Advertisement

Nicolas Maduro Dikabarkan Hilang, Jaksa Agung Venezuela Tuntut AS Ungkap Bukti Hidupnya

Situasi politik Venezuela memanas setelah Amerika Serikat mengklaim berhasil menangkap Presiden Nicolas Maduro dalam sebuah operasi militer di Caracas. Namun, pemerintah Venezuela langsung menolak klaim tersebut dan menuding aksi AS sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara serta hukum internasional.

Jaksa Agung Venezuela, Tarek William Saab, secara tegas menuntut agar AS memberikan bukti nyata bahwa Presiden Maduro dan istrinya, Cilia Flores, masih hidup. Saab juga menyebut dugaan kehilangan kedua tokoh tersebut sebagai tindakan penculikan yang harus segera diselesaikan dan dipertanggungjawabkan oleh pihak penyerang.

Penolakan Pemerintah Venezuela terhadap Klaim AS
Dalam pernyataan resminya, Saab mengutuk keras serangan militer AS yang terjadi di ibu kota Caracas. Dia menyebutnya sebagai bentuk agresi ilegal yang tidak hanya menyerang target militer tetapi juga menimbulkan kerusakan pada infrastruktur sipil. Menurutnya, hal ini jelas melanggar Konvensi Jenewa yang seharusnya melindungi warga sipil dalam situasi konflik.

Saab menekankan bahwa tidak adanya informasi atau bukti visual mengenai kondisi fisik Maduro dan Flores sangat mengkhawatirkan rakyat Venezuela. Ketidakjelasan ini memicu kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya penyiksaan atau eksekusi di luar hukum selama berada di tangan pihak asing.

Desakan Transparansi dan Akuntabilitas
Jaksa Agung meminta agar Amerika Serikat memberikan transparansi penuh terkait keberadaan dan keselamatan Presiden Maduro serta Ibu Negara. Permintaan ini bukan sekadar soal informasi, melainkan sebuah upaya hukum untuk memastikan hak asasi dan keselamatan mereka terlindungi.

Pemerintah Venezuela juga menyebut kondisi ini sebagai kasus penculikan secara de facto yang harus diakhiri dengan segera. Saab mengingatkan bahwa serangan terhadap tempat kediaman presiden negara berdaulat merupakan tindakan yang berpotensi mengguncang stabilitas internasional dan menimbulkan preseden buruk dalam hubungan antarnegara.

Upaya Diplomasi Global
Menghadapi kesulitan menghadapi kekuatan militer AS yang jauh lebih superior, Venezuela menggencarkan upaya diplomasi melalui lembaga internasional. Saab mendesak PBB beserta lembaga hak asasi dunia untuk mengambil sikap tegas dan menghentikan kekerasan yang merugikan warga sipil Venezuala.

Dia menilai diamnya komunitas internasional terhadap serangan ini sebagai bentuk pengkhianatan terhadap prinsip keadilan dan hukum internasional. Pemerintah Venezuela berharap adanya intervensi hukum dan perlindungan HAM secara global agar situasi ini tidak terus memburuk.

Pelanggaran Hukum Internasional dan Dampak Kemanusiaan
Serangan yang menimpa Caracas dianggap merupakan pelanggaran hukum internasional. Selain melanggar kedaulatan, serangan tersebut juga menyerang target non-militer dan membahayakan warga sipil.

Informasi yang dirilis oleh berbagai pihak menyebutkan bahwa dampak serangan meluas hingga ke infrastruktur publik, yang penting untuk kehidupan sehari-hari masyarakat. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran lebih lanjut akan krisis kemanusiaan yang bisa memburuk jika konflik tidak segera diredakan.

Fakta Penting:

  1. AS mengklaim berhasil menangkap Presiden Nicolas Maduro dalam operasi militer di Caracas.
  2. Pemerintah Venezuela membantah dan menyebut tindakan tersebut sebagai agresi militer ilegal dan penculikan.
  3. Jaksa Agung Tarek William Saab mendesak AS memberikan bukti bahwa Maduro dan istrinya masih hidup.
  4. Saab menilai serangan tersebut melanggar hukum internasional dan Konvensi Jenewa, terutama karena menargetkan warga sipil.
  5. Venezuela meminta PBB dan organisasi HAM internasional hadir dan bersikap tegas untuk menghentikan kekerasan.

Ketidakpastian mengenai keberadaan Presiden Maduro dan nasib Ibu Negara semakin menambah ketegangan di wilayah tersebut. Pemerintah Venezuela berupaya menggalang dukungan internasional demi menegakkan supremasi hukum dan perlindungan terhadap hak asasi manusia. Hingga saat ini, dunia masih menunggu kejelasan resmi terkait kondisi kedua tokoh penting tersebut dan dampak jangka panjang dari insiden ini terhadap geopolitik regional.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button