Protes Besar di Iran, Khamenei Tuding Demonstran Sebagai Perusak Ketertiban

Gelombang protes besar kembali mengguncang Iran sejak akhir Desember lalu, memicu tantangan paling serius bagi pemerintahan Republik Islam dalam beberapa tahun terakhir. Demonstrasi bermula akibat krisis ekonomi dan kehancuran nilai mata uang nasional, kemudian berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas dan menuntut perubahan pemerintahan.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menanggapi situasi ini dengan keras. Dalam pidato pertamanya sejak protes meletus, Khamenei menyebut para demonstran sebagai “perusak” dan “sabotaseur” yang bekerja demi kepentingan asing. Ia menuding Amerika Serikat dan kekuatan luar lainnya sebagai dalang di balik kerusuhan tersebut.

Tudingan Campur Tangan Asing dan Penindakan Pemerintah

Khamenei menegaskan bahwa para pengunjuk rasa bertindak atas perintah agenda asing untuk melemahkan Republik Islam. Ia mengatakan, “Mereka merusak jalan-jalan mereka sendiri untuk membuat presiden negara lain senang,” merujuk pada Presiden AS saat itu, Donald Trump. Pernyataan ini menandai sikap pemerintah yang akan melakukan penindakan tegas terhadap para demonstran.

Kepala Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, memperkuat posisi negara dengan ancaman hukuman berat bagi mereka yang terlibat. Ia menyatakan tindakan hukum akan berlaku “tegas, maksimal, dan tanpa kelonggaran” bagi para pengunjuk rasa.

Kekerasan dan Pemadaman Internet

Sejak protes pecah, laporan dari kelompok pemantau HAM menunjukkan adanya korban jiwa dan penangkapan massal. Organisasi Iran Human Rights mencatat sedikitnya 51 orang meninggal dunia, termasuk sembilan anak-anak. Seorang demonstran bernama Maryam menceritakan penggunaan kekerasan brutal oleh aparat keamanan, termasuk tembakan langsung ke mata warga.

Selain itu, pemerintah memberlakukan pemadaman internet nasional yang sudah berlangsung lebih dari 36 jam. Amnesty International menilai pemutusan akses internet ini sebagai upaya menyembunyikan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan aparat keamanan. Pemadaman tersebut dianggap bertujuan untuk mengurangi penyebaran informasi dan menghambat koordinasi demonstran.

Reaksi Internasional dan Kondisi Dalam Negeri

Media pemerintah mendeskripsikan aksi protes sebagai kerusuhan yang didalangi agen teroris asing dan mengklaim telah menangkap mata-mata Israel yang menyusup ke demonstrasi. Namun, klaim ini belum bisa diverifikasi secara independen.

Dari luar negeri, beberapa negara Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris menyatakan keprihatinan atas kekerasan yang dilakukan aparat Iran. Mereka mengutuk pembunuhan terhadap para pengunjuk rasa. Sementara itu, Amerika Serikat membantah tuduhan keterlibatannya dan menilai tuduhan pemerintah Iran sebagai usaha untuk mengalihkan perhatian dari krisis internal yang tengah dihadapi rezim.

Kondisi Politik dan Ekonomi yang Meningkatkan Ketegangan

Meningkatnya krisis ekonomi yang diperparah oleh sanksi dan penurunan nilai mata uang memperburuk kondisi rakyat Iran. Perbatasan akses informasi dan tekanan aparat semakin memperumit situasi. Demonstran menuntut perubahan politik dan mengkritik kepemimpinan Khamenei secara terbuka dengan meneriakkan slogan seperti “mati untuk Khamenei” di sejumlah kota termasuk Teheran, Mashhad, dan Tabriz.

Gelombang protes ini masih berlanjut dengan ketegangan tinggi dan potensi konflik yang semakin memburuk. Perkembangan dalam beberapa hari ke depan akan sangat menentukan arah dan dampak jangka panjang dari demonstrasi ini terhadap stabilitas Republik Islam Iran.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button