Pejabat Iran Tuntut Penangkapan Donald Trump, Ini Alasan dan Dampaknya untuk Dunia

Pejabat senior Iran, Hassan Rahimpour Azghadi, menyarankan agar Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ditangkap sebagai respons atas tindakan Trump selama masa jabatannya. Menurut Azghadi, penangkapan tersebut seharusnya dilakukan seperti yang pernah dilakukan Amerika Serikat terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Azghadi menyatakan bahwa Trump harus bertanggung jawab atas semua tindakannya, baik saat masih menjabat maupun setelah masa kepresidenannya berakhir. Ia menegaskan, "Iran harus melakukan (penangkapan) terhadap Trump seperti yang mereka lakukan terhadap Maduro. Trump harus membayar atas tindakannya," kata Azghadi, dikutip dari Iran International pada 12 Januari 2026.

Saran ini muncul di tengah gelombang unjuk rasa besar di Iran yang dipicu oleh kemerosotan ekonomi dan krisis mata uang negara. Protes besar yang dimulai dari akhir Desember 2025 ini telah meluas menjadi kritik terhadap pemerintah Iran. Berdasarkan laporan dari kelompok hak asasi manusia Hengaw, setidaknya 25 orang tewas dalam aksi tersebut, termasuk empat anak di bawah umur.

Selain itu, jaringan aktivis HRANA melaporkan sekitar 29 korban tewas dan lebih dari 1.200 orang telah ditangkap hingga awal Januari 2026. Situasi ini memicu respons keras dari Amerika Serikat. Donald Trump pun mengeluarkan peringatan pada 9 Januari 2026 dengan menyatakan kesiapannya untuk campur tangan demi mendukung para pengunjuk rasa.

Trump mengatakan, "Sebaiknya kau jangan mulai menembak karena kami juga akan mulai menembak. Saya hanya berharap para demonstran di Iran akan aman, karena itu adalah tempat yang berbahaya saat ini." Pernyataan ini semakin memperkeruh hubungan antara kedua negara dan memicu sikap tegas dari pejabat Iran.

Poin-poin utama yang melatarbelakangi usulan penangkapan Donald Trump oleh pejabat Iran:

  1. Tindakan Donald Trump yang dianggap agresif dan campur tangan dalam urusan dalam negeri negara lain.
  2. Sikap Trump yang memberikan dukungan terbuka terhadap demonstran anti-pemerintah di Iran.
  3. Pengalaman penangkapan Nicolas Maduro yang dianggap sebagai precedent bagi langkah serupa terhadap Trump.
  4. Krisis berkepanjangan di Iran yang memicu ketegangan diplomatik dengan Amerika Serikat.

Kontroversi ini menyoroti tingkat ketegangan politik antara Iran dan AS yang semakin meningkat sejak protes besar muncul. Pernyataan Azghadi mencerminkan sikap keras dari kalangan elite Iran yang tidak hanya menolak campur tangan luar negeri, tetapi juga mendesak adanya tindakan tegas terhadap mantan Presiden AS yang dianggap bertanggung jawab atas beberapa kondisi yang memberatkan situasi di Iran.

Kasus ini pun memperlihatkan dinamika hubungan internasional yang sangat dipengaruhi oleh faktor politik, ekonomi, dan hak asasi manusia. Meskipun demikian, penangkapan seorang mantan Presiden negara asing akan menimbulkan implikasi hukum dan politik yang sangat kompleks di panggung global.

Sementara itu, Amerika Serikat sendiri terus memantau perkembangan di Iran melalui berbagai saluran diplomatik dan intelijen. Respon yang diberikan Donald Trump terhadap situasi di Iran pun menunjukkan adanya kemungkinan eskalasi lebih lanjut jika kondisi tidak kunjung membaik.

Pernyataan dari pejabat Iran, khususnya Hassan Rahimpour Azghadi, menjadi sinyal kuat bahwa ketegangan kedua negara masih jauh dari resolusi. Iran ingin memastikan setiap tindakan yang dianggap merugikan kedaulatan dan stabilitas negaranya memiliki konsekuensi, termasuk terhadap pejabat asing yang dinilai bersalah.

Berita Terkait

Back to top button