Sudan kini menghadapi krisis pengungsian internal terbesar di dunia, dengan sekitar 14 juta orang terpaksa meninggalkan rumahnya. Menurut data UNHCR, jumlah pengungsi internal ini menjadikan Sudan sebagai pusat perhatian kemanusiaan global saat ini.
Di tengah tren global penurunan jumlah pengungsi sebesar 5,9 juta, Sudan justru mengalami lonjakan yang signifikan. Konflik bersenjata antara militer Sudan dan Rapid Support Forces sejak April 2023 memperparah situasi, menyebabkan kerusakan luas pada infrastruktur di seluruh wilayah Sudan.
Kondisi Regional yang Memprihatinkan
Selain Sudan, wilayah Timur Tengah juga mencatat angka pengungsian tinggi. Gaza menjadi salah satu area paling terdampak dengan hampir dua juta penduduk yang kehilangan tempat tinggal akibat serangan Israel sejak Oktober 2023. Direktur media UNRWA, Adnan Abu Hasna, menyatakan bahwa 90 persen infrastruktur Gaza hancur, sehingga kembalinya kehidupan normal hampir tidak mungkin.
Selain itu, Syria dan Yaman juga masih mencatat jumlah pengungsi internal besar, masing-masing dengan 12 juta dan lebih dari 5 juta orang. Konflik berkepanjangan di negara-negara ini terus memicu perpindahan penduduk secara paksa.
Fenomena Kembalinya Warga ke Khartoum
Setelah pemerintah Sudan kembali beroperasi dari ibu kota Khartoum, ada tanda-tanda pemulihan yang mendorong warga pulang. Adel El-Baz, Direktur African Centre for Consulting, menyatakan bahwa kembalinya pemerintah di Khartoum menjadi undangan langsung untuk warga kembali. Major-General Osama Abdel Salam menilai kepulangan warga membantu meningkatkan keamanan di kawasan yang sempat terbengkalai.
Pemerintah menghabiskan waktu lebih dari setahun untuk membersihkan reruntuhan, mengangkat tubuh dan kendaraan terbakar, serta memulihkan layanan dasar seperti air dan listrik. Saad El-Din El-Tayeb, juru bicara Pemerintah Khartoum, mengungkapkan bahwa kerusakan listrik terparah dalam sejarah kota ini terjadi akibat pencurian sekitar 15.000 trafo listrik dan kabel tembaga bawah tanah.
Meskipun demikian, listrik saat ini dialokasikan untuk fasilitas penting seperti rumah sakit dan stasiun air, dengan dorongan menggunakan energi surya untuk mengatasi keterbatasan.
Kembalinya Warga Didorong oleh Rindu
Banyak pengungsi kembali bukan karena kondisi ideal, melainkan dorongan emosional. Rimah Hamed, dokter gigi dan jurnalis yang sempat mengungsi ke Mesir, menyatakan bahwa kenangan dan rasa rindu rumah menjadi motivasi utama pulang. Kondisi rumahnya kosong dan tanpa fasilitas, namun suasana sosial di lingkungan mulai bangkit kembali seiring kembalinya tetangga.
Komunitas pengungsi ini mengembangkan ketahanan psikologis terhadap keterbatasan dan berinisiatif menciptakan solusi bersama untuk mengatasi kekurangan air dan listrik.
Syarat Utama untuk Kembalinya yang Berkelanjutan
Para ahli sepakat bahwa keamanan adalah prasyarat utama bagi pengungsi untuk kembali secara permanen. Tom Ndahiro, peneliti genosida Rwanda, mengemukakan bahwa persepsi relatif aman adalah kebutuhan dasar agar warga mampu bertahan.
Berikut kebutuhan penting yang harus dipenuhi agar proses pemulangan sukses:
- Keamanan: Kepemimpinan yang dipercaya untuk mengatur pemukiman dan mencegah kekacauan.
- Tempat Tinggal: Struktur sementara seperti tenda yang aman.
- Kebutuhan Pokok: Pangan dan akses air bersih harus tersedia.
- Listrik: Faktor krusial untuk stabilitas ekonomi dan layanan dasar.
Jurnalis Rami Mahkar menekankan bahwa tanpa keamanan, pengungsi terpaksa pindah lagi. Fungsi toko dan akses bahan kebutuhan juga sangat penting agar warga dapat membangun kembali kehidupan mereka.
Dengan situasi Sudan yang terus berupaya mengatasi krisis pengungsian terbesar di dunia, keberlanjutan kembalinya warga masih harus diuji waktu. Semangat dan ketangguhan para pengungsi saat ini menjadi harapan untuk membangun kembali apa yang telah hancur akibat perang.
