FSI Kupas Tren Rebahan sebagai Fenomena Sosial dan Gaya Hidup di Tiongkok

Fenomena gaya hidup rebahan atau yang populer disebut dengan istilah tangping kini menjadi topik hangat dalam dinamika sosial di Tiongkok. Istilah ini menggambarkan pilihan sebagian warga, terutama generasi muda dan kelas menengah, untuk menghindari tekanan kerja berlebihan dan persaingan hidup yang semakin ketat.

Forum Sinologi Indonesia (FSI) bersama Program Pascasarjana Ilmu Sosial Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) membahas fenomena ini dalam seminar bertajuk From Taojin To Tangping: Southeast Asia, Chinese Migration, and the Waves of China’s Re-globalisation. Sinolog Prof. Dr. Pal Nyiri menyoroti bahwa tangping muncul sebagai respon terhadap perubahan sosial-ekonomi di China dalam beberapa dekade terakhir.

Tekanan hidup di pusat-pusat kota besar di Tiongkok sangat tinggi, mulai dari kompetisi kerja hingga biaya hidup yang meningkat pesat. Banyak individu memilih meninggalkan pusat kota menuju kota kecil dengan tekanan ekonomi dan sosial yang lebih ringan. Tidak sedikit pula yang melakukan migrasi ke luar negeri untuk mencari keseimbangan hidup yang lebih baik, tidak hanya dari segi ekonomi tetapi juga sosial dan keluarga.

Fenomena tangping terkait erat pula dengan pola migrasi baru yang dikenal sebagai xinyimin. Migrasi ini tidak semata didorong oleh alasan ekonomi, melainkan juga oleh keinginan membangun kehidupan yang lebih harmonis dan bermakna. Hal ini menunjukkan penyesuaian sosial terhadap realitas ekonomi-politik yang dinamis di Tiongkok sejak reformasi ekonomi pada 1978.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UPH, Prof. Edwin M. B. Tambunan, menegaskan bahwa gaya hidup rebahan ini melambangkan perubahan sikap generasi muda terhadap konsep kesuksesan. Mereka menolak untuk terus-menerus terperangkap dalam definisi kesuksesan konvensional yang menuntut kerja keras tanpa henti. Sebaliknya, mereka melakukan resistensi pasif terhadap narasi dominan yang menekankan produktivitas dan kemajuan materi.

Pandemi Covid-19 yang menerapkan kebijakan penguncian ketat juga memperparah kondisi mental sebagian masyarakat. Periode ini mendorong refleksi mendalam tentang apa yang sebenarnya menjadi prioritas hidup dan definisi kesejahteraan yang diinginkan. Dengan demikian, tangping bukan sekadar fenomena sosial, tetapi juga cerminan dari krisis psikologis dan eksistensial yang luas.

Ketua Forum Sinologi Indonesia, Johanes Herlijanto, menambahkan bahwa kajian tentang gaya hidup rebahan ini penting untuk memahami keberagaman masyarakat Tiongkok yang tidak homogen. Perubahan sosial yang terjadi menunjukkan bahwa pandangan dan perilaku warga Tiongkok sangat dinamis dan terus berevolusi sesuai perkembangan zaman.

Beberapa poin penting terkait fenomena tangping yang didiskusikan FSI adalah sebagai berikut:

  1. Tangping sebagai bentuk penyesuaian sosial terhadap tekanan ekonomi dan politik yang berat.
  2. Migrasi ke kota kecil atau luar negeri sebagai strategi mencari kualitas hidup yang lebih baik.
  3. Resistensi generasi muda terhadap paradigma kerja keras ekstrem demi kemajuan status sosial.
  4. Dampak pandemi Covid-19 sebagai pemicu refleksi ulang atas makna kesejahteraan.
  5. Keberagaman respon masyarakat Tiongkok terhadap perubahan sosial yang kompleks.

Dengan demikian, fenomena tangping menggambarkan transformasi sosial besar di Tiongkok yang mengubah cara pandang generasi muda terhadap kehidupan, kerja, dan kesuksesan. Fenomena ini juga membuka ruang kajian untuk memahami bagaimana gaya hidup baru berkembang dalam konteks globalisasi dan perubahan sosial yang terjadi di Asia Timur saat ini.

Exit mobile version