Protes Iran Meluas, Tekanan Global Terus Meningkat dan Dampaknya pada Stabilitas Regional

Demonstrasi anti-pemerintah di Iran terus meluas memasuki hari ke-15, meskipun aparat keamanan meningkatkan penindakan. Tekanan dari komunitas internasional juga semakin kuat, terutama dipimpin oleh pernyataan keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Di ibu kota Teheran, suara penolakan terhadap rezim masih menggema di berbagai jalan utama sejak Minggu (11/1) pagi. Beberapa laporan kelompok hak asasi manusia dan media setempat melaporkan kerusuhan, bentrokan, dan penangkapan di puluhan kota lain. Organisasi HAM menyebut sedikitnya 116 orang tewas dalam dua pekan terakhir protes.

Demonstran di wilayah utara Teheran bahkan terlihat menunjukkan dukungan terhadap sistem monarki yang telah lama runtuh. Mereka melakukan aksi simbolik dengan menyalakan kembang api dan memukul panci sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah saat ini.

Presiden Donald Trump menegaskan dukungan Amerika Serikat kepada para demonstran melalui unggahan di media sosial Truth Social, dan menyatakan kesiapannya membantu rakyat Iran. Trump juga memperingatkan otoritas Teheran bahwa jika kekerasan terhadap demonstran berlanjut, Amerika Serikat akan menyerang titik-titik lemah Iran—meski tidak menggunakan pasukan darat.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, turut menunjukkan dukungan serupa melalui platform X, dengan menyatakan solidaritas AS kepada rakyat Iran yang berani melawan rezim. Tekanan ini memperkuat posisi internasional terhadap pemerintah Iran yang sedang menghadapi tantangan serius.

Perkembangan Protes yang Semakin Meluas

Gelombang demonstrasi ini merupakan tantangan terbesar bagi rezim teokratis Iran sejak aksi besar Perempuan, Kehidupan, Kebebasan yang terjadi pada 2022. Protes ini bermula dari kawasan Grand Bazaar Teheran pada akhir Desember lalu dan dengan cepat menyebar ke banyak kota.

Pemerintah Iran membatasi akses internet secara nasional sebelum akhirnya mematikan koneksi hampir total sejak 8 Januari malam. Pemutusan komunikasi ini menyulitkan verifikasi fakta terkait jumlah korban dan penahanan oleh aparat keamanan.

Seorang dokter yang berbicara kepada CNN dari kota Neyshabur melaporkan penggunaan senapan militer oleh aparat untuk menembaki warga, termasuk anak-anak. Dalam pesan audio itu, dokter tersebut menyebut setidaknya 30 orang tewas pada 9 Januari, dengan satu anak berusia 5 tahun yang ditembak dalam pelukan ibunya.

Sementara itu, Kantor Berita Hak Asasi Manusia (HRANA) mencatat 116 kematian dan 2.638 penangkapan selama dua pekan aksi protes, yang terjadi di 574 lokasi di 185 kota dan kabupaten. Militer Iran menyatakan akan bekerja sama mempertahankan infrastruktur strategis selama kerusuhan berlangsung.

Pemicu Ekonomi dan Krisis Politik

Tekanan ekonomi menjadi salah satu penyebab utama demonstrasi ini. Lonjakan harga-harga, inflasi tinggi, serta nilai mata uang yang melemah memicu para pedagang di Teheran memulai pemogokan. Kesulitan ekonomi ini diperparah oleh krisis lingkungan, termasuk kekeringan ekstrem di wilayah dengan 10 juta penduduk.

Presiden Iran, Masud Pezeshkian, berjanji akan mengambil langkah untuk mengatasi beban ekonomi, tetapi tuntutan demonstran meluas ke arah perubahan politik. Sebaliknya, penguasa garis keras Iran menolak kompromi, dengan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menuduh kelompok sabotase sebagai penyebab kerusuhan yang katanya didalangi untuk menguntungkan Amerika Serikat.

Kecaman dan Dukungan Internasional

Berbagai pemimpin barat mengecam tindakan pemerintah Iran dan menyerukan pembebasan tahanan serta pemulihan akses internet. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan pentingnya kebebasan berbicara dan berkumpul bagi rakyat Iran yang menuntut perubahan.

Negara-negara Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris menyatakan sikap prihatin atas kekerasan aparat keamanan Iran dan mengutuk pembunuhan demonstran. Solidaritas juga datang dari tokoh seperti Pangeran Reza Pahlavi, putra mendiang shah terakhir Iran, yang mengapresiasi keberanian demonstran dan menyatakan siap kembali ke Iran.

Gelombang massa pada tanggal 8-9 Januari menguat setelah seruan Reza Pahlavi untuk melanjutkan demonstrasi jalanan. Namun, belum jelas seberapa besar dukungan rakyat Iran terhadap keluarga mantan monarki tersebut secara luas.

Situasi di Iran masih sangat dinamis dengan protes yang kian meluas dan tekanan luar negeri yang meningkat, menandai salah satu periode paling genting dalam sejarah politik negara ini sejak revolusi 1979. Demonstrasi diprediksi akan terus menjadi sorotan dunia seiring perkembangan yang belum menunjukkan tanda meredanya konflik sosial dan politik di negara tersebut.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button