi kerentanan perangkat keras dan perangkat lunak.
  2. Serangan penolakan layanan terdistribusi (DDoS).
  3. Teknik rekayasa sosial.
  4. Serangan terhadap rantai pasokan.

Eksploitasi celah sistem menjadi metode yang paling dominan dan menyumbang lebih dari separuh dari total upaya intrusi. Metode ini memanfaatkan kelemahan keamanan dalam perangkat dan aplikasi yang digunakan oleh target untuk mendapatkan akses ilegal.

Kelompok Peretas China yang Aktif

Laporan NSB mengidentifikasi lima kelompok peretas utama asal Tiongkok yang paling aktif menyerang infrastruktur Taiwan. Kelompok tersebut adalah BlackTech, Flax Typhoon, Mustang Panda, APT41, dan UNC3886. Mereka menargetkan lima sektor strategis penting, yakni:

  • Energi
  • Perawatan kesehatan
  • Komunikasi dan transmisi
  • Administrasi pemerintahan dan lembaga publik
  • Teknologi

Sasaran utama dari kelompok-kelompok ini mencerminkan upaya sistematis untuk melemahkan ketahanan nasional Taiwan dalam berbagai aspek kritikal.

Peningkatan Serangan di Momen Politik Sensitif

Intensitas serangan siber meningkat secara tajam pada saat momen-momen politik penting. Puncak tertinggi serangan terjadi jelang peringatan satu tahun pelantikan Presiden Lai Ching-te pada Mei dan saat kunjungan Wakil Presiden Hsiao Bi-khim ke Eropa pada November. Hal ini mengindikasikan bahwa pihak penyerang berupaya memanfaatkan momentum politik untuk memperbesar dampak serangannya.

Meski begitu, NSB tidak mengungkapkan berapa banyak dari serangan-serangan tersebut yang berhasil menembus pertahanan siber Taiwan.

Ancaman Ransomware terhadap Layanan Kesehatan

Sepanjang 2025, terdapat sedikitnya 20 kasus penyebaran ransomware yang berhasil terdeteksi. Rumah sakit besar menjadi sasaran utama serangan ini, yang berpotensi menghambat operasional vital dan membahayakan keselamatan pasien.

Ransomware merupakan salah satu ancaman serius yang dapat memicu gangguan besar pada sistem pelayanan kesehatan yang sangat bergantung pada teknologi informasi.

Respons dan Kerjasama Internasional Taiwan

Menanggapi meningkatnya ancaman, Taiwan memperkuat dialog keamanan informasi dan mengadakan konferensi teknis dengan lebih dari 30 negara selama tahun 2025. Upaya ini dilakukan untuk berbagi intelijen, memperbaiki kapasitas pertahanan siber, dan memantau pola serangan terbaru dari kelompok siber China.

Selain itu, NSB melakukan investigasi bersama terhadap node relai berbahaya yang diyakini mendukung pengambilan keputusan pemerintah, untuk memastikan kesiapan respons dan memperkuat ketahanan infrastruktur.

Pandangan Global Terhadap Ancaman Siber Tiongkok

Laporan juga menyinggung bahwa lembaga keamanan siber dan intelijen di kawasan Indo-Pasifik, NATO, serta Uni Eropa konsisten mengidentifikasi China sebagai sumber utama ancaman siber global. Kecenderungan ini menunjukkan bahwa aktivitas agresif di ranah siber oleh Tiongkok memiliki dampak luas dan menjadi perhatian komunitas internasional.

Pendekatan multilateralisme dan kolaborasi internasional menjadi kunci strategi Taiwan dalam menghadapi tekanan siber yang semakin intensif dari Tiongkok. Langkah penguatan keamanan dan diplomasi digital terus dijalankan guna melindungi kepentingan nasional dan stabilitas regional.

Berita Terkait

Back to top button