Militer AS Serang Venezuela, Dino Patti Djalal Nilai Hukum Internasional Tergantikan Lawan Kekuatan

Operasi militer Amerika Serikat di Venezuela pada 3 Januari 2025 mengejutkan dunia internasional. Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, berhasil ditangkap dalam sebuah serangan kilat yang dipimpin langsung oleh mantan Presiden AS, Donald Trump.

AS menuduh Maduro sebagai dalang utama di balik jaringan narkoba yang dikenal dengan nama "Cartel de los Soles". Tuduhan tersebut sudah disampaikan Departemen Kehakiman AS sejak tahun 2020. Operasi ini merupakan puncak ketegangan yang sudah berlangsung selama beberapa tahun.

Operasi Militer dan Penangkapan Kilat

Serangan udara presisi tinggi menargetkan pusat-pusat komando penting Venezuela. Dalam waktu hanya 30 menit, pasukan khusus AS berhasil menangkap Maduro dan istrinya sebelum perlawanan dapat diorganisasi. Keberhasilan ini diungkapkan sendiri oleh Donald Trump melalui unggahan di media sosialnya.

Sebelum serangan udara dimulai, Amerika telah melakukan pengepungan total di wilayah laut Karibia. Armada besar dengan lebih dari 11 kapal perang, termasuk kapal induk USS Gerald R. Ford, menghalangi jalur logistik Venezuela. Ini menjadikan Venezuela dalam posisi terjepit tanpa akses pasokan militer.

Kritik Terhadap Langkah AS

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, Dino Patti Djalal, mengutuk tindakan AS tersebut. Dalam unggahannya di media sosial X, dia menegaskan bahwa serangan militer dan penangkapan Maduro menandai berakhirnya supremasi hukum internasional. Menurutnya, tindakan itu mencerminkan “hukum rimba” di mana negara kuat merasa bebas mengintervensi negara lain seenaknya.

Dino juga mengajak masyarakat internasional, terutama Dewan Keamanan PBB, negara-negara G7, serta Amerika Latin dan Indonesia, untuk menunjukkan sikap tegas. Dia menilai hal ini sebagai ujian bagi praktik politik luar negeri bebas aktif yang berpegang pada prinsip kedaulatan dan perdamaian dunia.

Keunggulan Teknologi Militer AS

Perbedaan kekuatan militer menjadi faktor kunci keberhasilan operasi tersebut. Militer Venezuela tak mampu menandingi teknologi stealth dan persenjataan terbaru AS. Pertahanan udara Venezuela runtuh dengan cepat tanpa perlawanan berarti, meski semangat personelnya tinggi.

Penguasaan teknologi tempur mutakhir ini jelas membuat dunia melihat ketidakseimbangan kekuatan di kawasan Amerika Latin. Hal ini menimbulkan kekhawatiran atas semakin berlakunya pendekatan kekuatan brutal dibandingkan penyelesaian diplomatik.

Reaksi Internasional terhadap Invasi Venezuela

Reaksi dunia sangat beragam setelah berita penangkapan Maduro tersebar luas. Pemerintah China mengutuk keras operasi tersebut dan menyebutnya pelanggaran hukum internasional. China meminta agar AS segera membebaskan Maduro dan menghentikan upaya menggulingkan pemerintah Venezuela secara paksa.

Sementara itu, Indonesia mengambil sikap yang lebih moderat namun tegas. Pemerintah RI mendorong penyelesaian masalah melalui jalur diplomasi. Jakarta menegaskan pentingnya menghormati Piagam PBB dan kedaulatan hukum internasional sebagai landasan hubungan antarnegara.

Fakta Penting Mengenai Penangkapan Maduro

  1. Operasi militer berlangsung sangat cepat dan terkoordinasi dalam waktu sekitar 30 menit.
  2. Tuduhan utama AS adalah bahwa Maduro memimpin jaringan narkoba internasional yang memasok kokain ke wilayah AS.
  3. Blokade laut di Karibia memperkuat keberhasilan serangan dengan memutus jalur suplai musuh.
  4. Kemampuan teknologi militer canggih AS membuat pertahanan Venezuela dapat diatasi tanpa banyak hambatan.
  5. Penangkapan memicu reaksi diplomatik global, termasuk kecaman dari beberapa negara besar dan seruan untuk solusi diplomasi.

Peristiwa ini membuka babak baru dalam bagaimana intervensi militer antarbenua dilakukan dan menimbulkan pertanyaan tentang masa depan supremasi hukum internasional. Dunia kini menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas dan aturan dalam hubungan global, terutama dengan tindakan agresif negara-negara maju terhadap pemerintahan yang berseberangan kepentingan.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button